Oleh: Setyo Budiyono, S.Pd.
Kepala SMP Negeri 1 Kalibawang
Kabupaten Kulonprogo
PENDIDIKAN karakter sering kali terjebak dalam rutinitas. Murid mengikuti kegiatan, membaca pesan moral, mengumpulkan donasi, atau menjalankan berbagai program sekolah. Semua tampak baik. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah mereka sungguh belajar dari semua itu?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pendidikan tidak cukup hanya membuat murid mengetahui mana yang baik dan buruk. Pendidikan semestinya membantu mereka mengalami kebaikan, mempraktikkannya, memahami alasannya, lalu membawa pengalaman itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
Di titik inilah kegiatan sederhana seperti Jumat Berkah sebenarnya memiliki potensi pendidikan yang besar.
Di SMP Negeri 1 Kalibawang, Jumat Berkah tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai kegiatan mengumpulkan infak dan membagikan bantuan. Kegiatan tersebut dikembangkan menjadi ruang belajar yang memungkinkan murid terlibat sejak awal: mengumpulkan infak, bermusyawarah, menentukan penerima manfaat, mengambil keputusan, melaksanakan aksi sosial, dan melakukan refleksi.
Dengan cara pandang semacam itu, kegiatan sosial tidak berhenti pada pertanyaan berapa rupiah yang terkumpul atau berapa paket sembako yang dibagikan. Yang jauh lebih penting adalah apa yang dipelajari murid dari seluruh proses tersebut.
Dari Rutinitas Menjadi Pengalaman
Pembiasaan memang penting dalam pendidikan karakter. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang berpeluang menjadi kebiasaan. Akan tetapi, pembiasaan tanpa pemaknaan dapat berubah menjadi rutinitas yang dilakukan sekadar karena perintah.
Murid akhirnya terbiasa melakukan sesuatu, tetapi belum tentu memahami mengapa mereka melakukannya.
Karena itu, pembiasaan perlu dipertemukan dengan pengalaman belajar. Murid perlu diberi ruang untuk bertanya, berpikir, berdiskusi, menentukan pilihan, bertindak, dan mengevaluasi tindakan tersebut.
Jumat Berkah menjadi salah satu contoh sederhana dari pendekatan itu.
Dalam pelaksanaan perdana pada 24 dan 31 Juli 2026, seluruh 288 murid kelas VII, VIII, dan IX dilibatkan. Dana infak yang terkumpul mencapai Rp1.040.000. Setelah melalui musyawarah, murid menyepakati bahwa dana tersebut digunakan untuk membeli sembako bagi 13 teman di sekolah yang kurang mampu dan/atau anak yatim piatu.
Angka-angka tersebut memang penting sebagai bukti bahwa kegiatan terlaksana. Namun, nilai pendidikan sesungguhnya justru berada di balik angka tersebut.
Ada proses ketika murid harus mendengarkan pendapat teman. Ada perbedaan pandangan yang harus dihargai. Ada keputusan yang harus disepakati bersama. Ada tanggung jawab untuk melaksanakan keputusan. Dan ada pengalaman ketika murid melihat bahwa apa yang mereka lakukan ternyata memberikan manfaat kepada orang lain.
Di situlah kegiatan berbagi berubah menjadi pembelajaran.
Musyawarah Mengajarkan Demokrasi
Barangkali selama ini kita terlalu sering mengajarkan nilai melalui definisi.
Murid diberi tahu tentang pentingnya toleransi, kepedulian, tanggung jawab, gotong royong, dan demokrasi. Namun, nilai-nilai tersebut akan lebih kuat apabila murid mengalaminya secara langsung.
Musyawarah dalam Jumat Berkah, misalnya, menjadi laboratorium kecil kehidupan demokratis.
Murid belajar bahwa pendapat pribadi tidak selalu menjadi keputusan bersama. Mereka belajar menyampaikan gagasan sekaligus mendengarkan orang lain. Mereka belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling meniadakan. Mereka juga belajar bahwa keputusan bersama membawa konsekuensi berupa tanggung jawab bersama.
Pembelajaran seperti ini mungkin tidak selalu menghasilkan sesuatu yang langsung terlihat dalam nilai rapor. Namun, justru kemampuan semacam inilah yang akan dibutuhkan murid ketika mereka hidup sebagai bagian dari masyarakat.
Sekolah bukan hanya tempat mempersiapkan murid menghadapi ujian. Sekolah juga tempat mereka belajar menjadi manusia yang mampu hidup bersama.
Pembelajaran Mendalam Tidak Harus Rumit
Istilah Pembelajaran Mendalam kerap dipahami sebagai sesuatu yang kompleks dan harus berlangsung di dalam kelas dengan perangkat pembelajaran yang rumit.
Padahal, esensinya dapat ditemukan dalam aktivitas sederhana, sepanjang aktivitas tersebut dirancang secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Jumat Berkah menunjukkan kemungkinan tersebut.
Murid tidak sekadar diminta memberikan infak. Mereka diajak memahami tujuan berbagi. Mereka kemudian terlibat dalam menentukan siapa yang membutuhkan bantuan. Setelah itu, mereka menyaksikan bagaimana hasil kontribusi bersama diwujudkan menjadi bantuan nyata.
Pengalaman tersebut membuat pembelajaran menjadi bermakna karena berhubungan langsung dengan kehidupan mereka.
Pembelajaran juga menjadi berkesadaran karena murid memahami alasan di balik tindakan yang dilakukan. Sementara aspek menggembirakan muncul karena mereka memperoleh kesempatan untuk terlibat, berbicara, bekerja bersama, dan melihat hasil dari tindakan kolektif mereka.
Dengan demikian, pembelajaran mendalam tidak selalu membutuhkan kegiatan yang besar. Bahkan, kegiatan sederhana dapat menjadi pembelajaran yang mendalam ketika murid diberi kesempatan untuk mengalami dan merefleksikannya.
Karakter Tumbuh dari Pengalaman
Ada satu hal yang sering dilupakan dalam pendidikan karakter: karakter tidak dapat dibentuk hanya dengan ceramah.
Kepedulian, misalnya, tidak cukup dijelaskan melalui pengertian. Murid perlu mengalami situasi ketika mereka melihat orang lain membutuhkan pertolongan dan kemudian mengambil bagian dalam membantu.
Begitu pula dengan tanggung jawab. Nilai tersebut akan lebih kuat ketika murid diberi kesempatan mengambil keputusan dan kemudian bertanggung jawab terhadap keputusan itu.
Dalam Jumat Berkah, pengalaman semacam itu mulai terlihat.
Sejumlah murid menyampaikan rasa senang dan bersyukur karena dapat berbagi dengan orang yang lebih membutuhkan. Murid lainnya menyatakan komitmen untuk menjadi lebih peduli, menolong sesama, dan saling membantu.
Pernyataan tersebut tentu belum dapat dijadikan bukti bahwa karakter mereka telah berubah secara permanen. Pelaksanaan baru berlangsung dalam satu siklus sehingga diperlukan pengamatan yang lebih panjang.
Namun, setidaknya ada sesuatu yang penting: murid mulai menghubungkan sebuah aktivitas dengan makna personal. Mereka tidak hanya melakukan kegiatan, tetapi mulai memikirkan apa arti kegiatan tersebut bagi dirinya dan orang lain.
Dalam pendidikan, proses seperti inilah yang layak dirawat.
Guru Pun Harus Mau Belajar
Transformasi pembelajaran tidak hanya menuntut perubahan pada murid. Guru juga harus berubah.
Dalam kegiatan semacam ini, guru tidak cukup menjadi pemberi instruksi. Guru perlu mengambil peran sebagai pendamping yang membantu murid menjalani proses belajar.
Guru belajar bagaimana menuntun murid bermusyawarah. Guru belajar kapan harus memberikan arahan dan kapan harus memberi ruang kepada murid untuk menentukan pilihan sendiri.
Perubahan ini penting karena pendidikan karakter pada dasarnya bukan proses memindahkan nilai dari kepala orang dewasa ke kepala anak. Pendidikan karakter adalah proses membangun pengalaman yang memungkinkan murid menemukan, memahami, dan mempraktikkan nilai tersebut.
Kepala sekolah pun memiliki peran yang tidak kalah penting. Kepemimpinan pendidikan bukan sekadar memastikan program berjalan sesuai jadwal. Kepemimpinan seharusnya mendorong warga sekolah bertanya kembali: apakah kegiatan yang selama ini kita lakukan benar-benar memberikan pengalaman belajar bagi murid?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi awal perubahan yang besar.
Jangan Ukur Keberhasilan dari Uang
Ada risiko ketika kegiatan sosial di sekolah hanya diukur dari jumlah dana yang berhasil dikumpulkan.
Jika ukurannya semata-mata nominal, murid dapat belajar pesan yang keliru: semakin banyak uang terkumpul, semakin berhasil kegiatan tersebut.
Padahal, inti pendidikan karakter bukan pada besarnya dana, melainkan pada tumbuhnya kesadaran.
Dalam konteks Jumat Berkah, Rp1.040.000 bukanlah ukuran utama keberhasilan. Yang lebih penting adalah bagaimana uang tersebut menjadi media pembelajaran tentang kepedulian, tanggung jawab, kolaborasi, komunikasi, penalaran kritis, kemandirian, kewargaan, serta keimanan dan ketakwaan.
Bahkan, kegiatan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan delapan dimensi profil lulusan secara terpadu.
Murid belajar beriman melalui kepedulian terhadap sesama. Mereka belajar menjadi warga komunitas sekolah yang bertanggung jawab. Mereka menggunakan penalaran ketika menentukan sasaran bantuan. Mereka belajar berkomunikasi dan berkolaborasi ketika bermusyawarah. Mereka belajar mandiri ketika menjalankan peran masing-masing.
Semua itu terjadi dalam sebuah kegiatan yang pada awalnya tampak sederhana.
Dari Berbagi Menuju Budaya Sekolah
Tantangan berikutnya adalah menjaga agar Jumat Berkah tidak berhenti sebagai sebuah program.
Sebab, program dapat selesai ketika jadwal berakhir. Budaya tidak.
Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus direncanakan, dilaksanakan, direfleksikan, diperbaiki, dan dilaksanakan kembali. Siklus tersebut penting agar sekolah tidak sekadar memiliki kegiatan pembiasaan, tetapi membangun budaya belajar yang terus berkembang.
Refleksi menjadi bagian yang sangat penting dalam proses tersebut.
Murid perlu diajak bertanya: Apa yang saya rasakan? Apa yang saya pelajari? Apa yang berubah dalam cara pandang saya? Apa yang akan saya lakukan setelah kegiatan ini selesai?
Guru juga perlu melakukan refleksi: Apakah pendampingan yang dilakukan sudah memberi ruang bagi murid? Apakah guru terlalu banyak mengarahkan? Apakah semua murid memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi?
Sementara itu, sekolah perlu bertanya lebih jauh: apakah kegiatan ini benar-benar membangun karakter atau hanya menambah daftar program?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat sekolah menjadi organisasi pembelajar, bukan sekadar pelaksana program.
Kebaikan yang Dihidupkan
Pada akhirnya, pendidikan karakter bukan tentang seberapa banyak slogan kebaikan yang terpampang di dinding sekolah. Karakter tumbuh ketika kebaikan memperoleh ruang untuk dipraktikkan.
Jumat Berkah memberi pelajaran bahwa kegiatan sederhana dapat menjadi sarana pendidikan yang kuat ketika murid dilibatkan secara utuh.
Mereka tidak hanya menjadi pelaksana. Mereka menjadi bagian dari proses berpikir, menentukan pilihan, bertindak, dan merefleksikan pengalaman.
Dari sana, muncul sebuah pelajaran penting bagi sekolah: pembiasaan tidak boleh berhenti pada pengulangan. Pembiasaan harus bergerak menuju kesadaran.
Kesadaran kemudian perlu diwujudkan menjadi tindakan. Tindakan perlu direfleksikan. Dan refleksi perlu melahirkan perbaikan.
Mungkin inilah makna terdalam dari pendidikan. Bukan sekadar membuat murid mengetahui arti kebaikan, melainkan memberi mereka cukup pengalaman untuk menghidupkan kebaikan dalam kehidupan bersama.
Sebab, pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat anak belajar menjawab pertanyaan dalam buku. Sekolah adalah tempat mereka belajar menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting: ketika orang lain membutuhkan, apa yang akan saya lakukan? (*)