*Rangkaian Munas VI Kafapet

PURWOKERTO, EDUKATOR–Moderator Kafapet Talks, Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom atau yang akrab disapa Doktor Enha menantang empat narasumber meninggalkan satu cerita dan gagasan kuat hanya dalam waktu delapan menit.
Format singkat dan dinamis itu menjadi ciri Keluarga Alumni Fakultas Peternakan/Kafapet Talks 2026 yang menghadirkan pengalaman, tantangan, peluang, dan aspirasi alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) untuk masa depan peternakan Indonesia.
Kafapet Talks digelar sebagai salah satu rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VI Kafapet Unsoed 2026, Sabtu (5/9/2026), di Fakultas Peternakan Unsoed, Purwokerto. Mengusung tema “Inspirasi dan Aspirasi Alumni Fapet Unsoed untuk Negeri”, forum tersebut dikemas dalam bentuk inspirational talk yang ringan, komunikatif, dan inspiratif.
Berbeda dengan seminar formal, para pembicara tidak dituntut menyampaikan paparan ilmiah panjang. Mereka diberi ruang untuk menceritakan perjalanan karier, pengalaman menghadapi tantangan, pelajaran yang diperoleh, hingga gagasan bagi pengembangan alumni, fakultas, dan sektor peternakan Indonesia.
Empat Perspektif dalam Satu Forum
Kafapet Talks menghadirkan empat narasumber dengan latar belakang berbeda. Keragaman pengalaman tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih luas mengenai dunia peternakan, kewirausahaan, jejaring alumni, serta perkembangan pendidikan peternakan.
Amin Suyono, S.Pt., Technical Manager Cobb-Vantress Asia Pacific, berbagi pengalaman mengenai perjalanan karier di industri peternakan hingga tingkat internasional. Ia juga mengangkat dinamika industri perunggasan serta kompetensi yang perlu dipersiapkan alumni dan generasi muda agar mampu bersaing di dunia kerja global.
Perspektif dunia usaha disampaikan Ir. Nurcahyo Megantoro, peternak ayam petelur. Pengalamannya membangun dan mempertahankan usaha menjadi gambaran mengenai tantangan sekaligus peluang yang masih terbuka di sektor peternakan.
Sementara itu, Andi Haryono, S.Pt. membawa perspektif entrepreneurship, organisasi, dan pentingnya membangun jejaring. Menurut gagasan yang diangkat dalam forum tersebut, jaringan alumni dapat dikembangkan untuk membuka akses terhadap peluang kerja, usaha, investasi, kerja sama, dan berbagai bentuk kolaborasi.
Adapun perspektif institusi disampaikan Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Ir. Novie Andri Setianto, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. Ia mengangkat perkembangan Fapet Unsoed, tantangan pendidikan peternakan, kebutuhan kompetensi lulusan masa depan, serta pentingnya memperkuat sinergi antara fakultas dan alumni.
Delapan Menit untuk Pesan yang Berkesan
Doktor Enha mengatakan format delapan menit dirancang agar setiap narasumber fokus pada cerita dan gagasan utama.
“Kafapet Talks mengutamakan cerita dan gagasan yang membekas,” ujar Enha.
Menurut dia, keterbatasan waktu justru membuat pesan yang disampaikan menjadi lebih tajam. Pengalaman nyata para alumni juga memiliki kekuatan tersendiri karena tidak selalu ditemukan di ruang kelas.
“Kami ingin mendengar perjalanan, tantangan, kegagalan, dan pembelajarannya,” katanya.
Melalui forum tersebut, alumni tidak hanya berbicara mengenai keberhasilan. Pengalaman menghadapi tantangan dan kegagalan juga menjadi bagian penting yang dapat dipelajari generasi muda.
Alumni Didorong Menjadi Ekosistem Peluang
Kafapet Talks juga membawa gagasan agar organisasi alumni berkembang lebih jauh dari sekadar ruang silaturahmi. Alumni Fapet Unsoed yang tersebar di berbagai sektor dinilai menjadi modal besar untuk membangun jejaring yang produktif.
Jejaring tersebut dapat mempertemukan alumni senior dengan generasi muda sebagai mentor, pelaku industri dengan mahasiswa melalui peluang magang dan pekerjaan, serta pengusaha alumni dengan mitra usaha dan investor.
“Kafapet harus menjadi jaringan peluang dan pengetahuan,” ujarnya.
Dalam konsep tersebut, alumni dapat berperan sebagai sumber pengalaman, kompetensi, jejaring, dan peluang. Fakultas juga dapat memperkuat kolaborasi dengan alumni dalam pendidikan, riset, inovasi, dan pengembangan mahasiswa.
Dengan demikian, jaringan alumni diharapkan mampu mempertemukan talenta dengan peluang, pengusaha dengan investor, mahasiswa dengan mentor, serta kampus dengan industri.
Kompetensi dan Kolaborasi Hadapi Masa Depan
Forum tersebut juga menyoroti perubahan yang berlangsung cepat di sektor peternakan. Transformasi digital, kecerdasan buatan, otomasi, data, precision livestock farming, tuntutan keberlanjutan, perubahan pasar, serta kompetisi global menjadi tantangan yang harus diantisipasi.
Kompetensi teknis tetap menjadi fondasi. Namun, mahasiswa dan alumni juga perlu mengembangkan komunikasi, kepemimpinan, entrepreneurship, literasi digital, bahasa asing, jejaring, kemampuan memecahkan masalah, dan adaptasi.
Dalam kondisi tersebut, Kafapet diharapkan dapat menjadi jembatan antara pengalaman alumni, kebutuhan mahasiswa, perkembangan fakultas, dan kebutuhan industri.
Menangkap Aspirasi untuk Kafapet
Selain memberikan inspirasi, Kafapet Talks menjadi ruang untuk menangkap aspirasi alumni menjelang periode kepengurusan Kafapet berikutnya. Aspirasi tersebut menjadi salah satu tujuan utama kegiatan sebagaimana tercantum dalam TOR.
Pada akhir sesi, seluruh narasumber diminta menjawab pertanyaan yang sama: “Apa satu harapan atau gagasan yang ingin dititipkan untuk Kafapet ke depan?”
Jawaban para narasumber diharapkan menjadi bahan pemikiran dalam penyusunan program kepengurusan Kafapet selanjutnya.
Forum tersebut sekaligus menegaskan bahwa organisasi alumni memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ekosistem kolaborasi yang memberikan manfaat bagi alumni, mahasiswa, fakultas, masyarakat, dan sektor peternakan.
Inspirasi Harus Berujung pada Aksi
Menutup sesi, Doktor Enha merangkum empat kata kunci yang mengemuka dalam Kafapet Talks, yakni kompetensi, entrepreneurship, networking, dan kolaborasi.
Menurut dia, tantangan setelah Munas bukan sekadar menghasilkan gagasan. Berbagai gagasan tersebut harus diterjemahkan menjadi program dan aksi nyata.
“Inspirasi harus diubah menjadi aksi dan kolaborasi,” tegasnya.
Kafapet Talks membawa pesan bahwa keberhasilan alumni tidak hanya diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah setelah meninggalkan kampus.
Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari seberapa besar pengalaman, jejaring, dan pencapaian tersebut dapat kembali memberikan manfaat bagi almamater, masyarakat, dan bangsa. (*/Prasetiyo)