
SEMARANG, EDUKATOR–Penguatan literasi dan numerasi harus dimulai dari guru sebagai penggerak utama di lingkungan sekolah. Guru tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan membaca dan berhitung kepada murid, tetapi juga perlu menunjukkan semangat belajar yang sama.
Hal tersebut disampaikan praktisi pendidikan Tukijo, S.Pd., M.Pd., dalam kegiatan In House Training (IHT) di SMPIT Mutiara Hati Semarang, Sabtu (5/9/2026). Tukijo memiliki perhatian dan pengalaman dalam pengembangan pembelajaran. Ia aktif sebagai Narapendamping Digitalisasi Pembelajaran Kemendikdasmen sekaligus Duta Teknologi Jawa Tengah.
Kegiatan IHT tersebut mengusung tema “Penguatan Literasi dan Numerasi Satuan Pendidikan untuk Pembelajaran Berkualitas dan Mendalam.” Kegiatan diikuti SMPIT Mutiara Hati Semarang sebagai tuan rumah bersama SMP Negeri 44 Semarang, SMP IT Bina Amal, dan SMP Hasanuddin 5 Kota Semarang.
Keempat sekolah tersebut merupakan penerima bantuan BOS Kinerja (BOS Kin) dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sekolah penerima BOS Kinerja merupakan satuan pendidikan yang dinilai memiliki kinerja baik atau capaian prestasi dalam mengoptimalkan mutu layanan pendidikan.
Hadir dalam kesempatan tersebut, perwakilan Dinas Pendidikan Kota Semarang, Fajriah, S.Pd., M.Pd., selaku Subkoordinator Kurikulum dan Penilaian Sekolah Menengah Pertama. Hadir pula Masrikan, S.Pd., M.Si., pengawas Dinas Pendidikan Sekolah Menengah Pertama.
Menurut Tukijo yang juga guru SMPN 17 Semarang yang juga mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa UNNES ini, budaya literasi dan numerasi akan lebih mudah tumbuh apabila lingkungan belajar dan para pendidiknya memiliki semangat yang sama.
“Dengan demikian, penguatan kedua kemampuan tersebut tidak hanya berdampak pada perkembangan murid, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah,” tegas Tukijo.
Guru Menjadi Teladan Budaya Belajar
Tukijo juga mengajak peserta melakukan brainstorming mengenai pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah. Para peserta diajak merefleksikan sejauh mana program literasi yang telah dilakukan benar-benar memberikan dampak terhadap proses pembelajaran.
Menurutnya, literasi dan numerasi tidak semestinya hanya dipahami sebagai kegiatan membaca atau berhitung. Keduanya perlu diarahkan untuk membantu murid berpikir, memahami persoalan, serta menggunakan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
“Guru harus menjadi teladan dalam budaya belajar,” ujarnya.
Gagasan tersebut sejalan dengan jargon kegiatan, yakni “Penguatan Literasi dan Numerasi: Membaca untuk Berpikir, Berhitung untuk Bertindak.”
Jargon tersebut menjadi napas utama kegiatan untuk mendorong sekolah membangun tradisi literasi dan numerasi yang lebih bermakna. Kemampuan membaca dan berhitung diharapkan tidak berhenti sebagai keterampilan akademik, tetapi dapat diterapkan dalam berbagai situasi kehidupan.
Dari Nilai Menuju Manfaat Kehidupan
IHT tersebut menjadi ruang bagi sekolah untuk mengevaluasi sekaligus mengembangkan praktik literasi dan numerasi yang telah berjalan.
Kegiatan tidak diarahkan semata-mata untuk mengejar capaian nilai akademik yang lebih tinggi. Lebih dari itu, sekolah didorong memastikan pengetahuan yang diperoleh murid dapat memberikan manfaat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penguatan literasi dan numerasi juga membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah. Guru berperan penting menciptakan lingkungan belajar yang mendorong murid untuk membaca, berpikir, berlatih, dan menggunakan pengetahuan secara nyata.
Melalui IHT tersebut, empat sekolah peserta diharapkan dapat bergerak bersama membangun budaya literasi dan numerasi. Semangat “Bergerak Bersama, Bertumbuh Seirama” pun menjadi penguat agar tradisi belajar terus tumbuh dan pembelajaran semakin berkualitas serta mendalam.
Sekolah Negeri dan Swasta Berpeluang Unggul
Sementara itu, Subkoordinator Kurikulum dan Penilaian Sekolah Menengah Pertama Dindik Kota Semarang Fajriah dalam sambutannya mengatakan, sekolah negeri maupun swasta memiliki peluang yang sama untuk berkembang menjadi sekolah unggul.
“Sekolah negeri dan swasta memiliki peluang menjadi unggul,” ujarnya.
Menurut Fajriah, penguatan literasi dan numerasi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di satuan pendidikan. (Prasetiyo)