
Bangun Pracoyo, S.Pd, M.Pd (paling kiri, baju biru), alumni SMPN 3 Purbalingga tahun 1985 bersama narasumber lainnya dan panitia HUT Emas SMPN 3 Purbalingga tahun 2026.
PURBALINGGA, EDUKATOR–41 tahun sejak lulus dai SMPN 3 Purbalingga tahun 1985, Bangun Pracoyo, S.Pd., M.Pd., kembali ke SMP Negeri 3 Purbalingga sebagai alumni berprestasi nasional. Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga itu berbagi pengalaman perjalanan hidup dan pendidikan di hadapan 256 murid kelas 7 dalam kegiatan Alumni Mengajar, Sabtu (5/9/2026).
Bangun merupakan salah satu narasumber dalam rangkaian HUT ke-50 SMP Negeri 3 Purbalingga. Narasumber lainnya Saefuddin (1991, wirausahaa, Bilal Syaefullah,S,Psi(2017, guru) dan Muhammad Shauma Razak, S.Psi. (2017, wirausaha).
Dari Alumni Menjadi Pengawas Berprestasi Nasional
Bangun bukan pengawas sekolah biasa. Ia memiliki sederet prestasi tingkat nasional dalam bidang pendidikan.
Di antaranya, Juara Best Practice Tingkat Nasional Pengawas Sekolah, Peserta Terbaik Karya Tulis Kategori Kekinian dalam Simposium Nasional Kemdikbud, serta Juara Tingkat Nasional Pengawas Sekolah Berprestasi dan Berdedikasi.
Selain menjalankan tugas sebagai pengawas sekolah, Bangun juga dipercaya menjalankan berbagai tugas tambahan di tingkat nasional dan provinsi.
Ia pernah menjadi Fasilitator Nasional USAID PRIORITAS dan Fasilitator STEM SEAMOLEC. Ia juga dipercaya menjadi Asesor BAN PDM Jawa Tengah lintas jenjang, mulai PAUD/TK, RA/BA, SD/MI, SMP/MTs, SMA, SMK hingga SPK atau madrasah internasional.
Bangun juga terlibat sebagai Asesor Guru Penggerak, Sekolah Penggerak, serta Fasilitator Sekolah Penggerak. Selain itu, ia menjadi Pengajar Diklat BCKS pada Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru, Kemdikdasmen.
Meski kini memiliki pengalaman panjang dalam dunia pendidikan, perjalanan Bangun bermula dari bangku SMP Negeri 3 Purbalingga.
Sekolah Keren
“SMP Negeri 3 Purbalingga itu keren, sekarang lebih keren,” ujarnya.
Saat pertama masuk sekolah, Bangun berharap dapat belajar, berprestasi, dan mewujudkan cita-citanya.
Kenangan Buah Jarak di Gedung Lama
Salah satu pengalaman yang masih diingat Bangun hingga kini terjadi ketika SMP Negeri 3 Purbalingga masih menempati gedung lama.
Bagian belakang sekolah saat itu berbatasan dengan kali dan kawasan pendopo. Di tepi kali terdapat pohon jarak yang buahnya membuat Bangun dan teman-temannya penasaran.
Mereka melihat buah jarak yang sudah matang berwarna hitam. Karena penasaran, buah tersebut kemudian dibakar dan dimakan.
Menurut Bangun, rasanya gurih dan sekilas menyerupai kacang almond. Namun, mereka baru mengetahui bahwa buah tersebut ternyata dapat menyebabkan mabuk.
“Untung saya makan sedikit, hanya terasa pusing,” ujarnya.
Teman-temannya yang makan dalam jumlah lebih banyak mengalami kondisi lebih berat. Mereka bahkan mabuk hingga muntah-muntah.
Pengalaman sederhana tersebut menjadi salah satu kenangan masa SMP yang masih melekat dalam ingatan Bangun hingga sekarang.
Diterima di SMAN 1 & 2 Purwokerto dan SPGN Purwokerto
Perjalanan Bangun setelah lulus SMP juga penuh dengan pilihan yang menentukan masa depannya.
Ia mengingat bahwa nilai EBTANAS Murni (NEM) pada masa itu cukup baik. Tahun 1985, nilai NEM lulusan SMP Negeri 3 Purbalingga tergolong tinggi.
Dengan NEM yang difotokopi dan dilegalisasi, Bangun mendaftarkan diri ke beberapa sekolah. Ia diterima di SMAN 1 Purbalingga, SMAN 2 Purwokerto, dan SPG Negeri Purwokerto.
Atas arahan ayahnya, Bangun memilih SPG Negeri Purwokerto agar dapat menjadi guru.
Namun, setelah lulus SPG, ia tidak langsung ingin menjadi guru SD. Bangun memilih melanjutkan pendidikan ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, yang kini dikenal sebagai Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Setelah menyelesaikan pendidikan, Bangun menjadi guru PNS di DKI Jakarta. Ia kemudian kembali ke Purbalingga untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan.
Kariernya terus berkembang. Dari guru, ia kemudian dipercaya menjadi kepala sekolah hingga akhirnya menjalankan tugas sebagai pengawas sekolah.
“Saya terus mengabdi melalui dunia pendidikan,” ujarnya.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pilihan pendidikan yang ditempuh sejak remaja dapat menjadi bagian penting dalam membentuk masa depan seseorang.
Pesan 5B untuk Generasi Kelas 7
Kepada murid kelas 7, Bangun berpesan agar mereka menikmati masa SMP. Menurutnya, masa tersebut merupakan pengalaman berharga yang tidak mungkin terulang.
Jika dapat kembali menjadi murid kelas 7, Bangun mengatakan dirinya akan menikmati setiap proses sebagai pelajar.
“Nikmati masa SMP karena tak akan terulang,” ujarnya.
Bangun kemudian memperkenalkan prinsip 5B sebagai bekal bagi murid dalam meraih kesuksesan.
B pertama, Bermimpi. Murid harus berani memiliki cita-cita tinggi dan tidak takut menetapkan tujuan besar.
B kedua, Belajar dan Baca Buku. Kemampuan harus terus ditingkatkan melalui proses belajar dan kebiasaan membaca.
B ketiga, Berlatih. Murid tidak boleh takut salah dan gagal. Kesalahan serta kegagalan merupakan bagian dari proses untuk menjadi lebih baik.
B keempat, Berbuat Baik dan Berbakti kepada Orang Tua serta Guru. Menurut Bangun, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik. Karakter, kepedulian, dan penghormatan kepada orang tua serta guru juga penting.
B kelima, Berdoa dan Beribadah. Setelah berusaha secara maksimal, manusia harus menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
“Berusahalah maksimal, lalu serahkan hasil kepada Tuhan,” ujarnya.
Tak Perlu Membandingkan Diri
Selain 5B, Bangun mengingatkan murid kelas 7 agar tidak membandingkan perjalanan mereka dengan orang lain.
Setiap murid memiliki kemampuan dan proses yang berbeda. Ada yang lebih pintar, lebih cepat berhasil, lebih unggul dalam olahraga, atau lebih percaya diri.
Perbedaan tersebut, kata Bangun, bukan alasan untuk merasa rendah diri. Yang terpenting adalah terus mengalami kemajuan dari waktu ke waktu.
“Hari ini harus lebih baik dari kemarin,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari Alumni Mengajar dalam rangka HUT ke-50 SMP Negeri 3 Purbalingga.
Melalui kisah Bangun Pracoyo, para murid tidak hanya mengenal sosok alumni yang telah meraih prestasi nasional, tetapi juga melihat bahwa keberhasilan dibangun melalui proses panjang, pilihan yang tepat, kerja keras, karakter baik, dan doa. (Prasetiyo)