Jangan Ajarkan Anak Sekadar Memakai AI

Bagikan :

Oleh: Priyanto, S.Pd.I., M.Pd.I.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dindikbud Kabupaten Purbalingga

Kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) telah masuk ke ruang kelas. Anak-anak mengenalnya melalui mesin pencari, aplikasi percakapan, pembuat gambar, penerjemah, hingga berbagai perangkat yang dapat membantu mengerjakan tugas sekolah. Pertanyaannya bukan lagi: apakah sekolah perlu mengenalkan AI? Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: anak-anak kita akan menjadi pengguna AI seperti apa?

Jika AI hanya diajarkan sebagai alat untuk mencari jawaban, membuat tulisan, atau menyelesaikan pekerjaan rumah, sekolah sebenarnya sedang menyiapkan generasi yang pandai menggunakan mesin, tetapi belum tentu pandai berpikir. Di sinilah pendidikan menghadapi tantangan yang sesungguhnya.

Jangan Sampai Teknologi Menggantikan Proses Berpikir
Kita tidak perlu takut pada AI. Tetapi kita juga tidak boleh terlalu cepat mengaguminya. AI dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik. Namun, jawaban cepat tidak selalu merupakan jawaban benar. AI dapat membuat tulisan yang tampak meyakinkan, tetapi informasi di dalamnya tetap harus diperiksa. AI dapat membantu menghasilkan gambar, tetapi manusia tetap harus bertanggung jawab terhadap pesan, nilai, dan dampaknya. Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Aplikasi AI apa yang bisa digunakan?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah penggunaan AI membuat anak semakin mampu berpikir?”

Dalam konteks inilah koding dan kecerdasan artifisial seharusnya ditempatkan. Koding bukan sekadar belajar bahasa pemrograman. AI bukan sekadar belajar menggunakan chatbot. Keduanya dapat menjadi jalan untuk membangun kemampuan berpikir komputasional, literasi digital, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, sekaligus etika.

Pemerintah pun telah menempatkan koding dan AI sebagai bagian dari arah pengembangan pendidikan. Pada jenjang SMP, tantangannya bukan sekadar mengenalkan teknologi, tetapi membangun kemampuan peserta didik untuk memahami, menggunakan, dan mengkritisi teknologi secara bertanggung jawab.

Teknologi Harus Mengikuti Tujuan Belajar
Kabupaten Purbalingga mencoba mengambil posisi yang menurut saya penting: jangan memulai pembelajaran dari teknologi, tetapi dari tujuan pembelajaran.

Guru tidak perlu memaksakan AI pada setiap mata pelajaran atau setiap materi. Dalam Matematika, misalnya, AI dan koding dapat digunakan ketika membantu peserta didik memahami pola, algoritma, data, atau pemecahan masalah. Dalam IPA, teknologi dapat membantu mengolah data eksperimen atau membandingkan berbagai informasi. Dalam Bahasa Indonesia, AI dapat menjadi bahan untuk menguji kemampuan peserta didik dalam menyunting, membandingkan sumber, menemukan kesalahan, dan mempertanggungjawabkan sebuah tulisan. Dalam Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Agama, AI justru dapat menjadi ruang pembelajaran tentang etika, kejujuran, tanggung jawab, bias, dan konsekuensi penggunaan teknologi.

Artinya, tidak semua pembelajaran harus menggunakan AI. Bahkan, kemampuan guru untuk mengatakan “tidak perlu menggunakan AI” ketika teknologi tidak memberikan nilai tambah adalah bagian dari kecakapan pedagogis.

Dari Memakai AI Menjadi Menguji AI
Sekolah perlu menggeser orientasi pembelajaran. Anak tidak cukup diajari bagaimana membuat perintah kepada AI. Mereka perlu belajar mempertanyakan hasilnya.

Apakah informasi ini benar? Dari mana sumbernya? Apakah ada bias? Apakah data pribadi kita aman? Apakah karya ini benar-benar milik kita? Apakah penggunaan AI membantu kita belajar atau justru membuat kita berhenti berpikir?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut justru merupakan inti literasi AI. Karena itu, dalam implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial di SMP Kabupaten Purbalingga, pemanfaatan teknologi diarahkan melalui siklus 5T: Telaah, Tentukan, Terapkan, Taksir, dan Tindaklanjuti.

Guru terlebih dahulu menelaah tujuan pembelajaran, menentukan peluang integrasi, menerapkan pembelajaran, menilai hasilnya, kemudian melakukan tindak lanjut. Teknologi menjadi sarana. Belajar tetap menjadi tujuan.

Guru Tidak Boleh Kalah Oleh Mesin
Kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan guru sesungguhnya perlu dilihat dari perspektif yang berbeda. AI mungkin dapat menjawab pertanyaan. AI mungkin dapat menyusun teks. AI bahkan mungkin dapat membantu membuat rancangan pembelajaran. Tetapi pendidikan bukan sekadar transfer informasi.

Guru membaca ekspresi wajah peserta didik. Guru memahami perubahan emosi anak. Guru mengetahui kapan seorang siswa membutuhkan tantangan, kapan membutuhkan dukungan, dan kapan membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Karena itu, semakin canggih teknologi, semakin penting kualitas kemanusiaan guru.

Guru masa depan bukan guru yang kalah cepat dari AI. Guru masa depan adalah guru yang lebih bijaksana dalam menggunakan AI. Sejumlah pandangan yang berkembang mengenai AI dalam pendidikan juga menegaskan bahwa manusia tetap harus memegang kendali atas pemanfaatan teknologi.

Pendidikan Tidak Boleh Kehilangan Manusia
Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan menghasilkan manusia yang paling cepat menemukan jawaban. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu mengajukan pertanyaan yang baik, membedakan benar dan salah, mempertimbangkan akibat dari keputusan, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Karena itu, ukuran keberhasilan implementasi AI di sekolah jangan hanya ditanyakan dengan kalimat: “Berapa banyak guru dan siswa yang sudah menggunakan AI?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah setelah menggunakan AI, anak-anak kita menjadi lebih kritis, kreatif, mandiri, beretika, dan mampu memecahkan masalah?”

Jika jawabannya ya, teknologi telah menjadi alat pendidikan. Jika tidak, jangan-jangan kita sedang mendidik anak untuk menjadi pelayan teknologi. Masa depan pendidikan bukan pertarungan antara manusia dan mesin. Masa depan pendidikan adalah bagaimana manusia menggunakan kecerdasan mesin tanpa kehilangan kecerdasan, nurani, dan kemanusiaannya sendiri.(*)

 

 

 

BERITA TERKINI

priyantoseptember26
Jangan Ajarkan Anak Sekadar Memakai AI
FULAD6
Ketika Perang Menjadi Beban: Ujian Kepemimpinan di Tengah Krisis
WhatsApp Image 2026-09-13 at 06.23
Salma, Karateka Cilik Berprestasi Internasional dari SDN 1 Piasa Kulon
WhatsApp Image 2026-09-12 at 19.40
SDIT Permata Hati Menang Telak pada lanjutan Liga Perbasi Series 2
WhatsApp Image 2026-09-13 at 05.57
716 Murid Berlaga pada Lomba MAPSI SMP Purbalingga