SMPN 3 Purbalingga Siapkan Pembelajaran STEM

Bagikan :

*Melalui Jalur Kokurikuler

Bangun Pracoyo, M.Pd memaparkan materi tentang pembelajaran STEM dalam IHT di SMPN 3 Purbalingga, Jumat (25/9/2026). (Foto: Humas  SMPN 3 Purbalingga/EDUKATOR).

PURBALINGGA, EDUKATOR–SMP Negeri 3 Purbalingga mulai menyiapkan implementasi pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) melalui jalur kokurikuler pada Tahun Pelajaran 2026/2027. Persiapan dilakukan melalui In House Training (IHT) yang dilaksanakan Jumat (25/9/2026), diikuti kepala sekolah dan para guru untuk membangun pembelajaran yang kontekstual, kolaboratif, dan berorientasi pada pemecahan masalah.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber pengawas SMP Dindikbud Purbalingga Bangun Pracoyo, M.Pd.

Ia menekankan pentingnya pembelajaran yang mampu menghubungkan pengetahuan di sekolah dengan persoalan nyata yang dihadapi murid dalam kehidupan sehari-hari.

“STEM membantu murid memecahkan masalah nyata,” ujar Bangun Pracoyo yang pernah mengikuti Lokakarya Pelatihan Pelatih (Training of Trainers/ToT) Program Kepemimpinan Pendidikan STEM untuk Perubahan di Bangkok, Thailand,Mei 2026 lalu. Kegiatan itu diselenggarakan oleh SEAMEO STEM-ED bekerja sama dengan berbagai mitra internasional.

Menurut Bangun Pracoyo, perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan dunia kerja menuntut sekolah menyiapkan murid dengan kemampuan yang lebih luas. Penguasaan materi saja dinilai belum cukup tanpa kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah.

Peserta IHT antusias mengikuti paparan tentang pembelajaran STEM. (Foto: Humas SMPN 3 Purbalingga/EDUKATOR)

STEM Bukan Sekadar Gabungan Empat Mata Pelajaran
Bangun yang kini menjabat Ketua Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) Kabupaten Purbalingga periode 2023–2028 menjelaskan, STEM merupakan kerangka pembelajaran yang mengintegrasikan sains, teknologi, enjinering atau perekayasaan, dan matematika untuk memahami persoalan sekaligus menghasilkan solusi.

Sains digunakan untuk memahami fenomena dan prinsip suatu masalah. Teknologi dapat menjadi alat maupun hasil inovasi. Enjinering digunakan untuk merancang, membuat, menguji, dan memperbaiki solusi. Sedangkan matematika berperan dalam pengukuran, pengolahan data, perhitungan, analisis, dan pemodelan.

“Dalam hal ini, yang penting bukan kecanggihan alat, tetapi proses berpikir,” jelas Bangun Pracoyo.

Pembelajaran STEM, lanjutnya, tidak harus menggunakan peralatan canggih. Hal terpenting adalah bagaimana murid belajar mengidentifikasi masalah, merancang solusi, mencoba, menguji, menemukan kesalahan, melakukan perbaikan, kemudian mengomunikasikan hasilnya.

Peserta IHT Pembelajaran STEM .(Foto: Humas SMPN 3 Purbalingga/EDUKATOR)

Berangkat dari Persoalan di Sekitar Murid
Pembelajaran STEM dapat dimulai dari persoalan sederhana yang dekat dengan kehidupan murid.

Bangun Pracoyo mencontohkan, sampah sekolah, penggunaan air, penghematan energi, kualitas lingkungan, ketahanan bangunan, pengelolaan lahan, hingga pemanfaatan teknologi dapat dijadikan sumber pembelajaran.

Murid kemudian terlibat dalam proses mengidentifikasi masalah, menggali informasi, mengembangkan gagasan, merancang solusi, membuat purwarupa, menguji, mengevaluasi, memperbaiki, dan mempresentasikan hasilnya.

Dengan proses tersebut, murid tidak hanya menjadi penerima informasi. Mereka didorong menjadi pembelajar aktif yang mampu menemukan dan mengembangkan solusi.

Dorong Kolaborasi Lintas Mata Pelajaran
Selanjutnya Bangun Pracoyo mengatakan, implementasi STEM membuka peluang kolaborasi antarguru dan lintas mata pelajaran. Sebuah proyek dapat melibatkan IPA, Matematika, Informatika, Bahasa Indonesia, dan mata pelajaran lain sesuai kebutuhan.

Misalnya, proyek pengelolaan sampah dapat memanfaatkan IPA untuk memahami dampak lingkungan, Matematika untuk mengolah data volume sampah, Informatika untuk menyajikan data, serta Bahasa Indonesia untuk menyusun laporan dan mempresentasikan gagasan.

Kolaborasi tersebut dapat berkembang dari pendekatan multidisipliner menuju interdisipliner dan transdisipliner. Murid diarahkan berfokus pada penyelesaian persoalan nyata tanpa terjebak pada sekat mata pelajaran.

SMPN 3 Purbalingga Pilih Jalur Kokurikuler
Kepala SMP Negeri 3 Purbalingga, Warsono, S.Pd., M.M., berharap , setlah mengikuti IHT ini para guru  mampu menindaklanjutinya dalam pembelajaran,agar mutu pendidikan di SMPN 3 Purbalingga semakin nyata.

“Setelah pelatihan ini, guru harus siap menerapkan STEM,” tegas Warsono.

Kepala SMPN 3 Purbalingga Warsono S.Pd, MM (kiri) memotivasi para guru untuk siap melaksanakan pembelajaran STEM. (Foto: Humas SMPN3 Purbalingga/EDUKATOR).

Menurutnya, jalur kokurikuler memberikan ruang yang lebih fleksibel untuk mengembangkan proyek kolaboratif lintas disiplin. Pendekatan tersebut sekaligus dapat memperkuat hubungan antara pembelajaran di kelas dan persoalan nyata di lingkungan sekitar.

Sebelum pelaksanaan, sekolah perlu menganalisis berbagai aspek, antara lain kebutuhan belajar murid, potensi lingkungan, kesiapan pendidik, fasilitas, dukungan orang tua dan masyarakat, serta peluang kemitraan.

Tema proyek selanjutnya dapat disusun berdasarkan persoalan nyata yang dekat dengan kehidupan murid dan sesuai dengan potensi lokal.

Bangun Budaya Belajar yang Kontekstual
Implementasi STEM di SMP Negeri 3 Purbalingga diharapkan tidak berhenti pada pembuatan proyek atau produk. Lebih jauh, pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun budaya belajar yang mendorong murid bertanya, menyelidiki, mencipta, bekerja sama, menguji gagasan, belajar dari kegagalan, dan memperbaiki solusi.

Bagi sekolah, penerapan STEM juga menjadi momentum memperkuat kolaborasi antarguru. Guru dapat merancang pengalaman belajar bersama berdasarkan masalah yang hendak diselesaikan murid.

Dengan demikian, STEM bukan sekadar penggunaan teknologi modern atau pembuatan produk canggih. Esensinya adalah menghadirkan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, aplikatif, dan dekat dengan kehidupan nyata.

Melalui IHT tersebut, SMP Negeri 3 Purbalingga menegaskan langkah awal menuju pembelajaran yang lebih kolaboratif dan berorientasi pada pemecahan masalah.

Sekolah berharap murid tidak hanya mampu menjawab soal, tetapi juga mampu mengidentifikasi persoalan, memanfaatkan pengetahuan untuk mencari solusi, menciptakan inovasi, dan memberi kontribusi bagi lingkungan. (Bangun Pracoyo/Prs)

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-26 at 05.36
Historia Perwira Gelar Diskusi 'Membaca' Batu Purba di Purbalingga
bangun11
Bangun Pracoyo, M.Pd, Mengawal Mutu Pendidikan hingga Level Internasional
Screenshot 2026-09-26 021014
SMPN 3 Purbalingga Siapkan Pembelajaran STEM
ASWIN GANTINA
QRIS Banyumas Raya Tembus Rp12,91 Triliun
WhatsApp Image 2026-09-25 at 08.35
Murid SMPN 2 Karangreja Rafael Siap Melaju ke Lomba MAPSI Tingkat Provinsi