*Diikuti Pelajar, Guru, dan Pengelola Pondok Pesantren

Ketua Umum MUI Kabupaten Purbalingga KH Roghib Abdurrahman memberikan sambutan.
PURBALINGGA, EDUKATOR – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Purbalingga berkolaborasi dengan BAZNAS menggelar edukasi kepada pelajar, guru, dan pengelola pondok pesantren tentang pencegahan penyimpangan seksual Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan (LGSP).
Edukasi dikemas melalui talk show di Operation Room (OR) Graha Adiguna, Kompleks Pendapa Dipokusumo, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan menghadirkan tiga narasumber yang membahas LGSP dari sisi kesehatan, agama, dan kejiwaan.
Narasumber tersebut yakni Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Purbalingga dr. Jusi Febrianto, Ketua Komisi Fatwa, Pengkajian, dan Penelitian MUI Purbalingga K. Imamudin dan sosiolog Fisip Unsoed Tri Wuryaningsih.
Peserta talk show
Respons Problematika Generasi Muda
Ketua Umum MUI Kabupaten Purbalingga KH Roghib Abdurrahman mengatakan, kegiatan ini merupakan langkah nyata MUI untuk menyelamatkan masa depan generasi muda.
“Langkah ini merespons problematika umat di era digitalisasi saat ini,” ujarnya.
Roghib mengapresiasi keterlibatan para guru bimbingan konseling (BK) dalam kegatan ini. Menurutnya, pendampingan guru diperlukan karena persoalan LGSP banyak terjadi di kalangan pelajar.
Kegiatan ini menjadi implementasi Fatwa MUI Nomor 57 Tahun 2014. Fatwa tersebut mengharamkan praktik LGSP di Indonesia.
MUI Dan BAZNAS Perkuat Kolaborasi
Ketua BAZNAS Kabupaten Purbalingga H. Soedijanto mengatakan, BAZNAS terus berkolaborasi dengan MUI. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang dampak LGSP.
“Mudah-mudahan pencegahan dini memperbaiki generasi bangsa,” katanya.
Soedijanto berharap edukasi tersebut memperkuat upaya pencegahan. Dengan demikian, perkembangan praktik yang menjadi perhatian kegiatan dapat ditekan.
Risiko Penularan HIV
Sementara itu, dr. Jusi Febrianto menjelaskan risiko kesehatan terkait perilaku seksual berisiko. Ia menyoroti kaitannya dengan penularan HIV (Human Immunodeficiency Virus).
HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Jika tidak ditangani, infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) atau Sindrom Imunodefisiensi.
AIDS merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan berat. Kondisi tersebut membuat tubuh lebih rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit.
Menurut Jusi, edukasi kepada remaja penting dilakukan sejak dini. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu remaja mengenali berbagai risiko kesehatan.
“Remaja perlu mengenali dampaknya sejak dini,” ujarnya. (Prasetiyo)