
PURBALINGGA, EDUKATOR–Pembiasaan membaca selama 10–15 menit sebelum pembelajaran dimulai diterapkan murid-murid Kelas III MI Ma’arif NU Rabak, Kecamatan Kalimanah, Purbalingga. Tujuannya untuk meningkatkan kelancaran membaca, pemahaman informasi, dan kesiapan belajar serta menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku sejak dini. Kegiatan tersebut dilakukan setiap hari sebelum pukul 07.00 WIB.
“Pembiasaan membaca menjadi bekal penting bagi murid untuk menghadapi pembelajaran di kelas yang lebih tinggi,” ujar Wali kelas III MI Ma’arif NU Rabak, Umi Hidayatun, S.Pd.I., M.Pd. di MI Ma’arif NU Rabak, Selasa (29/9/2026).MI NU Ma;arif
Membaca Melatih Berpikir Kritis
Menurut Umi Hidayatun, pembiasaan membaca tidak terbatas pada buku pelajaran, tetapi juga mencakup buku cerita dan sejarah. Beragam bacaan tersebut membantu siswa mengenal gagasan baru, memahami informasi, serta belajar menyampaikan pendapat.
Melalui kegiatan membaca, murid juga dilatih berpikir kritis, terutama dalam menyikapi informasi yang mudah ditemukan di internet. Mereka diharapkan mampu memahami isi bacaan dan lebih berhati-hati sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi.
Pojok Baca Bikin Murid Bersemangat
Kegiatan membaca dilakukan di pojok baca kelas dengan koleksi buku yang beragam. Murid dapat bertukar buku dan membaca cerita dengan judul berbeda secara bergantian sehingga kegiatan literasi terasa lebih menarik.
Wali kelas turut memantau kelancaran membaca dan sesekali memberikan penghargaan kepada murid. Mereka juga diminta menceritakan kembali isi bacaan untuk memastikan pemahaman, bukan sekadar menyelesaikan halaman buku.
Kebiasaan tersebut membantu murid melatih kemampuan menemukan gagasan utama, mengenali informasi penting, dan memahami hubungan antarinformasi. Keterampilan ini berguna saat mengerjakan soal pelajaran maupun berinteraksi dengan teman sehari-hari.
Konsistensi Menjadi Kunci Keberhasilan
Pembiasaan membaca setiap pagi diharapkan dapat meningkatkan kemampuan literasi murid MI Ma’arif NU Rabak secara berkelanjutan. Kegiatan sederhana ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kedekatan antarsiswa melalui pertukaran buku dan pengalaman membaca.
Keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya halaman yang dibaca, tetapi juga dari konsistensi siswa dan kemampuan mereka memahami isi bacaan. Manfaatnya diharapkan semakin terlihat ketika siswa melanjutkan pembelajaran ke kelas yang lebih tinggi. (Prasetiyo)