*Mencapai 40 Persen dari Total Produksi

Prof Condro Wibowo ketika menyampaikan orasi ilmiah dalam rangkaian Dies Natalis ke 64 Fakultas Pertanian Unsoed.(Foto: Prasetiyo/EDUKATOR)
PURWOKERTO, EDUKATOR–Ancaman susut pangan masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Pada komoditas hortikultura, kehilangan hasil setelah panen dapat mencapai 40 persen dari total produksi. Kondisi tersebut tidak hanya mengurangi ketersediaan pangan, tetapi juga berpotensi menekan pendapatan petani.
Persoalan itu menjadi salah satu perhatian Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) bidang Teknologi Pascapanen Prof. Condro Wibowo, S.TP., M.Sc., Ph.D.,.
Dalam orasi ilmiahnya pada rangkaian Dies Natalis ke-64 Fakultas Pertanian Unsoed, di Auditorium Fakultas Pertanian Unsoed, Selasa (29/9/2026), ia mengangkat inovasi teknologi pascapanen sebagai bagian dari upaya mendukung kemandirian pangan yang berkelanjutan.
Foto bersama. (Rendra/EDUKATOR)
Pangan Hilang Sebelum Sampai Konsumen
Susut pangan atau food loss merupakan kehilangan pangan yang terjadi sepanjang rantai produksi dan distribusi, terutama pada tahap panen, penanganan setelah panen, penyimpanan, hingga pengangkutan. .
Pada komoditas hortikultura, lanjutnya, persoalan tersebut dapat semakin besar akibat penanganan pascapanen yang kurang tepat, serangan patogen, serta keterbatasan teknologi penyimpanan dan distribusi.
“Kehilangan yang mencapai 40 persen menunjukkan bahwa peningkatan produksi saja belum cukup untuk memperkuat ketahanan pangan,” ujar Prof Condro Wibowo, dosen Program Studi Teknologi Pangan Faperta Unsoed ini.
Kemasan Ramah Lingkungan Jadi Alternatif
Untuk mengatasi persoalan itu, salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah penggunaan edible coating dan biodegradable film sebagai alternatif kemasan berbasis plastik minyak bumi.
Edible coating merupakan lapisan sangat tipis berbahan biopolimer yang diterapkan langsung pada permukaan pangan. Lapisan ini bekerja sebagai penghalang semipermeabel yang membantu mengendalikan perpindahan uap air dan oksigen, sehingga dapat memperlambat respirasi, transpirasi, serta penurunan mutu pangan.
Adapun biodegradable film merupakan lembaran tipis yang dibuat terlebih dahulu melalui proses seperti casting atau ekstrusi. Film tersebut dapat digunakan untuk membungkus atau memisahkan komponen pangan dan dirancang agar dapat terurai secara alami.
Keduanya dikembangkan untuk membantu mempertahankan kesegaran, tekstur, kandungan nutrisi, dan penampilan produk sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kemasan plastik yang sulit terurai.
Bahan Lokal
Pengembangan kemasan ramah lingkungan tersebut dapat memanfaatkan sumber daya lokal. “Beberapa bahan yang berpotensi digunakan antara lain pati tapioka, ganyong, garut, kentang, dan ubi jalar,” kata Prof Condro, yang menempuh pendidikan magister dan doktor di Georg-August University of Göttingen, Jerman ini.
Selain bahan-bahan tersebut, lanjutnya, terdapat kitosan yang berasal dari limbah cangkang krustasea dan memiliki sifat antimikroba. Natrium alginat dari rumput laut juga dapat dimanfaatkan karena bersifat transparan, fleksibel, serta mampu membantu stabilitas emulsi.
Memperpanjang Masa Simpan Tomat dan Anggur
Prof Condro Wibowo menegaskan, inovasi tidak berhenti pada pembuatan satu lapisan. Teknologi layer-by-layer atau pelapisan berlapis, misalnya, dikembangkan dengan mengombinasikan HPMC (Hydroxypropyl Methylcellulose) dan kitosan. Pendekatan tersebut mampu memperpanjang masa simpan tomat hingga 12 hari dibandingkan perlakuan kontrol.
Prof Condri Wibowo menegaskan juga, penerapan teknologi tersebut telah diuji pada sejumlah komoditas hortikultura. Penggunaan film biodegradable pada anggur mampu memperpanjang masa simpan hingga 20 hari.
Sedangkan penggunaan edible coating pada anggur dan tomat dapat membantu mempertahankan karakteristik dan penampilan produk.
Selanjutnya Prof Condro Wibowo mengemukakan, pengembangan teknologi pascapanen berbasis bahan lokal dinilai memiliki peluang besar untuk mengurangi kehilangan pangan sekaligus mendukung sistem pangan yang lebih ramah lingkungan.
“Penurunan kehilangan hasil pascapanen sebesar 20–40 persen berpotensi meningkatkan pendapatan petani dan membantu menjaga ketersediaan stok pangan di pasar,” ujarnya. (Prasetiyo)