
Narasumber Tukijo, M.Pd (kanan) saat memberikan materi pada pelatihan di SMPN 5 Ungara, Kabupten Semarang, Sabtu (7/11/2026).
UNGARAN, EDUKATOR – Guru didorong mengubah pola pembelajaran dari sekadar menyampaikan materi menjadi proses belajar yang melibatkan murid secara aktif dalam menyelidiki, berdiskusi, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya. Pendekatan tersebut menjadi fokus Workshop Pembelajaran Inovatif Abad 21 yang disampaikan Tukijo, S.Pd., M.Pd., di SMP Negeri 5 Ungaran.
Kegiatan yang dibuka Kepala SMPN 5 Ungaran, Kuswahyu Widiyanti, S.Pd., M.Pd, diikuti seluruh guru SMPN 5 Ungaran, Kabupaten Semarang, di aula sekolah setempat, Sabtu (7/11/2026). Workshop ini membahas strategi merancang pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan murid pada abad ke-21.
Kepala SMPN 5 Ungaran Kuswahyu Widiyanti berharap, usai workshop para guru lebihi novatif dalam melaksanakan proses pembelajaran. “Diharapkan, kualitas pembelajaran yang melibatkan guru dan murid, semakin meningkat,” harapnya.
Guru Harus Berinovasi
Tukijo menjelaskan, perkembangan era digital telah mengubah cara murid mencari, memahami, dan menghasilkan pengetahuan. Karena itu, guru harus berinovasi agar pembelajaran lebih aktif, bermakna, dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari.
“Guru harus menjadi fasilitator dan mitra eksplorasi,” ujar Tukijo, yang juga Guru SMPN 17 Kota Semarang.
Pembelajaran Berpusat pada Murid
Dalam papaparanya, Tukijo menekankan pentingnya Student-Centered Learning atau pembelajaran berpusat pada murid. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, tetapi berperan sebagai fasilitator, pemberi umpan balik, dan pendamping proses belajar.
Dijelskan, murid didorong aktif melakukan investigasi, analisis, diskusi, hingga menyusun kesimpulan. “Pembelajaran juga perlu mengembangkan keterampilan 4C, yaitu Critical Thinking (berpikir kritis), Creativity (kreativitas), Collaboration (kolaborasi), dan Communication (komunikasi),” ujar Tukijo yang juga mahasiswa S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa, Universitas Negeri Semarang (UNNES) .
Selain itu, guru perlu mengintegrasikan pengetahuan materi, strategi mengajar, dan teknologi melalui kerangka TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge. Dalam hal ini, pemanfaatan teknologi bukan sekadar menggunakan perangkat digital, melainkan memilih alat yang tepat untuk mendukung tujuan dan proses pembelajaran.
Kenalkan Model Pembelajaran Inovatif
Workshop juga membahas sejumlah model pembelajaran yang dapat diterapkan guru, antara lain Problem-Based Learning (PBL), Project-Based Learning (PjBL), Flipped Classroom, dan Station Rotation.
Melalui PBL, murid belajar memecahkan persoalan nyata berdasarkan bukti. Sementara itu, PjBL mengajak murid menghasilkan produk melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengujian, dan refleksi.
Contoh penerapannya antara lain menganalisis kualitas air sungai dan menyusun rekomendasi sanitasi, serta merancang alat penjernih air dari bahan daur ulang. Guru juga dapat menerapkan Flipped Classroom dengan memberikan materi sebelum pembelajaran di kelas, sehingga waktu tatap muka lebih banyak digunakan untuk diskusi, latihan, dan eksperimen.
Pemanfaatan teknologi dapat dikembangkan melalui pendekatan SAMR, mulai dari menggantikan media konvensional hingga menciptakan pengalaman belajar baru. Gamifikasi dengan poin, lencana, papan peringkat, dan tantangan juga dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar.
Asesmen Tidak Sekadar Mengukur Nilai
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah asesmen pembelajaran. Tukijo menjelaskan bahwa penilaian tidak hanya berfungsi mengukur hasil akhir, tetapi juga membantu guru memperbaiki proses belajar dan mendorong murid memantau perkembangan dirinya.
Tiga jenis asesmen yang dibahas meliputi assessment of learning, assessment for learning, dan assessment as learning. Guru juga didorong menerapkan asesmen autentik melalui tugas yang mengukur kemampuan murid menerapkan pengetahuan, mengambil keputusan, dan menghasilkan produk.
Pemanfaatan portofolio digital, rubrik penilaian, serta aplikasi seperti Quizizz, Kahoot, dan Google Forms dapat membantu guru memperoleh umpan balik lebih cepat dan menentukan tindak lanjut pembelajaran.
Melalui workshop tersebut, guru diharapkan mampu merancang pembelajaran yang adaptif, melibatkan murid secara aktif, serta memanfaatkan teknologi secara tepat. Inovasi pembelajaran bukan sekadar penggunaan perangkat digital, melainkan upaya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan, inklusif, dan bermakna.(Prasetiyo)