*Perkuat Kompetensi Guru Menghadapi Era Digital

PURBALINGGA, EDUKATOR – Sebanyak 77 guru kelas 5 dan 6 sekolah dasar di wilayah Koordinator Wilayah Kecamatan (Korwilcam) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Bukateja mengikuti diseminasi pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), Sabtu (7/11/2026). Kegiatan ini menjadi langkah untuk mempersiapkan guru menerapkan pembelajaran KKA yang mulai diintegrasikan dalam kurikulum Tahun Ajaran 2026/2027.
Kegiatan yang diselenggarakan melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) Kelas 5 dan 6 tersebut berlangsung di Aula Korwilcam Dindikbud Bukateja. Para peserta mendapatkan penguatan konsep, materi esensial, serta praktik integrasi KKA dalam pembelajaran di sekolah.
Guru Perlu Memahami Capaian Pembelajaran
Koordinator Wilayah Kecamatan Dindikbud Bukateja, Giatno Festisia Gantoro, S.Pd.SD., mengatakan implementasi KKA membutuhkan kesiapan guru. Mereka perlu memahami konsep pembelajaran, Capaian Pembelajaran (CP), serta cara merancang kegiatan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan murid.
“Guru perlu memahami konsep dan capaian pembelajaran KKA,” kata Giatno.
Ia menjelaskan, pembelajaran koding pada Fase C tidak hanya berorientasi pada penguasaan bahasa pemrograman atau penggunaan perangkat teknologi. Pembelajaran tersebut juga diarahkan untuk membangun kemampuan berpikir logis, sistematis, dan terstruktur.
Murid dilatih memecahkan masalah melalui kegiatan dekomposisi, mengenali pola, dan menyusun algoritma atau langkah-langkah penyelesaian masalah.
“Anak-anak harus dilatih berpikir logis dan memecahkan masalah,” ujarnya.
Menurut Giatno, kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi murid untuk menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan masa depan. Ia juga mengapresiasi kegiatan KKG sebagai ruang kolaborasi guru untuk berdiskusi, meningkatkan kompetensi, dan berbagi praktik baik.
Diseminasi Berikan Bekal Praktis kepada Guru
Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Korwilcam Dindikbud Bukateja, Ruwandi, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa diseminasi dirancang untuk memberikan pemahaman sekaligus keterampilan praktis kepada guru kelas 5 dan 6.
“Guru diharapkan mampu menerapkan KKA di sekolah masing-masing,” kata Ruwandi.
Ia berharap peserta tidak hanya memahami materi secara teoretis, tetapi juga memperoleh gambaran tentang pelaksanaan pembelajaran KKA di kelas. Dengan demikian, guru dapat mengembangkan pembelajaran yang lebih efektif, menarik, dan bermakna bagi murid.
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Giatno Festisia Gantoro, S.Pd.SD., Titis Megayani, S.Pd., Kepala SDN 1 Bobotsari Korwilcam Dindikbud Bobotsari, serta Asih Kristianing Ayu, S.Kom., guru SMPN 2 Karangmoncol.
Titis Megayani menyampaikan materi tentang konsep dasar KKA dan materi esensial yang perlu dikuasai guru. Ia juga mengulas pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media pendukung pembelajaran digital.
Penggunaan IFP diharapkan dapat membantu guru menyajikan pembelajaran yang lebih interaktif sekaligus meningkatkan keterlibatan murid dalam kegiatan belajar.
KKA Dapat Diintegrasikan dalam Berbagai Mata Pelajaran
Sementara itu, Asih Kristianing Ayu, S.Kom yang juga Kepala SMPN 2 Karangmoncol membahas integrasi Koding dan Kecerdasan Artifisial dalam pembelajaran. Ia memberikan wawasan tentang cara menghubungkan konsep KKA dengan berbagai aktivitas belajar sesuai konteks dan kebutuhan murid.
Dengan pendekatan tersebut, KKA tidak harus diajarkan sebagai materi yang berdiri sendiri. Konsepnya dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran sehingga lebih dekat dengan pengalaman belajar murid.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti setiap sesi dengan antusias. Diskusi interaktif dan berbagi pengalaman menjadi bagian penting dalam diseminasi tersebut. Para guru juga berkesempatan memperluas wawasan mengenai penerapan KKA di sekolah masing-masing.
Melalui kegiatan ini, guru kelas 5 dan 6 di wilayah Korwilcam Dindikbud Bukateja diharapkan semakin siap melaksanakan pembelajaran KKA, mulai dari memahami konsep, menyusun perencanaan, hingga menerapkannya di kelas.
Pembelajaran KKA diharapkan tidak sekadar menjadi bentuk adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Lebih dari itu, pembelajaran ini menjadi sarana mengembangkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan sistematis pada diri murid untuk menghadapi tantangan era digital. (Prasetiyo)