*Berpeluang Besar Tembus Pasar Ekspor

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga, Ir. Prayitno, M.Si., IPU sedang menjelaskan kepada Tim Kementerian PPN/Bappenas tentang potensi tanaman Nilam di Purbalingga.
PURBALINGGA, EDUKATOR–Nilam merupakan komoditas strategis yang berpeluang besar menembus pasar ekspor. Potensi tersebut mendorong Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mengkaji pengembangan budidaya sekaligus hilirisasi produk nilam di Purbalinga. Yakni proses mengolah bahan mentah menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan atau diekspor.
Saat ini, Purbalingga dinilai memiliki prospek besar sebagai salah satu sentra penghasil minyak nilam berkualitas.
Tanaman nilam
Tim Kementerian PPN/Bappenas yang dipimpin Direktur Koperasi dan UMKM, Mahatmi Prawitasari Saronto, ST, MSIE, melakukan kunjungan ke Purbalingga pada Senin (13/7/2026).
Foto bersama Tim Kementerian PPN/Bappenas,Kepala Distangpan Purbalingga dengan petani, pengepul, serta pelaku usaha penyulingan minyak nilam.
Dalam kunjungan tersebut, tim berdialog langsung dengan petani, pengepul, serta pelaku usaha penyulingan minyak nilam untuk menyerap berbagai masukan terkait pengembangan budidaya dan pengolahan hasil nilam agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Mengunjungi tempat penyulingan minyak nilam.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga, Ir. Prayitno, M.Si., IPU, mengatakan, luas lahan tanaman nilam di Purbalingga saat ini mencapai 58 hektare (ha).
Angka tersebut diperkirakan terus meningkat seiring membaiknya harga daun nilam kering yang kini berada pada kisaran Rp 7.000-Rp 8.000 per kilogram.
“Sebelumnya harga sempat turun hingga Rp 2.500 per kilogram, sehingga petani enggan menanam. Kini harganya kembali membaik,” ujar Prayitno.
Luas Tanam dan Produksi Terus Meningkat
Prayitno menjelaskan, sentra budidaya nilam tersebar di Kecamatan Karangreja seluas 23 hektare, Kutasari 14 hektare, Karangjambu 12,5 hektare, Rembang 5 hektare, dan Karangmoncol 4 hektare. Dari luasan tersebut, produksi minyak nilam mencapai 95.950 kilogram.
Jumlah itu meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024 yang hanya memiliki luas tanam 29 hektare dengan produksi 55.900 kilogram minyak nilam.
Menurutnya, petani di Purbalingga mayoritas menanam varietas Sidikalang yang dikenal menghasilkan minyak berkualitas tinggi sekaligus tahan terhadap serangan penyakit jamur atau keriting daun.
Pengembangan nilam di Purbalingga juga diperkuat melalui kehadiran PT Indika Nature lewat inisiatif Natura Aromatik Nusantara (Natura) yang mengembangkan model budidaya regeneratif di Desa Karangjengkol.
Perusahaan menargetkan pengembangan 10 hektare lahan inti dan 26,8 hektare lahan yang dikelola 70 petani mitra dengan target produksi mencapai 1.500 kilogram.
Di luar kemitraan tersebut, petani mandiri juga telah membudidayakan nilam di sekitar 20 hektare lahan, baik secara monokultur maupun tumpangsari.
Komoditas Andalan Berorientasi Ekspor
Direktur Koperasi dan UMKM Kementerian PPN/Bappenas, Mahatmi Prawitasari Saronto, mengatakan pengkajian dilakukan karena nilam merupakan komoditas strategis yang menjadi salah satu penopang ekspor Indonesia.
Indonesia menyumbang sekitar 90 persen produksi minyak nilam dunia dengan nilai ekspor mencapai sekitar USD150 juta per tahun.
“Nilam memiliki potensi besar meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Kami memilih Purbalingga karena produksinya bagus dan menjadi incaran konsumen dari Swiss maupun negara lain,” kata Mahatmi.
Petani Nikmati Harga yang Membaik
Petani nilam asal Desa Karangjengkol, Kecamatan Kutasari, Sukirman, mengatakan budidaya nilam saat ini kembali memberikan keuntungan yang menjanjikan. Untuk mengelola lahan seluas satu hektare dibutuhkan biaya sekitar Rp8 juta-Rp10 juta, sedangkan hasil panen dapat mencapai Rp30 juta-Rp35 juta.
“Biaya terbesar untuk pengolahan lahan dan pupuk kandang. Syukurlah sekarang harga daun nilam stabil,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Ketua Gapoktan Desa Cendana, Kecamatan Kutasari, Ali. Ia membudidayakan nilam di lahan seluas 400 ubin dengan modal sekitar Rp4 juta. Saat panen, hasil penjualannya mencapai sekitar Rp28 juta.
“Sekarang harganya bagus, jadi hasil panen sangat lumayan,” katanya.
Ali menambahkan, tanaman nilam dapat dipanen dua kali dalam setiap siklus tanam sehingga memberikan keuntungan yang menarik bagi petani.
Penyuling Pasok Ratusan Kilogram Minyak Nilam
Pelaku usaha penyulingan minyak nilam, Nuryanto, mengatakan usahanya mampu memasok 400-550 kilogram minyak nilam setiap bulan ke PT Indeso di Purwokerto.
“Kami sudah bekerja sama sejak 2010. Untuk menjadi buyer langsung, kapasitas produksi kami belum mampu mencapai 8 ton per tahun,” ujar Nuryanto. (Prasetiyo)