*Angkat Fotografi Hitam Putih dari Kamera Ponsel

PURBALINGGA, EDUKATOR–Pameran Tunggal Fotografi bertajuk “Monokrom” karya Djentot Subechi, S.Pd, guru seni budaya SMA Negeri 2 Purbalingga akan dibuka di Kie Art Space, Dusun Peninis, Desa Sidareja, Kecamatan Kaligondang, Kabupate Purbalingga, Sabtu (2/5/2026) mendatang.
Pameran ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan Bulan Menggambar Nasional 2026, dengan menghadirkan karya fotografi hitam putih berbasis kamera ponsel.
Pembukaan pameran akan dilakukan oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Purbalingga, R. Budi Setiawan, S.E., M.Si., pada pukul 10.26 WIB. Kegiatan ini akan berlangsung hingga 10 Mei 2026, dan mendapat dukungan dari Kie Art Project.
Eksplorasi Estetika Monokrom
Dalam pameran keduanya di tahun ini, Djentot Subechi menampilkan karya fotografi yang diambil menggunakan telepon genggam.
Ia mengangkat tema hitam putih sebagai bentuk eksplorasi dasar seni visual.
“Melalui monokrom, saya ingin kembali ke esensi paling sederhana dalam melihat realitas,” ujarnya kepada EDUKATOR di Purbalingga, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, fotografi tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga media ekspresi jiwa yang mampu menangkap dinamika kehidupan sehari-hari.
Fotografi dari Genggaman
Djentot menilai perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia memandang seni. Kamera pada ponsel kini menjadi alat rekam yang mudah diakses, namun sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai medium artistik.
Ia menegaskan, di tengah era digital, kesadaran akan nilai estetika perlu terus dibangun. “Apa yang ada di genggaman sebenarnya bisa menjadi karya seni,” katanya.
Dorong Apresiasi Seni dan Pendidikan
Pameran ini diharapkan mampu menjadi pemicu bagi masyarakat, khususnya pecinta fotografi dan dunia pendidikan, untuk lebih mengapresiasi seni rupa.
Melalui pendekatan sederhana namun mendalam, karya-karya yang ditampilkan mengajak pengunjung memahami makna di balik visual hitam putih yang sarat pesan.
“Semoga pameran ini memberi inspirasi bagi siapa saja yang mencintai seni,” ujar Djentot.
Pameran “Monokrom” terbuka untuk umum dan menjadi ruang refleksi sekaligus apresiasi terhadap perkembangan seni fotografi di era modern.(Prasetiyo)