FGS ke-9 Jadi Pijakan Pengembangan Tiga Desa Wisata Lereng Slamet

Bagikan :

Penampilan grup musik Parade Hujan mampu memukai ribuan penonton.

PURBALINGGA, EDUKATOR–Festival Gunung Slamet (FGS) ke-9 menjadi pijakan pengembangan tiga desa wisata terpadu di lereng Gunung Slamet. Pemerintah Kabupaten Purbalingga menargetkan Desa Serang, Kutabawa, dan Siwarak menjadi one stop tourism destination mulai 2027, menyusul keberhasilan FGS yang kembali masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) dan dinilai mampu menggerakkan sektor pariwisata serta ekonomi masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, saat menghadiri malam puncak Akustik Kabut Lembut di kompleks D’Las Serang, Kecamatan Karangreja, Sabtu (4/7/2026).

Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif dan istri membersamai ribuan penonton FGS#9, Sabtu malam (4/7/2026).

Malam itu, ribuan pengunjung memadati kawasan lereng Gunung Slamet untuk menikmati penampilan grup musik Parade Hujan, yang sukses menghadirkan suasana romantis di tengah udara pegunungan.

“Festival Gunung Slamet setiap tahun memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat,” kata Fahmi.

Tiga Desa Disiapkan Jadi Destinasi Terpadu
Fahmi mengatakan, keberhasilan Festival Gunung Slamet menjadi modal penting untuk mengembangkan kawasan wisata terpadu di lereng Gunung Slamet. Mulai 2027, Pemkab Purbalingga akan memusatkan pengembangan pariwisata di Desa Serang, Kutabawa, dan Siwarak agar saling terhubung sebagai satu kawasan wisata.

Melalui konsep tersebut, wisatawan tidak hanya datang mengunjungi satu objek, tetapi dapat menikmati berbagai destinasi, kuliner, penginapan, hingga aktivitas wisata selama dua hingga tiga hari dalam satu kawasan.

“Kami berharap wisatawan dari luar daerah dapat berlibur selama dua hingga tiga hari karena seluruh kebutuhan wisata tersedia di tiga desa tersebut,” ujar Fahmi.

Menurutnya, konsep wisata terpadu itu diharapkan mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus memperkuat perputaran ekonomi masyarakat di kawasan lereng Gunung Slamet.

Ia juga berharap ketiga desa tersebut terus berkembang dan mampu menghadirkan berbagai kegiatan wisata yang lebih menarik, termasuk menyambut penyelenggaraan Festival Gunung Slamet ke-10 pada 2027.

Parade Hujan Hipnotis Ribuan Penonton
Sebelum penyampaian arah pengembangan pariwisata, suasana D’Las Serang diselimuti kabut tipis yang berpadu dengan tata cahaya panggung. Penampilan Parade Hujan, grup musik yang sebelumnya dikenal dengan nama Payung Teduh, menjadi magnet utama malam itu.

Melalui lagu-lagu seperti Kucari Kamu, APH, Berdua Saja, Di Atas Meja, Datang, Selalu Muda, Resah, Menuju Senja, Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan, hingga Akad, grup yang digawangi Is berhasil mengajak puluhan ribu penonton bernyanyi bersama. Suasana hangat dan romantis pun tercipta di tengah dinginnya lereng Gunung Slamet.

Namun, Akustik Kabut Lembut tidak hanya menjadi hiburan musik, melainkan juga etalase promosi potensi alam, budaya, dan pariwisata Kabupaten Purbalingga.

KEN Perkuat Posisi Festival Gunung Slamet
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara III Kementerian Pariwisata RI, Indera Dewantho, menilai Festival Gunung Slamet memiliki kekuatan pada kolaborasi antara budaya, alam, dan partisipasi masyarakat.

“Festival ini menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat yang membuka peluang usaha, meningkatkan perputaran ekonomi, sekaligus memperkuat citra pariwisata berbasis desa,” ujarnya.

Masuknya Festival Gunung Slamet dalam Kharisma Event Nusantara selama tiga tahun berturut-turut menunjukkan festival tersebut memenuhi standar kurasi nasional Kementerian Pariwisata dan semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu agenda wisata unggulan Indonesia.

Pada kesempatan itu, Kementerian Pariwisata menyerahkan piagam KEN kepada Bupati Purbalingga yang kemudian diteruskan kepada Kepala Desa Serang, Sugito.

Acara turut dihadiri Wakil Bupati Purbalingga Dimas Prasetyahani beserta istri, Ketua TP PKK, jajaran Forkopimda, kepala organisasi perangkat daerah, serta ribuan masyarakat.

Festival Gunung Slamet ke-9 berlangsung selama tiga hari, 3–5 Juli 2026. Setelah malam Akustik Kabut Lembut bersama Parade Hujan, rangkaian festival ditutup pada Minggu (5/7/2026) dengan penampilan Suaraloka Gunung Slamet dan beragam agenda budaya lainnya, yang semakin mempertegas FGS sebagai wajah baru pariwisata lereng Gunung Slamet. (Prasetiyo)

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-07-04 at 11.31
Kerukunan dan "Cablaka" Perkuat Semangat Banyumas PAS
IMG_20260705_105542_138
FGS ke-9 Jadi Pijakan Pengembangan Tiga Desa Wisata Lereng Slamet
WhatsApp Image 2026-07-05 at 04.50
130 Nasabah Pensiunan Bank Mantap Purwokerto Desak Aksi Damai Lebih Besar
WhatsApp Image 2026-07-04 at 20.37
"Rescue Café", Kedai Kopi Unik Kwarcab Purbalingga Bernuansa Penyelamatan
WhatsApp Image 2026-07-05 at 11.34
Kwarran Gumelar Siap Jadi Start Estafet Tunas Kelapa