
Final Prajnanta foto bersama isteri dan ke empat putera puterinya. (Dok Pribadi/EDUKATOR)
MALANG, EDUKATOR–Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (UB) Malang kembali melahirkan doktor baru dari Departemen Manajemen. Ir. Final Prajnanta, MM berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dengan meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna 4,0 .
Final juga menghasilkan temuan ilmiah berupa variabel baru Spiritual Employee Engagement yang dinilai dapat memperkaya kajian manajemen sumber daya manusia, khususnya terkait upaya menekan tingkat keinginan karyawan untuk keluar dari perusahaan.
Final Prajnanta foto bersama Ibunda tercinta (89 tahun).(Dok Pribadi/EDUKATOR)
Gelar doktor tersebut diraih Final setelah sukses mempertahankan disertasi dalam sidang tertutup Program Doktor Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya yang digelar Senin (25/5/2026). Disertasi Final berjudul berjudul “Anteseden Employee Turnover Intention: Integrasi Strategic Leadership, Work-Life Balance, Spiritual Employee Engagement dan Career Development (Studi pada Generasi Milenial di Industri Agrokimia)”.
Final menyelesaikan pendidikan doktoralnya dalam waktu 3 tahun 9 bulan pada Mei 2026. Penelitian yang dilakukannya dibimbing oleh Prof. Dr. Noermijati, SE., MTM., CPHR sebagai promotor, didampingi Dr. Nanang Suryadi, SE., MM dan Dr. Desi Tri Kurniawati, SE., MM sebagai ko-promotor.
“Penelitian ini menghasilkan sejumlah kebaruan yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu manajemen dan praktik pengelolaan sumber daya manusia,” ujar Final saat ditemui belum lama ini.
Lahirkan Lima Kebaruan Penelitian
Dalam disertasinya, Final menghasilkan lima kebaruan (novelty). Dari sejumlah temuan tersebut, dua yang paling menonjol adalah pengembangan variabel baru Spiritual Employee Engagement dan indikator baru Spiritual Humility.
Kedua temuan itu menjadi perhatian karena telah dipublikasikan dalam dua jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus pada tahun 2026.
Melalui penelitian tersebut, Final mengkaji berbagai faktor yang memengaruhi employee turnover intention atau keinginan karyawan untuk meninggalkan perusahaan. Kajian dilakukan dengan mengintegrasikan aspek kepemimpinan strategis, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance), keterikatan spiritual karyawan, serta pengembangan karier pada generasi milenial di industri agrokimia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan spiritual dalam keterikatan karyawan dapat menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan loyalitas dan komitmen pekerja terhadap organisasi.
Final Prajnanta bersama para aktivis Pengusaha Alumni Unsoed yang hadir di sidang akhir disertasi.(Dok Pribadi/EDUKATOR)
Apa Itu Spiritual Employee Engagement?
Dalam disertasinya, Final menjelaskan bahwa Spiritual Employee Engagement merupakan konsep keterikatan karyawan yang tidak hanya didasarkan pada semangat kerja, kepuasan, atau loyalitas terhadap perusahaan, tetapi juga pada nilai-nilai spiritual yang memberi makna dan tujuan dalam bekerja.
Konsep ini menekankan bahwa karyawan bekerja bukan semata-mata untuk memperoleh penghasilan atau jenjang karier, melainkan karena merasa pekerjaannya memiliki manfaat bagi orang lain dan selaras dengan nilai-nilai yang diyakininya.
Beberapa indikator dalam konsep tersebut antara lain makna dalam pekerjaan (meaningful work), keselarasan nilai pribadi dengan organisasi, rasa syukur, ketulusan dalam bekerja, tanggung jawab moral, kepedulian terhadap sesama, serta kesadaran bahwa pekerjaan merupakan bagian dari panggilan hidup.
Menurut Final, pendekatan ini melengkapi konsep employee engagement yang selama ini lebih banyak berfokus pada produktivitas, motivasi, dan komitmen organisasi.
Spiritual Humility Jadi Indikator Baru
Selain mengembangkan variabel Spiritual Employee Engagement, penelitian ini juga melahirkan indikator baru bernama Spiritual Humility atau kerendahan hati spiritual.
Konsep tersebut menggambarkan sikap individu yang tidak merasa paling benar atau paling hebat, terbuka terhadap kritik, menghargai pendapat orang lain, serta tidak menyalahgunakan jabatan maupun kekuasaan.
Dalam lingkungan kerja, sikap tersebut dinilai mampu membangun hubungan yang lebih sehat, meningkatkan kepercayaan antarpegawai, dan memperkuat kerja sama dalam organisasi.
Temuan ini menunjukkan bahwa keterikatan spiritual dan kerendahan hati spiritual dapat menjadi faktor penting dalam menekan turnover intention, terutama di kalangan generasi milenial yang menjadi objek penelitian.
Raih IPK Sempurna 4,0
Selain mencatatkan kontribusi ilmiah, Final juga berhasil menorehkan prestasi akademik dengan meraih IPK 4,0 saat mempertahankan disertasinya.
Pria yang aktif di HIMPUNI tersebut merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) angkatan 1986. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Prasetiya Mulya dan lulus pada 1999 sebelum menempuh studi doktoral di Universitas Brawijaya.
Tim penguji dalam sidang tersebut terdiri atas Prof. Dr. H. Armanu, SE., M.Sc., Prof. Dodi Wirawan Irawanto, SE., M.Com., Ph.D, Radhita Dwi Vata Hapsari, MM., Ph.D, serta penguji eksternal Prof. Dr. Ratri Wahyuningtyas, ST., MM dan Dr. Mafizatun Nurhayati, SE., MM.
Menunggu Pengukuhan Doktor
Sesuai sistem akademik Universitas Brawijaya yang tidak menyelenggarakan ujian terbuka program doktor, Final masih diberikan kesempatan untuk menyempurnakan disertasinya berdasarkan masukan Dewan Penguji dan Tim Promotor.
Proses penyempurnaan tersebut dilakukan dalam waktu kurang dari tiga bulan sebelum ia resmi dikukuhkan sebagai Doktor Manajemen.
Final yang juga aktif di HIMPUNI merupakan alumni Fakultas Pertanian Unsoed angkatan 1986. Dengan lahirnya variabel Spiritual Employee Engagement dan indikator Spiritual Humility, hasil penelitiannya diharapkan dapat menjadi referensi baru bagi kalangan akademisi maupun praktisi . Yakni dalam mengembangkan strategi pengelolaan sumber daya manusia yang lebih komprehensif, humanis, dan berkelanjutan.
Temuan tersebut juga memperluas perspektif manajemen modern yang selama ini banyak menitikberatkan pada aspek ekonomi, karier, dan kepemimpinan, dengan memasukkan dimensi spiritual sebagai faktor penting dalam membangun loyalitas, komitmen, dan keberlanjutan organisasi.(Alief Einstein/Prs)