
Foto bersama peserta International Summer Course 2026, bertema Comprehensive Care in Geriatrics: An Interprofessional Approach di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (FK UKDW) Yogyakarta .
YOGYAKARTA, EDUKATOR–Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (FK UKDW) Yogyakarta menggelar International Summer Course 2026, bertema Comprehensive Care in Geriatrics: An Interprofessional Approach. Hal itu sebagai upaya memperkuat kolaborasi lintas profesi dalam pelayanan kesehatan lanjut usia (lansia).
Program yang berlangsung pada 13–31 Juli 2026 itu diikuti 54 mahasiswa dari lima perguruan tinggi, termasuk dua perguruan tinggi luar negeri, untuk membangun kompetensi kerja sama antartenaga kesehatan sejak masa pendidikan.
Kelima perguruan tinggi yang berpartisipasi meliputi Utah Valley University (Amerika Serikat), The Hong Kong Polytechnic University, Universitas Sanata Dharma, STIKes Panti Rapih Yogyakarta, dan FK UKDW. Peserta berasal dari berbagai disiplin ilmu, antara lain kedokteran, keperawatan, farmasi, gizi, terapi okupasi, dan pekerja sosial. Pelaksanaan program juga didukung Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, STIKes Panti Rapih Yogyakarta, serta STIKES Bethesda Yakkum.
Bangun Kolaborasi Sejak Bangku Kuliah
Dekan FK UKDW, dr. The Maria Meiwati Widagdo, Ph.D., mengatakan pembelajaran interprofesi menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami penanganan pasien geriatri secara menyeluruh.
“Pembicaraan mengenai pentingnya kolaborasi interprofesi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa waktu lalu. International Summer Course 2026 menjadi salah satu wujud nyata dari upaya tersebut,” ujarnya.
Selama dua pekan pertama, peserta mengikuti pembelajaran daring melalui Microsoft Teams. Materi yang dipelajari meliputi proses penuaan, perubahan biologis dan psikososial pada lansia, sindrom geriatri, kolaborasi interprofesi, polifarmasi, penyakit kronis, gizi, sarkopenia, hingga perawatan paliatif.
Setiap sesi dilengkapi diskusi kasus dan tugas mandiri sebagai bekal sebelum praktik lapangan.
Memasuki tahap berikutnya di Yogyakarta, peserta mengikuti praktik Comprehensive Geriatric Assessment (CGA). Setelah menyaksikan demonstrasi dari fasilitator bidang terapi okupasi, mereka dibagi ke dalam enam kelompok lintas profesi untuk melakukan asesmen komprehensif terhadap pasien simulasi.
Penilaian mencakup kondisi fisik, fungsi kognitif, psikologis, hingga tingkat kemandirian lansia. Hasil asesmen tersebut kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan rencana perawatan secara kolaboratif.
Belajar Langsung dari Kehidupan Lansia
Pengalaman belajar semakin diperkaya melalui community visit ke rumah-rumah lansia di Yogyakarta. Dalam kegiatan tersebut, peserta menilai kondisi medis, kemampuan fungsional, status kognitif, kondisi psikologis, status gizi, serta lingkungan tempat tinggal lansia.
Kujungan rumah ke rumah salah satu lansia.
Seluruh hasil pengamatan menjadi dasar penyusunan rencana perawatan yang berpusat pada kebutuhan pasien sekaligus melatih kemampuan komunikasi dan kerja sama antartenaga kesehatan.
Selain pembelajaran akademik, peserta juga mengikuti kegiatan pengenalan budaya Yogyakarta melalui kunjungan ke Tamansari, Museum Sonobudoyo, Museum Ku Gerabah, dan kawasan Malioboro. Kegiatan ini menjadi sarana mempererat jejaring internasional sekaligus memperkaya pengalaman lintas budaya bagi mahasiswa dari berbagai negara dan profesi.
Rangkaian International Summer Course 2026 ditutup pada 31 Juli 2026 dengan presentasi laporan kasus dari enam kelompok interprofesi yang dilanjutkan diskusi bersama dosen. Penutupan program dilakukan secara resmi oleh Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T.
“Kolaborasi baik seperti ini kami harapkan dapat berjalan secara berkelanjutan karena dampak positifnya benar-benar dirasakan,” kata Wiyatiningsih.
Para peserta juga mengaku memperoleh pengalaman belajar yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memperluas pemahaman mengenai pelayanan geriatri serta tantangan perawatan lansia di Indonesia.
Melalui International Summer Course 2026, FK UKDW menegaskan komitmennya dalam memperkuat pendidikan kesehatan bertaraf internasional. Program ini diharapkan mampu mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, adaptif, dan siap bekerja secara kolaboratif dalam menghadapi meningkatnya populasi lansia, baik di Indonesia maupun di tingkat global.(Prasetiyo)