Oleh: Mayjen TNI (Purn.) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)
Pendahuluan
DALAM banyak konflik internasional, meredanya suara tembakan sering kali menumbuhkan harapan bahwa perang akan segera berakhir. Namun, pengalaman global justru menunjukkan kenyataan yang lebih kompleks: tidak setiap jeda pertempuran melahirkan perdamaian. Ada jeda yang membuka jalan menuju penyelesaian, tetapi tidak sedikit yang hanya menjadi ruang tunggu menuju babak konflik berikutnya.
Gaza Hari Ini Berada Tepat di Titik Itu
Secara kasat mata, intensitas perang memang tidak lagi sekeras fase paling brutal pada 2024–2025. Operasi militer menurun. Tekanan internasional sempat membuka ruang gencatan senjata. Dunia pun perlahan mulai mengalihkan perhatian ke berbagai krisis global lain yang tidak kalah berat.
Namun, di balik meredanya pertempuran terbuka, persoalan mendasar di Gaza tetap belum berubah. Ketegangan keamanan masih berlangsung, krisis kemanusiaan belum pulih, dan jalur politik belum menemukan bentuk yang dapat diterima semua pihak.
Karena itu, membaca Gaza hari ini tidak cukup hanya dari berkurangnya suara ledakan dan menurunnya operasi militer. Ukuran yang jauh lebih penting adalah apakah kawasan itu benar-benar sedang bergerak menuju stabilitas yang berkelanjutan.
Sampai Hari Ini, Jawabannya Masih Belum Meyakinkan.
Gencatan Senjata Menahan Pertempuran, Tetapi Belum Menyentuh Akar Konflik
Gencatan senjata tentu penting. Langkah itu memberi ruang bagi bantuan kemanusiaan masuk, memberi kesempatan masyarakat sipil bertahan hidup, dan membuka peluang diplomasi tetap berjalan.
Namun, gencatan senjata bukanlah penyelesaian.
Israel masih mempertahankan tekanan keamanan di sejumlah wilayah strategis. Di sisi lain, Hamas juga belum sepenuhnya keluar dari dinamika konflik. Kedua pihak tetap memegang kepentingan strategis masing-masing. Belum ada titik temu yang benar-benar mengikat, belum tumbuh rasa saling percaya, dan belum ada kepastian politik yang dapat diterima bersama.
Dalam situasi seperti ini, ketenangan yang terlihat bukanlah stabilitas permanen, melainkan sekadar menahan benturan agar tidak meledak lebih besar.
Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa konflik yang ditahan tanpa penyelesaian politik hampir selalu menyimpan potensi eskalasi baru.
Hari Setelah Perang Menjadi Ujian Strategis Sesungguhnya
Konflik Gaza hari ini tidak lagi semata bicara soal operasi militer. Pertanyaan yang paling menentukan justru hadir setelah perang.
Siapa yang memimpin Gaza? Siapa yang menjamin keamanan warga sipil? Siapa yang mengelola distribusi bantuan? Siapa yang memiliki legitimasi politik di mata rakyat Palestina? Dan siapa yang mampu memastikan Gaza tidak kembali masuk ke dalam siklus kekerasan?
Sampai hari ini belum ada jawaban yang benar-benar tegas. Di situlah inti persoalan strategis Gaza berada.
Dalam konflik modern, kemenangan taktis tidak otomatis berubah menjadi kemenangan strategis. Wilayah bisa dikuasai dan operasi militer bisa berhasil, tetapi ketika ruang politik tetap kosong, legitimasi belum terbentuk, dan masyarakat sipil masih hidup dalam trauma serta ketidakpastian, konflik pada hakikatnya belum benar-benar selesai.
Ia hanya menunggu momentum untuk muncul kembali dalam bentuk yang baru.
Krisis Kemanusiaan Menjadi Risiko Strategis
Kondisi kemanusiaan Gaza hingga kini masih sangat berat. Infrastruktur rusak besar-besaran. Pelayanan kesehatan terbatas. Distribusi bantuan belum stabil. Kebutuhan dasar masyarakat belum pulih sepenuhnya.
Secara kemanusiaan, ini adalah tragedi yang menuntut respons segera.
Namun, dari perspektif keamanan strategis, dampaknya jauh lebih luas.
Masyarakat yang terlalu lama hidup di bawah tekanan tanpa kepastian berisiko menumpuk frustrasi sosial yang mendalam. Ketika frustrasi itu membesar, kemarahan akan tumbuh dengan sendirinya.
Saat kemarahan tidak menemukan ruang politik yang sehat, kekerasan sering kali menjadi saluran yang paling mudah berkembang.
Karena itu, krisis kemanusiaan di Gaza bukan hanya soal bantuan.
Ia menyangkut masa depan stabilitas kawasan dalam jangka panjang.
Ketika Fokus Dunia Mulai Bergeser
Dinamika global bergerak sangat cepat.
Ketegangan Iran dan Barat. Perang Rusia–Ukraina. Rivalitas Amerika Serikat–China. Tekanan ekonomi global.
Seluruh perkembangan itu membuat perhatian internasional terpecah.
Dalam situasi seperti itu, Gaza perlahan tidak lagi menjadi sorotan utama dunia setiap hari.
Inilah yang justru harus dicermati.
Ketika perhatian internasional melemah dan tekanan diplomatik ikut menurun, ruang bagi tindakan sepihak menjadi semakin terbuka.
Saat itu terjadi, eskalasi baru dapat muncul tanpa peringatan.
Timur Tengah terlalu sering mengajarkan bahwa konflik yang tampak mereda hari ini dapat berubah menjadi krisis kawasan esok hari.
Indonesia dan Tanggung Jawab Diplomasi Strategis
Di tengah kebuntuan global, Indonesia memiliki posisi yang penting.
Indonesia hadir dengan kredibilitas moral, konsistensi diplomasi, serta komitmen terhadap penyelesaian damai melalui jalur multilateral.
Peran itu tetap relevan.
Indonesia dapat terus mendorong akses kemanusiaan yang aman, memperkuat dukungan diplomasi di PBB, dan menjaga agar isu Gaza tetap berada dalam perhatian masyarakat internasional.
Yang tidak kalah penting, Indonesia perlu mempertahankan posisi strategis yang independen: tegas pada prinsip kemanusiaan, aktif dalam diplomasi, dan konsisten menjaga ruang dialog.
Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, suara yang tenang tetapi tegas justru semakin dibutuhkan.
Penutup
Gaza hari ini memang tidak lagi berada pada puncak perang seperti sebelumnya.
Namun, Gaza juga belum damai.
Ketegangan keamanan masih tersisa, krisis kemanusiaan tetap berat, jalan politik belum menemukan titik temu, sementara perhatian dunia perlahan mulai bergeser.
Karena itu, Gaza tidak boleh dibaca hanya dari berkurangnya suara senjata.
Yang harus dilihat adalah apakah rasa aman, keadilan, dan masa depan benar-benar sedang dibangun.
Sampai hari ini, jawabannya masih belum.
Selama akar konflik belum diselesaikan secara adil, bermartabat, dan berkelanjutan, perdamaian akan tetap menjadi harapan yang rapuh.
Gaza Belum Usai.
Sebab perang dapat berhenti karena kelelahan, tetapi perdamaian hanya lahir ketika keberanian politik hadir untuk menyelesaikan akar persoalan secara adil dan dunia memilih untuk tidak berpaling dari tanggung jawabnya.(*)
Jakarta, Mei 2026