
Doktor Enha selfie bersama peserta Bimtek.
PURBALINGGA, EDUKATOR–Guru didorong memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bijak untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, namun tidak menjadikan teknologi sebagai pengganti peran pendidik.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom., saat menjadi narasumber dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Digital Berbasis Artificial Intelligence (AI) yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Purbalingga, Rabu (5/8/2026). Kegiatan hari kedua itu diikuti para guru di Purbalingga.
Dalam pemaparannya, Dr Nurul Hidayat yang akrab disapa Doktor Enha menjelaskan, AI generatif merupakan teknologi kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan berbagai konten baru berdasarkan perintah (prompt) yang diberikan pengguna.
Konten tersebut dapat berupa tujuan pembelajaran, modul ajar, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan presentasi, soal, rubrik penilaian, hingga media pembelajaran.
Meski demikian, seluruh hasil yang dihasilkan AI tetap harus diverifikasi guru sebelum diterapkan dalam proses belajar mengajar.
“AI merupakan asisten profesional, tetapi keputusan pembelajaran tetap berada di tangan guru,” tegas Nurul Hidayat.
Kualitas Prompt Menentukan Hasil AI
Menurut Nurul Hidayat, kualitas keluaran AI sangat bergantung pada kualitas prompt atau instruksi yang diberikan pengguna. Semakin jelas tujuan, konteks, karakteristik murid, kurikulum, dan bentuk keluaran yang diinginkan, semakin relevan pula hasil yang dihasilkan AI. Sebaliknya, prompt yang terlalu singkat hanya akan menghasilkan jawaban yang bersifat umum.
Untuk memperjelas hal tersebut, ia memberikan contoh sederhana. Seorang guru yang hanya menulis prompt “Buatkan modul ajar IPA” kemungkinan akan memperoleh jawaban yang masih umum.
Namun, jika guru menulis instruksi yang lebih lengkap, misalnya, “Bertindaklah sebagai guru IPA SMP kelas VII. Buatkan modul ajar materi Ekosistem untuk alokasi waktu 2 × 40 menit menggunakan model Problem Based Learning sesuai Kurikulum Merdeka. Sertakan tujuan pembelajaran, langkah kegiatan, asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif, serta rubrik penilaian menggunakan bahasa yang mudah dipahami murid,” maka AI akan menghasilkan perangkat pembelajaran yang jauh lebih sesuai dengan kebutuhan guru.
Guru Tetap Pengambil Keputusan
Nurul Hidayat menegaskan bahwa AI hanya berfungsi sebagai asisten profesional yang membantu mempercepat pekerjaan guru, bukan menggantikan perannya. AI dapat menyusun RPP, membuat soal, atau merancang rubrik penilaian hanya dalam hitungan detik. Namun, guru tetap harus menelaah hasil tersebut sebelum digunakan di kelas.
Sebagai contoh, apabila AI membuat 20 soal evaluasi, guru tetap harus memeriksa apakah tingkat kesulitannya sesuai dengan kemampuan murid, apakah materi sudah sejalan dengan capaian pembelajaran, serta apakah contoh-contoh yang digunakan relevan dengan lingkungan belajar murid.
Demikian pula ketika AI menyusun RPP, guru berhak mengubah metode pembelajaran, contoh kasus, maupun bentuk asesmen agar sesuai dengan kondisi nyata di kelas.
“Keputusan akhir tetap berada di tangan guru karena hanya guru yang memahami karakter, kemampuan, dan kebutuhan belajar muridnya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para guru untuk selalu memeriksa keakuratan informasi yang dihasilkan AI, menjaga kerahasiaan data murid, serta tidak mengunggah informasi sensitif ke platform AI publik. Langkah tersebut penting agar pemanfaatan AI tetap aman, etis, dan bertanggung jawab.
AI Tingkatkan Efektivitas Pembelajaran
Lebih lanjut, Nurul Hidayat menjelaskan bahwa AI generatif dapat dimanfaatkan untuk mempercepat penyusunan perangkat pembelajaran, membuat soal beserta kunci jawaban, menyusun rubrik penilaian, menghasilkan bahan ajar, hingga merancang aktivitas belajar yang sesuai dengan kebutuhan murid.
Dengan bantuan AI, guru memiliki lebih banyak waktu untuk membimbing, mendampingi, dan membangun karakter murid, yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Melalui Bimtek Literasi Digital Berbasis AI tersebut, para guru diharapkan mampu menyusun prompt yang efektif, memahami etika penggunaan AI, mengenali potensi kesalahan atau halusinasi AI, serta memanfaatkan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab guna meningkatkan mutu pendidikan. (Prasetiyo)