
Oleh: Mayjen TNI (Purn.) Fulad, S.Sos,M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)
Pendahuluan
Perang Iran-Israel yang sedang berlangsung saat ini, termasuk serangan balasan Hizbullah di Lebanon yang terkoordinasi rapi, telah membuktikan satu hal: sebuah negara bisa tetap bertempur, bahkan menang, tanpa jenderal di pusat. Iran kehilangan pimpinan Garda Revolusi, kepala staf, hingga hampir seluruh rantai komando vertikal. Namun mereka tidak runtuh. Sebaliknya, mereka tetap melawan.
Lalu bagaimana TNI? Mari kita jujur. Jenderal yang takut memberi kepercayaan kepada bawahannya adalah ancaman terbesar bagi institusi ini. Lebih berbahaya dari rudal musuh. Lebih berbahaya dari drone. Karena ia melumpuhkan sistem dari dalam dengan dalih disiplin dan hierarki.
Tulisan ini bukan untuk memuji Iran, melainkan untuk membuka mata bahwa perang modern tidak memberi waktu bagi komandan yang harus meminta izin untuk setiap gerakan.
Ketika Iran Berperang Tanpa Komando Pusat
Saya membaca berbagai laporan, baik dari sumber terbuka, kolega di PBB, maupun hasil diskusi dengan perwira asing. Kesimpulannya sama: Iran telah membangun sistem bernama Mosaic Defence atau pertahanan mozaik.
Dalam sistem tersebut, setiap provinsi memiliki komando sendiri. Setiap komandan dilatih dan diberi wewenang mengambil keputusan tempur secara mandiri tanpa harus menunggu instruksi dari Teheran.
Hasilnya, ketika serangan pemenggalan Israel melumpuhkan pusat komando, Iran tidak panik. Para komandan di lapangan sudah mengetahui apa yang harus dilakukan. Mereka bergerak sendiri-sendiri, tetapi tetap memiliki arah yang sama.
Contoh paling nyata terlihat pada Hizbullah di Lebanon. Ketika Israel menggempur habis-habisan, banyak pihak memperkirakan respons Iran akan melambat karena pusat komandonya porak-poranda. Yang terjadi justru sebaliknya. Serangan roket dan drone meningkat karena para komandan Hizbullah tidak menunggu perintah dari Teheran. Mereka telah memiliki otonomi dengan pemahaman yang sama mengenai tujuan strategis perang.
Inilah yang disebut desentralisasi taktis. Iran membuktikannya di medan perang sesungguhnya, bukan hanya dalam ruang rapat.
TNI Masih Terjebak Budaya “Izin Dulu”
Sekarang mari melihat diri sendiri.
Berapa banyak komandan batalyon, kodim, atau satuan tugas di luar negeri, termasuk di misi PBB, yang harus meminta izin ke Jakarta untuk menembak drone yang sudah melayang di atas kepalanya?
Berapa banyak keputusan taktis yang harus naik turun tangga birokrasi sementara musuh sudah bergerak?
Saya memahami bahwa tradisi hierarki sangat penting. Namun hierarki yang terlalu kaku bukan lagi disiplin, melainkan kelumpuhan.
Seorang perwira senior dari negara Nordik pernah berkata kepada saya di sela-sela sidang PBB:
“Kami dulu dilatih menunggu perintah. Sekarang kami melatih prajurit bertindak, lalu melapor setelahnya. Perbedaannya hanya satu kata: kepercayaan.”
Kepercayaan adalah komoditas paling langka di organisasi kita. Banyak jenderal enggan memberi kepercayaan karena khawatir bawahannya melakukan kesalahan. Akibatnya, seluruh keputusan ditarik ke atas dan pusat komando berubah menjadi botol yang tersumbat.
Padahal, dalam perang modern, kecepatan jauh lebih berharga daripada kesempurnaan. Drone seharga sepeda motor mampu menghancurkan tank bernilai jutaan dolar hanya dalam hitungan detik. Tidak ada jenderal yang cukup cepat untuk memutuskan semuanya dari belakang meja.
Tiga Fakta Yang Harus Kita Telan Pahit
Saya tidak perlu basa-basi. Ada tiga fakta yang harus dihadapi.
Pertama, tidak ada jenderal yang mampu melihat seluruh medan perang secara real time. Mereka yang mengaku bisa sesungguhnya sedang menipu diri sendiri. Karena itu, keputusan harus diambil sedekat mungkin dengan sumber ancaman.
Kedua, otonomi taktis bukanlah pembangkangan. Otonomi adalah pelimpahan wewenang dengan batasan yang jelas. Dalam istilah militer kita, konsep ini dikenal sebagai mission command. Konsep tersebut diajarkan di sekolah staf, tetapi hampir tidak pernah diterapkan karena budaya takut salah.
Ketiga, jika pusat komando TNI dilumpuhkan besok pagi, saya khawatir banyak satuan di lapangan hanya akan diam menunggu perintah yang tidak pernah datang. Itu adalah kegagalan kepemimpinan, bukan kegagalan prajurit.
Jenderal Yang Takut Memberi Kepercayaan: Ancaman Nomor Satu
Kini saya sampai pada inti persoalan.
Musuh kita bukan hanya negara asing atau kelompok separatis. Musuh terbesar TNI justru jenderal-jenderalnya sendiri yang takut melepaskan kendali.
Mereka berdalih menjaga disiplin, padahal sedang membangun sistem yang rapuh. Mereka mengaku profesional, tetapi tidak berani mempercayai profesionalisme bawahannya.
Lihat Iran. Mereka mungkin tidak lebih pintar dari kita, tetapi mereka berani membangun sistem yang memungkinkan komandan provinsi bertempur tanpa pusat komando.
Sebaliknya, kita masih sibuk membuat prosedur berlapis-lapis agar tidak ada yang bertindak tanpa persetujuan atasan.
Akibatnya, Iran yang pusat komandonya luluh lantak tetap mampu melawan dan mengoordinasikan Hizbullah. Sementara kita, dengan pusat komando yang aman di Jakarta, masih memperdebatkan format laporan.
Malu, tidak?
Saya tidak sedang merendahkan Iran. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kelemahan kita bukan terletak pada teknologi ataupun kecerdasan prajurit.
Kelemahan terbesar kita adalah keberanian pemimpin untuk memberikan kepercayaan.
Penutup
Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah cerita.
Di New York, seorang perwira senior dari negara yang pernah hancur akibat perang saudara berkata kepada saya,
“Jenderal, dulu kami terlalu percaya pada peta dan rencana. Sekarang kami percaya pada orang yang memegang senjata. Karena peta tidak pernah sesuai medan, tetapi manusia bisa menyesuaikan.”
Saya tidak sepenuhnya setuju.
Peta tetap penting. Rencana tetap diperlukan. Namun saya sepakat bahwa manusia di lapangan, apabila dibekali pelatihan yang tepat dan diberikan kepercayaan, merupakan aset yang tidak tergantikan.
Karena itu, tulisan ini bukan seruan untuk membuang hierarki. Bukan pula ajakan meniru Iran secara membabi buta.
Ini adalah seruan untuk berani: berani percaya, berani melimpahkan kewenangan, dan berani menerima bahwa bawahan mungkin membuat kesalahan, karena itu jauh lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.
Pertanyaan terakhir untuk teman-teman sejawat:
Jika besok pagi Anda tidak lagi berada di pucuk komando, entah karena pensiun atau karena rudal musuh, apakah sistem yang Anda bangun akan tetap berjalan?
Apakah prajurit Anda akan tetap bertempur?
Ataukah mereka hanya diam menunggu perintah yang tidak pernah datang?
Jawaban atas pertanyaan itulah ukuran sejati kepemimpinan Anda.
Bukan pangkat.
Bukan pula bintang di pundak.
Karena pada akhirnya, jenderal yang takut memberi kepercayaan bukanlah seorang pemimpin.
Ia hanyalah penghalang.
Jakarta, Juni 2026