*Buka Peluang Usaha Ramah Lingkungan

Foto bersama di sela-sela pembuatan arang briket. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).
PURBALINGGA, EDUKATOR–Kelompok Wanita Tani (KWT) Mardi Rahayu Desa Kalialang, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, mengubah limbah sekam padi menjadi arang briket bernilai ekonomi. Inovasi pemanfaatan limbah pertanian tersebut diperkenalkan melalui kegiatan edukasi yang dilaksanakan Selasa (4/8/2026) di Desa Kalialang, sebagai solusi mengurangi limbah .
Hal itu sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat melalui produk bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.
Kegiatan edukasi ini merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Perwira Purbalingga (Unperba) Tahun 2026 Kelompok 3 di Desa Kalialang. Program kerja individu tersebut merupakan gagasan Galuh Banowati, mahasiswi Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Perwira Purbalingga (Unperba), di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Siska Irma Budianti, S.Si., M.Sc.
Proses pembuatan arang briket. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).
Untuk penyusunan materi mendapat pendampingan akademik dari Niken Hapsari Arimurti, S.P., M.P., yang juga dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknik, Unperba.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, inovasi pemanfaatan limbah pertanian ini diharapkan dapat berkembang menjadi peluang usaha berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Kalialang.
Proses pembuatan arang briket. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).
Ketua KWT Mardi Rahayu Kalialang, Murti Wardiastuti, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, sekam padi yang selama ini sering dianggap sebagai limbah tidak bernilai kini dapat diolah menjadi produk yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.
“Selama ini sekam padi sering kali hanya dibuang atau dibakar begitu saja. Melalui pelatihan ini, masyarakat mengetahui bahwa limbah tersebut dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual dan bermanfaat bagi lingkungan,” ujar Murti.
Sekam Padi Diolah Melalui Proses Sederhana
Arang briket sekam padi dibuat melalui beberapa tahapan, mulai proses karbonisasi hingga sekam berubah menjadi arang. Setelah itu, arang dihaluskan menjadi serbuk, kemudian dicampur dengan perekat dari tepung tapioka dan air. Adonan tersebut selanjutnya dicetak dan dikeringkan hingga siap digunakan maupun dipasarkan.
Tunjukkan arang briket. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR).
Proses pembuatan briket relatif mudah karena menggunakan peralatan sederhana, seperti wajan, kompor, baskom, cetakan paralon, dan pipa PVC. Bahan yang digunakan juga mudah diperoleh, yaitu sekam padi, tepung tapioka, air, serta bahan bakar untuk proses pembakaran.
Dibandingkan kayu bakar, arang briket memiliki sejumlah keunggulan. Produk ini mampu menghasilkan panas yang lebih stabil dan tahan lama, menghasilkan asap lebih sedikit, mudah disimpan, serta memanfaatkan limbah pertanian sehingga lebih ramah lingkungan.
Berpotensi Jadi Produk Unggulan Desa
Dari sisi ekonomi, arang briket sekam padi memiliki peluang pasar yang cukup menjanjikan. Produk tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM kuliner, pedagang sate, rumah makan, pengelola tempat wisata, hingga masyarakat umum sebagai bahan bakar alternatif.
Harga jual arang briket di pasaran berkisar Rp5.000–Rp10.000 untuk kemasan 500 gram dan Rp15.000–Rp25.000 untuk kemasan 1 kilogram, tergantung kualitas produk dan biaya produksi.
Murti berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Kalialang secara berkelompok dan berkelanjutan. Menurutnya, pengolahan sekam padi menjadi briket tidak hanya membantu mengatasi persoalan limbah pertanian, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan warga.
“Jika dikelola dengan baik, arang briket ini dapat menjadi salah satu produk unggulan desa,” katanya.
Kolaborasi Unperba dan Masyarakat
Melalui sinergi antara Universitas Perwira Purbalingga (Unperba) dan masyarakat Desa Kalialang, pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah diharapkan dapat terus dikembangkan.
Inovasi tersebut tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi warga, tetapi juga mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih bijaksana dan berkelanjutan.(Budi Yuswinanto/Prs)