
Tukijo, S.Pd, M.Pd, guru Bahasa Jawa SMPN 17 Semarang.
SEMARANG, EDUKATOR–Membaca dan menulis aksara Jawa masih menjadi materi yang sulit dipahami masyarakat, termasuk pelajar Generasi Alpha atau Gen Alpha. Generasi yang lahir pada tahun 2010-2025 ini, tumbuh di era digital dan sangat akrab dengan teknologi serta internet.
Berangkat dari kondisi itu, guru Bahasa Jawa SMP Negeri 17 Semarang, Tukijo S.Pd., M.Pd , menciptakan berbagai aplikasi pembelajaran Bahasa Jawa, dan salah satu aplikasi yang cukup dikenal adalah “Jawara” (Jawa Wasis Rancag Aksara).

Tampilan Jawara
Tukijo mengemukakan, berdasarkan analisis kebutuhan murid dan guru, persentase kesulitan belajar paling banyak ditemukan pada materi aksara Jawa.
Hal itu diperkuat hasil survei di Purbalingga, Magelang, Boyolali, dan Semarang yang menunjukkan bahwa aksara Jawa masih menjadi materi paling sulit dipelajari murid. Karena itu, penggunaan media digital dinilai penting sebagai alat bantu pembelajaran.
Untuk itu, Tukijo menciptakan aplikasi Jawara, yang disesuaikan dengan minat dan gaya belajar murid kekinian. “Digitalisasi dalam pembelajaran Bahasa Jawa bisa dilakukan dengan media berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang memang disukai Gen Alpha,” kata Tukijo kepada EDUKATOR di Semarang, Sabtu (23/5/2026).
Inovasi Digital Sesuai Gaya Belajar Gen Alpha
Menurut Tukijo, Gen Alpha memiliki karakter belajar yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Generasi ini tumbuh bersama gawai dan internet sehingga lebih menyukai pembelajaran visual, interaktif, cepat, dan berbasis teknologi digital.
Selain itu, Gen Alpha juga dikenal lebih akrab dengan video, animasi, media sosial, aplikasi smartphone, serta pembelajaran yang fleksibel dan tidak monoton. Karena itu, metode belajar konvensional dinilai kurang efektif jika tidak dipadukan dengan media digital.
Karena itu, guru yang dikenal sebagai pejuang digital itu mengembangkan berbagai media pembelajaran, mulai dari video, audio, animasi, multimedia interaktif, hingga mobile learning berbasis smartphone.
“Bahkan saya membuat multimedia interaktif atau mobile learning untuk materi tertentu. Disesuaikan dengan gaya belajar Gen Alpha kekinian,” tutur Tukijo , kelahiran Cilacap ini.
,
Tukijo yang juga mahasiswa S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa di Universitas Negeri Semarang menegaskan, inovasi tersebut menjadi salah satu cara merawat bahasa dan aksara Jawa di dunia pendidikan.
“Inilah cara saya merawat bahasa dan aksara Jawa di ranah pendidikan melalui inovasi berbagai model, media, dan metode,” katanya.
Aplikasi Jawara Permudah Belajar Aksara Jawa
Salah satu inovasi yang dikembangkan Tukijo adalah aplikasi mobile learning Jawa Wasis Rancag Aksara atau Jawara. Aplikasi berbasis digital itu dirancang untuk membantu murid membaca, menulis, dan memahami aksara Jawa secara interaktif melalui smartphone.
Menurut Tukijo, aplikasi Jawara dibuat karena banyak murid mengalami kesulitan memahami aksara Jawa jika hanya belajar melalui buku cetak dan metode konvensional. Karena itu, pembelajaran kemudian dikemas lebih menarik dengan pendekatan visual, audio, animasi, dan latihan interaktif.
Di dalam aplikasi Jawara terdapat materi membaca aksara Jawa, menulis huruf Jawa, penggunaan pasangan, penyusunan kalimat, hingga latihan menulis paragraf sederhana. Aplikasi tersebut juga dilengkapi contoh soal, gladhen atau latihan mandiri, serta evaluasi hasil belajar secara langsung.
Tukijo menjelaskan, aplikasi Jawara dilengkapi fitur chatbot berbasis AI dan Natural Language Processing (NLP) yang membantu murid memperoleh materi secara cepat.
“Generate sistem aplikasi akan memberikan informasi materi,” ujarnya.
Melalui fitur tersebut, murid dapat mencari materi tertentu, bertanya tentang penulisan aksara Jawa, hingga memperoleh panduan belajar secara praktis melalui smartphone.
Selain itu, aplikasi Jawara memungkinkan murid belajar kapan saja dan di mana saja tanpa harus menunggu pembelajaran di kelas. Sistem mobile learning itu dinilai lebih sesuai dengan karakter pelajar masa kini yang terbiasa menggunakan gawai dalam aktivitas sehari-hari.
Dalam penggunaannya, murid cukup mengunduh dan memasang aplikasi di telepon pintar. Setelah itu, mereka dapat membuka materi pembelajaran, mengerjakan latihan soal, hingga melihat hasil belajar secara real time.
Menurut Tukijo, aplikasi Jawara juga memudahkan guru memantau perkembangan belajar murid. Guru dapat mengetahui tingkat pemahaman murid melalui hasil latihan dan evaluasi yang dikerjakan secara digital.
Dalam aplikasi tersebut terdapat tiga capaian pembelajaran utama, yakni murid mampu membaca dan menulis tembung nganggo aksara Jawa nglegena lan pasangan, membaca dan menulis ukara nganggo aksara Jawa, serta membaca dan menulis paragraf nganggo aksara Jawa secara terampil.
Dikembangkan Lewat Riset dan Uji Kelas
Pengembangan bahan ajar digital tersebut dilakukan melalui sejumlah tahapan. Mulai dari analisis kebutuhan murid dan guru, penyusunan desain media, pengembangan aplikasi, hingga uji materi dan uji media oleh para pakar.
Setelah itu, media pembelajaran diuji langsung di kelas untuk mengetahui efektivitas penggunaannya.
“Bagaimana efektivitasnya, respons murid dan guru, sehingga progres penggunaannya dalam pembelajaran akan terbukti,” kata Tukijo.
Menurut Tukijo, penggunaan media digital selama ini terbukti mendapat respons positif dari murid. Bahkan latihan soal atau gladhen juga dilakukan secara digital menggunakan telepon pintar murid.
“Mereka bisa langsung mengerjakan real time hasilnya,” ungkap Tukijo, penulis 14 buku pembelajaran Bahasa Jawa ini.
Selain memanfaatkan aplikasi di smartphone, Tukijo juga menggunakan Flat Interactive Panel (IFP) untuk pembelajaran bahasa Jawa berbasis digital di kelas.
Revitalisasi Bahasa Daerah
Sebagai guru yang juga insttruktut pembelajaran Bahasa Jawa, Tukijo juga aktif menjadi narasumber revitalisasi bahasa daerah yang diselenggarakan Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia kerap memberikan pelatihan kepada guru SD dan SMP se-Jawa Tengah dengan tujuh materi utama, yakni pidato, dongeng, geguritan, stand up comedy Jawa, menulis cerkak, macapat, dan aksara Jawa.
“Tujuannya agar bahasa daerah tetap lestari dan digunakan dalam keseharian tunas muda,” ujar Tukijo, yang pernah menyabet juara 1 lomba menulis cerpen HUT Ke-80 PGRI tingkat Jateng tahun 2025 ini. (Prasetiyo)