Monumen Pers Nasional Surakarta, Saksi Perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia

Bagikan :

*Jadi Laboratorium Pelajar dan Mahasiswa

Gedung Monumen Pers Nasional (MPN) di Surakarta. (Foto: Dokumen MPN Surakarta/EDUKATOR)

SURAKARTA, EDUKATOR–Deretan mesin ketik tua, tumpukan surat kabar lama, serta rekaman jejak perjuangan wartawan menyambut setiap langkah pelajar dan mahasiswa yang memasuki Monumen Pers Nasional (MPN) di Kota Surakarta. Museum pers terbesar di Indonesia ini menjelma menjadi ruang belajar hidup, tempat generasi muda memahami perjalanan bangsa melalui arsip media massa yang autentik dan sarat nilai sejarah.

Pemimpin Redaksi EDUKATOR, Prasetiyo menunjukkan Tabloid EDUKATOR di kantor MPN Surakarta, yang siap dikoleksi di gedung bersejarah ini. 

Mesin ketik kuno, alat untuk menulis berita bagi wartawan pada zamannya, sebelum ada komputer, laptop, gadget, tablet, hingga ponsel pintar (Smartphone). (Foto: Prasetiyo/EDUKATOR)

Ribuan pelajar dan mahasiswa  setiap tahun memanfaatkan monumen ini sebagai laboratorium pembelajaran. Pembelajaran tidak lagi sebatas teori di ruang kelas, melainkan diperkuat dengan bukti visual, dokumentasi sejarah asli, serta pengalaman menyaksikan langsung perkembangan teknologi jurnalistik dari masa ke masa.

Kunjungan pelajar dan mahasiswa. (Foto: Prasetiyo/EDUKATOR)

Monumen bersejarah ini beralamat di Jalan Gajah Mada Nomor 59, Kelurahan Timuran, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah, lokasi strategis yang mudah dijangkau dari arah manapun.

Saksi Sejarah Lahirnya PWI 
Bangunan cagar budaya ini berdiri sejak 1918 dengan nama Societeit Sasana Soeka atas prakarsa penguasa Mangkunegaran, Mangkunegara VII. Gedung tersebut awalnya menjadi balai pertemuan dan pusat kegiatan sosial masyarakat.

MPN  berdiri di Surakarta , karena kota ini merupakan tempat lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia  (PWI) pada 9 Februari 1946. Gedung bersejarah yang digunakan untuk kongres wartawan saat awal kemerdekaan ini, menjadi saksi bersatunya insan pers dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Nilai historis inilah yang menjadikan Solo sebagai pusat pelestarian sejarah pers nasional.

Bagi PWI, Solo memiliki makna istimewa karena menjadi titik awal pers Indonesia terorganisasi secara nasional. Dari kota inilah semangat persatuan wartawan tumbuh, menjadikan Solo simbol lahirnya solidaritas dan profesionalisme insan pers Indonesia.

Prasasti peresmian Monumen Pers Nasional (MPN) Surakarta, ditandatangani oleh Presiden Soeharto, 9 Februari  tahun 1978 bersamaan dengan HUT ke 32  PWI. (Foto: Prasetiyo/EDUKATOR)

Pusat Edukasi Pers Generasi Muda
Kasubag Umum MPN, Kuncoro Mahendro Suryo mengatakan, MPN tidak hanya menjadi tempat penyimpanan sejarah pers Indonesia, tetapi juga dikembangkan sebagai media belajar interaktif bagi pelajar  dan mahasiswa, agar memahami peran penting pers dalam kehidupan demokrasi.

Menurutnya, meningkatnya kunjungan rombongan sekolah dan perguruan tinggi belakangan ini, menunjukkan tingginya kebutuhan pembelajaran berbasis literasi media.

“Melalui koleksi arsip media, peralatan jurnalistik, serta program literasi, kami ingin menumbuhkan kesadaran generasi muda agar semakin cerdas bermedia dan menghargai perjuangan insan pers,” kata Kuncoro Mahendro Suryo kepada EDUKATOR, Senin (23/3/2026).

Bagian-bagian Monumen yang Sarat Edukasi
MPN memiliki sejumlah bagian penting yang terintegrasi sebagai sarana edukasi. Gedung induk cagar budaya menjadi pusat aktivitas sekaligus ikon bangunan bersejarah.

Ruang pameran tetap menampilkan diorama sejarah pers Indonesia secara kronologis. Ruang pameran temporer digunakan untuk pameran tematik seperti foto jurnalistik dan karikatur pers.

Koleksi tas dan kamera milik Fuad Muhammad Syafruddin, wartawan Bernas Yogyakarta, yang dibunuh  oleh orang tidak bertanggungjawab di rumahnya di Bantul, Yogyakarta. Udin–demikian panggilan akrabnya–akhirnya meninggal dunia 16 Agustus 1996.  (Foto: Prasetiyo/EDUKATOR) 

Ruang arsip dan dokumentasi menyimpan ribuan koleksi surat kabar, majalah, tabloid, dan buletin yang menjadi rujukan riset mahasiswa. Ruang audio visual dimanfaatkan untuk pemutaran film dokumenter sejarah pers.

Perpustakaan dan pusat referensi menyediakan literatur jurnalistik dan komunikasi massa. Tersedia pula ruang koleksi peralatan jurnalistik berisi mesin ketik manual, kamera analog, mesin cetak klasik, dan perangkat radio lama.

Koleksi radio kuno. (Foto: Prasetiyo/EDUKATOR) 

Fasilitas lain meliputi galeri foto dan karikatur pers, ruang digitalisasi arsip, ruang workshop dan seminar, ruang layanan edukasi, serta halaman dan taman edukatif untuk kegiatan luar ruangan.

Ada Surat Kabar Terbitan Tahun 1820
Monumen ini menjadi pusat dokumentasi media massa terbesar di Indonesia. Salah satu koleksi berharganya adalah surat kabar tertua yang terbit pada tahun 1820, penanda awal perkembangan pers di Nusantara.

Tumpukan koran lama dari berbagai terbitan di seluruh Indonesia antara tahun 1970-an hingga 1990-an. Sebagian ada yang sudah disimpan dalam bentuk digital. Bahkan ada koleksi sebelum tahun 1970-an.(Foto: Prasetiyo/EDUKATOR)

Selain itu, tersimpan sekitar 526 judul surat kabar dari berbagai daerah dan periode penerbitan. Koleksi lainnya mencakup sekitar 405 judul majalah dan buletin, termasuk tabloid serta media komunitas.

Seluruh arsip tersebut menjadi rujukan penting bagi mahasiswa, peneliti, dan akademisi di bidang komunikasi, jurnalistik, dan sejarah.

Seorang pegawai MPN Surakarta sedang mendokumentasikan koran-koran lama ke dalam bentuk digital, agar mudah diakses masyarakat. (Foto: Prasetiyo/EDUKATOR) 

Layanan Digital dan Perpustakaan Raksasa
Penguatan layanan digital menjadi keunggulan MPN dalam mendukung pembelajaran modern.

Fasilitas perpustakaan menyimpan sekitar 150 ribu judul buku dan referensi, menjadikannya salah satu pusat literatur komunikasi dan jurnalistik terlengkap di Indonesia. Seluruh koleksi dapat diakses pengunjung sebagai bahan belajar dan riset.

Layanan virtual tour memungkinkan masyarakat menjelajahi museum secara daring tanpa harus datang langsung ke Surakarta.Simak https://mpn.komdigi.go.id/virtual2/

Tersedia pula layanan e-paper yang memudahkan pengunjung membaca koleksi surat kabar dan media cetak kuno secara digital serta mengajukan permintaan artikel sesuai kebutuhan.

MPN juga rutin menyelenggarakan berbagai event edukatif seperti pameran, diskusi publik, seminar, dan pelatihan literasi media.

Bagi rombongan pelajar dan mahasiswa, tersedia layanan reservasi kunjungan agar kegiatan tur edukatif mendapat pendampingan maksimal dari pemandu.

Gratis
Lingkungan monumen yang nyaman menjadikannya destinasi wisata edukasi favorit rombongan sekolah dan kampus. Halaman luas dimanfaatkan sebagai taman edukatif dan ruang diskusi luar ruangan.

MPN juga terbuka untuk umum, tanpa biaya masuk alias gratis, sehingga ramah bagi kunjungan pendidikan.

Simbol Sejarah dan Literasi Media Indonesia
Sebagai tempat lahirnya PWI, MPN memiliki nilai simbolis kuat dalam perjalanan sejarah bangsa.

Kini, monumen tersebut berkembang menjadi pusat literasi media yang menjembatani generasi muda dengan nilai perjuangan pers nasional.

MPN pun berdiri sebagai ruang belajar lintas generasi — tempat sejarah, pendidikan, teknologi, dan literasi media bertemu dalam satu ruang inspiratif.

Kasubag Umum MPN, Kuncoro Mahendro Suryo (kiri) bersama Pemimpin Redaksi EDUKATOR, Prasetiyo.  

Monpers Festbruari
Pada bagian lain, Kuncoro Mahendro Suryo mengatakan, pada Februari 2026 lalu,  MPN menggelar Monpers Festbruari 2026 sebagai rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) sekaligus hari jadi ke 48 MPN Surakarta.  Kegiatan edukatif ini berlangsung selama lima hari, 10–14 Februari 2026, di kompleks MPN Surakarta.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan pada 10 Februari 2026, yang menjadi penanda dimulainya seluruh agenda yang telah disiapkan. Pada hari yang sama, diselenggarakan pula Pameran “Warta Pariwara” serta Pelatihan Bahasa Mandarin yang memberikan wawasan dan keterampilan baru bagi para peserta.

Pameran Warta Pariwara. (Foto: Dokumen MNP Surakarta/EDUKATOR).

Memasuki hari kedua, 11 Februari 2026, kegiatan dilanjutkan dengan seminar hybrid bertajuk “Iklan Sebagai Cermin Budaya”. Seminar ini menghadirkan perspektif menarik tentang peran iklan dalam merefleksikan nilai-nilai sosial dan budaya di masyarakat.

Selanjutnya, pada 12 Februari 2026, digelar kegiatan Bedah Buku Koleksi Monumen Pers Nasional yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk lebih mengenal khazanah literasi dan sejarah pers di Indonesia.

Di sisi lain, Lomba Poster bertema “Pelindungan Anak di Ruang Digital” telah berlangsung sejak 1 hingga 11 Februari 2026, sebagai upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan anak di era digital.

Juara Lomba Poster Monpers Festbruari. (Foto: Dokumentasi MPN Surakarta/EDUKATOR)

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan Lomba Menggambar dan Mewarnai pada 14 Februari 2026, yang diikuti dengan penutupan resmi kegiatan di hari yang sama.

Lomba Menggambar Monpers Festbruari (Foto: Dokumentasi MPN Surakarta/EDUKATOR)

Selanjutnya dikatakan, kegiatan ini menjadi media edukasi sejarah pers sekaligus sarana literasi publik yang dikemas secara menarik dan interaktif.

“Monpers Festbruari kami selenggarakan sebagai ruang edukasi masyarakat, sekaligus bentuk apresiasi terhadap perjalanan panjang pers nasional. Kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan koleksi dan layanan MPN kepada generasi muda,” ujarnya.

“Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar sesuai jadwal. Kami juga mencatat adanya peningkatan partisipasi pengunjung, baik yang hadir langsung maupun daring,” tambah Kuncoro.

Melalui kegiatan ini, MPN berharap dapat memperkuat perannya sebagai pusat informasi, edukasi, dan pelestarian sejarah pers Indonesia, sekaligus meningkatkan minat masyarakat terhadap literasi media di era digital.

“Melalui kegiatan ini pula, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan sekaligus memperkuat fungsi MPN sebagai pusat literasi dan dokumentasi sejarah pers Indonesia,” ujarnya. (Prasetiyo)

 

 

BERITA TERKINI

Gemini_Generated_Image_x6c048x6c048x6c0 (1)
Puan Soroti Nasib Guru Honorer yang Minim Kesejahteraan
ijti2
Bawaslu Purbalingga dan IJTI Banyumas Raya Jalin Kerja Sama
dagan6
BNN Purbalingga Latih Agen Pemulihan IBM Desa Dagan
selangor1
Selangor Tertarik Sistem Sampah Banyumas, Siap Kerja Sama
Smiling portrait in winter attire
Selat Hormuz, Blokade, dan Jebakan Non-Blok