*Manfaatkan Kulit Jeruk dan Daun Sirih

Nasya Keyla Rasya Putri bersama kawan-kawannya sedang membuat Sabujerih, sabun ramah lingkungan berbahan kukit jeruk dan daun sirih. (Foto: Istimewa/EDUKATOR).
PURBALINGGA, EDUKATOR–Berawal dari keprihatinan terhadap penggunaan sabun berbahan kimia yang tidak ramah lingkungan, Nasya Keyla Rasya Putri, murid 4 SD Negeri 1 Tumanggal, Kecamatan Pengadegan, Purbalingga bersama kawan-kawannya berhasil menciptakan “Sabujerih” (Sabun Jeruk Sirih). Yakni sabun alami berbahan kulit jeruk dan daun sirih. Saat ini, tanaman jeruk dan sirih banyak tumbuh di lingkungan sekolah itu.
Inovasi “Sabujerih” lahir melalui pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), yang menjadi bukti bahwa limbah organik dapat diolah menjadi produk kebersihan yang bermanfaat sekaligus ramah lingkungan.
Inilah Sabujerih,inovasi karya murid SDN 1 Tumanggal.(Foto: Istimewa/EDUKATOR).
Sabujerih merupakan karya Nasya di bawah bimbingan guru kelas, Nuraningsih, S.Pd.SD. Saya mengapresiasi inovasi itu sebagai bagian dari proyek pembelajaran IPAS yang mengintegrasikan sains dengan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Plt Kepala SDN 1 Tumanggal Musriah, S.Pd.SD., M.Pd. kepada EDUKATOR, Senin (13/7/2026).
Musriah menjelaskan, murid SDN 1 Tmanggal tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Limbah Dapur Menjadi Produk Bernilai
Ide pembuatan Sabujerih muncul dari upaya mencari alternatif sabun yang lebih aman bagi lingkungan. Nasya memanfaatkan kulit jeruk dan daun sirih yang memiliki kandungan antibakteri alami untuk menghasilkan sabun cair yang efektif membersihkan sekaligus mengurangi limbah organik.
Proses pembuatannya cukup sederhana. Kulit jeruk dan daun sirih dicuci bersih, kemudian direbus dalam dua liter air selama sekitar 15 menit. Setelah disaring dan didinginkan, air rebusan dicampur sedikit sabun cair alami agar menghasilkan busa, lalu dikemas kembali dalam botol bekas yang telah diberi label Sabujerih
Produk tersebut dimanfaatkan untuk mencuci tangan, membersihkan toilet, hingga mendukung kegiatan kebersihan kelas. Aroma segar kulit jeruk serta kandungan alami daun sirih membuat sabun ini nyaman digunakan tanpa bergantung pada bahan kimia dalam jumlah besar.
Menanamkan Kepedulian Sejak Dini
Menurut Musriah, inovasi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS mampu mendorong murid berpikir kreatif sekaligus peka terhadap persoalan lingkungan di sekitarnya.
Bahan-bahan yang mudah ditemukan di rumah maupun sekolah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna apabila didukung kreativitas dan pendampingan guru.
“Kami berharap inovasi sederhana Sabujerih dapat menginspirasi murid lain untuk terus berkarya dan mencintai lingkungan sejak usia dini,” katanya.
Melalui Sabujerih, SD Negeri 1 Tumanggal tidak hanya mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan, tetapi juga menanamkan budaya mengurangi limbah dan memanfaatkan sumber daya di sekitar menjadi produk yang bermanfaat.
Inovasi tersebut menjadi contoh bahwa pembelajaran di sekolah dasar dapat melahirkan solusi sederhana yang berdampak positif bagi kesehatan dan kelestarian lingkungan. (Prasetiyo)