*Kereta Api Lembah Serayu/Serajoedal Stoomtram Maatschappij

Seorang pelajar sedang mengamati pameran arsip 130 tahun Kereta Api Lembah Sungai Serayu atau Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) di Hetero Space Purwokerto.
PURWOKERTO, EDUKATOR–Pameran arsip 130 tahun Kereta Api Lembah Sungai Serayu atau Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk menetapkan arsipnya sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB). Jejak peninggalan SDS yang tersebar di sejumlah wilayah juga dinilai layak didorong menjadi Cagar Budaya Peringkat Nasional (CBPN).
Harapan tersebut disampaikan Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara Heni Purwono saat mengunjungi Pameran Arsip bertajuk Banjoemas History Week di Hetero Space Purwokerto. Pameran yang digelar Banjoemas History Heritage Community (BHHC) tersebut berlangsung sejak Kamis hingga Minggu (13/9/2026) malam.
Ratusan pengunjung hadir dalam pameran yang mengangkat nostalgia perjalanan SDS selama 130 tahun. Beragam arsip dan dokumentasi perjalanan kereta api tersebut membuat pengunjung kembali mengenal sejarah transportasi serta perkembangan kawasan Banyumas Raya pada masa lalu.
Pameran arsip 130 tahun Kereta Api Lembah Sungai Serayu atau Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) di Hetero Space Purwokerto, menarik perhatian para pengunjung.
Arsip SDS Dinilai Penting untuk Penelitian
Heni menilai materi yang dipamerkan cukup lengkap untuk menggambarkan perjalanan SDS, mulai dari pendirian, pembangunan jalur, hingga operasionalnya. Sejumlah foto juga memperlihatkan kondisi bangunan peninggalan SDS yang hingga kini masih bertahan, meskipun sebagian lainnya telah rusak atau bahkan hilang.
“Arsip SDS sangat menarik untuk menggugah penelitian generasi muda,” ujar Heni.
Menurut Heni, jika arsip SDS dapat ditetapkan sebagai MKB, keberadaannya berpotensi memantik penelitian lanjutan. Terutama penelitian generasi muda di Banyumas Raya yang ingin mengungkap lebih jauh sejarah transportasi, ekonomi, dan perkembangan wilayah yang berkaitan dengan SDS.
Ia menilai pameran tersebut tidak seharusnya berhenti pada kekaguman terhadap masa lalu. Dokumentasi yang telah dikumpulkan perlu ditindaklanjuti melalui penelitian, pengarsipan, serta upaya pelestarian peninggalan SDS.
Kolaborasi Lintas Wilayah Perlu Diperkuat
Untuk mewujudkan langkah tersebut, Heni mendorong kolaborasi antarkomunitas dari berbagai wilayah. Dukungan pemerintah, termasuk Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Kementerian Kebudayaan, juga dinilai penting dalam penataan serta pelestarian arsip SDS.
Menurutnya, masih terbuka kemungkinan adanya arsip SDS yang tersimpan di tangan perorangan, terutama keluarga atau pihak yang memiliki keterkaitan dengan sejarah perusahaan kereta api tersebut.
“Pemerintah perlu memfasilitasi penataan arsip SDS secara lengkap,” tambah Heni.
Penataan arsip yang lebih sistematis, lanjutnya, akan memudahkan proses penelitian dan kajian untuk menentukan objek-objek peninggalan SDS yang memiliki nilai penting sebagai cagar budaya.
Jejak SDS sendiri tidak hanya berada di satu wilayah. Peninggalannya tersebar mulai dari Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Wonosobo hingga Banjarnegara. Karena memiliki cakupan lintas daerah, Heni menilai status cagar budaya terkait SDS layak dipertimbangkan setidaknya pada tingkat provinsi, bahkan nasional.
SDS dan Jejak Ekonomi Banyumas Raya
Sementara itu, kurator pameran Jatmiko Wicaksono mengatakan jalur kereta api SDS tidak hanya memiliki nilai sejarah dari sisi transportasi. Jalur tersebut juga menyimpan kisah tentang panorama wilayah, kompleksitas pembangunan infrastruktur, serta perkembangan komoditas perkebunan di Banyumas Raya.
Jatmiko mengungkapkan, penelitian selama tiga bulan di Belanda menemukan berbagai fakta menarik mengenai sejarah SDS. Salah satunya berkaitan dengan proses pembangunan jalur yang berlangsung alot akibat tarik-menarik kepentingan politik dan ekonomi Belanda pada masa itu.
“Pembangunan SDS memperlihatkan tarik ulur kepentingan kolonial,” jelas Jatmiko.
Menurutnya, jalur SDS pada awalnya direncanakan menjadi penghubung jalur Staatsspoorwegen (SS) di Magelang dan Purwokerto. Namun, rencana tersebut tidak terealisasi sehingga pembangunan jalur akhirnya dilakukan oleh perusahaan swasta SDS. (Iko)