
Dr Lilik Kartika Sari, S.Pi, M.Si saat memaparkan materi
SEMARANG, EDUKATOR–Ikan pelagis, yakni kelompok ikan yang hidup di lapisan permukaan hingga pertengahan laut seperti tuna, cakalang, tongkol, tenggiri, selar, layang, dan kembung, menjadi komoditas penting yang menopang ketahanan pangan dan ekspor perikanan Indonesia. Karakteristiknya yang mampu berenang cepat, bermigrasi dalam wilayah yang luas, serta responsif terhadap perubahan lingkungan menuntut adanya pengkajian stok yang akurat sebagai dasar pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Dr. Lilik Kartika Sari, S.Pi, M.Si ,anggota Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan (Komnas KAJISKAN) saat menyampaikan materi “Pengkajian Stok Ikan Kelompok Ikan Pelagis” pada Workshop Stock Assessment Batch III yang digelar di Hotel Novotel Semarang, Senin-Jumat (8–12/6/2026).
Foto bersama narasumber dan peserta workshop
Perkuat Dasar Ilmiah Pengelolaan Perikanan
Workshop yang diselenggarakan Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Komnas KAJISKAN itu, bertujuan meninjau kembali dan memperbarui perhitungan potensi sumber daya ikan, Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB), serta tingkat pemanfaatan sumber daya ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 573, 711, dan 712.
JTB merupakan batas maksimal ikan yang dapat ditangkap agar stok ikan tetap lestari dan tidak mengalami penangkapan berlebihan. Sementara itu, WPPNRI adalah pembagian wilayah laut Indonesia yang menjadi dasar pengelolaan sumber daya ikan.
Workshop kali ini memfokuskan pembahasan pada WPPNRI 573 yang meliputi Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor bagian barat, WPPNRI 711 yang mencakup Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut Natuna Utara, serta WPPNRI 712 yang meliputi Laut Jawa.
Kegiatan workshop itu dibuka Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syahril Abd Raup.
Pelagis Besar dan Kecil Miliki Peran Strategis
Dalam pemaparannya, Lilik Kartika Sari yang juga dosen FPIK Unsoed menjelaskan, ikan pelagis merupakan kelompok ikan yang hidup di kolom air, mulai dari lapisan permukaan hingga pertengahan laut, sehingga memiliki kemampuan berenang aktif dan berpindah tempat mengikuti kondisi lingkungan maupun ketersediaan pakan.
Menurutnya, ikan pelagis terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu pelagis besar dan pelagis kecil. Kelompok pelagis besar didominasi famili Scombridae, seperti tuna, cakalang, tongkol, dan tenggiri yang menjadi komoditas unggulan ekspor Indonesia. Sementara itu, pelagis kecil meliputi selar, layang, dan kembung yang memiliki tingkat konsumsi domestik tinggi serta menjadi sumber protein penting bagi masyarakat.
Mobilitas ikan pelagis yang tinggi, lanjut Lilik Kartika Sari, membuat populasinya sangat dinamis dan cepat berubah akibat pengaruh suhu, arus laut, maupun perubahan lingkungan lainnya.
“Oleh karena itu, pengkajian stok secara berkala menjadi kebutuhan penting agar data yang digunakan dalam pengelolaan perikanan selalu sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujarnya.
Tingkatkan Kapasitas Pengkaji Stok Ikan
Workshop diikuti pejabat KKP, anggota Komnas KAJISKAN, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akademisi dari berbagai perguruan tinggi, serta perwakilan lembaga konservasi.
Selain membahas pengumpulan data statistik perikanan tangkap, peserta memperoleh pelatihan pengelolaan data melalui Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan (PIPP), pemanfaatan data logbook penangkapan ikan, hingga metode stock assessment menggunakan aplikasi R dan RStudio.
Peserta juga mempraktikkan analisis model surplus produksi menggunakan metode cMSY++ dan Just Another Bayesian Biomass Assessment (JABBA), mulai dari pemilihan model, interpretasi hasil, hingga penyusunan laporan pengkajian stok ikan.
Melalui workshop ini, KKP bersama Komnas KAJISKAN berharap semakin banyak tenaga pengkaji stok ikan yang memiliki kompetensi dalam menghasilkan rekomendasi ilmiah yang akurat.
Hasil pengkajian tersebut diharapkan menjadi dasar penetapan Jumlah JTB di setiap WPPNRI, sehingga kebijakan penangkapan ikan berbasis kuota dapat diterapkan secara efektif. Hal ini untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut, mendukung ketahanan pangan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan nelayan Indonesia. (Prasetiyo)