Oleh: Mayjen TNI (Purn.) Fulad, S.Sos,M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)
Pendahuluan
Saya menyaksikan sendiri di lorong-lorong Dewan Keamanan PBB, New York, tahun 2018. Ada satu adegan kecil yang tidak masuk liputan pers: delegasi Amerika Serikat dan Israel duduk terpisah dalam sebuah rapat tertutup. Tidak saling sapa. Diplomat senior Israel sempat berbisik kepada saya, “We have a problem with our big brother.”
Saya hanya mengangguk. Di dunia geopolitik, perceraian jarang terjadi dengan tiba-tiba. Ia selalu diawali dengan retakan kecil.
Minggu, 14 Juni 2026, retakan itu meletus ke publik. Trump menegur Netanyahu secara terbuka. Penyebabnya adalah serangan Israel ke Lebanon yang terus berlanjut di tengah negosiasi damai AS-Iran. Netanyahu menjawab pendek, tegas, khas seorang pemimpin yang hidup dalam tekanan eksistensial: “Keamanan nasional tidak bisa ditawar.”
Ini bukan drama personal dua pemimpin tua. Ini pelajaran geopolitik klasik. Sekutu sedekat apa pun, suatu saat akan bertabrakan ketika definisi “kepentingan nasional” mereka tidak lagi sejalan. Bagi Indonesia, mencermati benturan ini bukan sekadar hiburan politik. Kita juga setiap hari ditarik-tarik oleh kekuatan global. Kita harus belajar membaca peta tanpa panik, tetapi juga tanpa lengah.
Trump: Diplomasi Dulu, Citra Dulu
Trump sedang membangun narasi besar: dirinya sebagai penjaga perdamaian. Kesepakatan dengan Iran mengenai gencatan selama 60 hari dan pembukaan Selat Hormuz adalah piala politik yang ingin ia pajang menjelang ulang tahunnya yang ke-80. Kita juga tidak boleh lupa, harga minyak Brent sudah menyentuh 98 dolar AS per barel. Ekonomi Amerika membutuhkan Selat Hormuz tetap mengalir lancar.
Maka ketika Israel membom Beirut, reaksi Trump sangat keras. Bukan karena ia tiba-tiba menjadi humanis. Saya mengenal betul cara berpikir para pengambil kebijakan di Washington. Bagi mereka, serangan itu merupakan penghalang kesepakatan, pemicu kenaikan harga BBM, dan perusak citra presiden mereka. Pesan Trump kepada dunia sangat jelas: “Saya yang pegang kendali, bukan Israel.”
Dalam bahasa militer, Trump memerintahkan cease and desist. Namun, Netanyahu tidak patuh. Di sinilah letak retakan pertama.
Netanyahu: Keamanan Dulu, Kompromi Belakangan
Saya harus adil di sini. Netanyahu hidup dalam logika yang berbeda. Baginya, peristiwa 7 Oktober tidak boleh terulang. Roket Hezbollah yang menghantam Israel utara bukan sekadar gangguan, melainkan ancaman eksistensial. Saya sering mendengar pernyataan serupa dari rekan-rekan militer Israel di PBB: “Kami tidak punya pilihan. Jika musuh masih bisa menembak, kami harus melumpuhkan mereka sebelum duduk berunding.”
Dari sudut pandang Netanyahu, permintaan Trump untuk “tahan dulu” terdengar seperti, “Biarkan rakyat Israel hidup dalam ketakutan.” Trauma serangan Hamas masih sangat segar. Karena itu, ketika Trump meminta jeda, jawaban Netanyahu adalah rudal. Baginya, negara yang tidak mampu menjamin keamanan warganya akan kehilangan legitimasi, dan pemimpin yang kehilangan legitimasi adalah pemimpin yang akan jatuh.
Retaknya Satu Komando
Saya masih ingat debat panjang di Dewan Keamanan PBB saat “Perang 12 Hari” pada Februari lalu. Waktu itu, Amerika Serikat dan Israel bergerak serempak. Sebanyak 3.242 serangan gabungan dilancarkan ke Iran. Dunia melihat mereka berada dalam satu suara. Saya menyaksikan sendiri bagaimana kedua delegasi saling membela mati-matian di ruang sidang.
Namun, setelah gencatan senjata AS-Iran disepakati, frekuensi langkah mereka mulai berbeda. Trump ingin menekan tombol stop untuk semua pihak. Netanyahu ingin menekan tombol fight setiap kali diserang. Sementara itu, Iran dengan cerdik menekan tombol wait sambil mengamati siapa yang lebih konsisten.
Retakan ini berbahaya karena musuh mereka sama, yakni Iran. Jika komando pecah, Iran akan memainkan strategi klasik divide et impera. Teheran sudah melontarkan pernyataan pedas: “Amerika Serikat tidak bisa mengendalikan sekutunya sendiri.” Itu bukan sekadar serangan diplomatik, melainkan pukulan psikologis yang dirancang untuk memperlebar celah.
Satu pelajaran dari lapangan: ketika dua sekutu berdebat di depan musuh, musuh tidak perlu menembak, cukup duduk, minum kopi, dan menonton.
Pelajaran untuk Indonesia
Indonesia bukan pemain langsung di Gaza atau Selat Hormuz. Namun, kita adalah pemain besar di Selat Malaka. Saya mengenal betul peta itu. Jika Hormuz bergolak, harga energi global naik dan rantai pasok terganggu. Itu bukan skenario fiksi, melainkan kalkulasi yang sudah pernah saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya.
Dari kasus Trump versus Netanyahu, ada tiga pelajaran penting bagi kita.
Pertama, aliansi itu dinamis. Hari ini sekutu, besok bisa saling mengoreksi di depan umum. Saya sudah melihat hal itu di PBB berkali-kali. Tidak ada persahabatan abadi dalam politik global. Yang abadi hanyalah kepentingan.
Kedua, definisi “keamanan” setiap negara berbeda. Amerika mendefinisikannya sebagai stabilitas ekonomi global. Israel mendefinisikannya sebagai tidak adanya roket yang masuk ke wilayahnya. Indonesia harus memiliki definisinya sendiri, yang lahir dari kepentingan nasional kita, bukan pinjaman dari negara mana pun.
Ketiga, diplomasi tanpa kekuatan militer dianggap lemah. Sebaliknya, kekuatan militer tanpa diplomasi dianggap biadab. Keduanya harus berjalan beriringan. Seperti yang pernah saya sampaikan kepada para perwira muda: “Kita punya lidah untuk berbicara, dan kita punya senjata untuk membuat lawan mau mendengarkan.”
Penutup
Trump versus Netanyahu mengingatkan kita pada satu kebenaran lama: di meja perundingan, yang paling keras suaranya belum tentu yang paling menang. Yang paling sabar membaca arah anginlah yang akan bertahan paling lama.
Dunia sekarang sedang menunggu: apakah kesepakatan dengan Iran akan ditandatangani atau satu bom lagi justru membuat semua rencana kacau-balau. Saya tidak memiliki bola kristal. Namun, satu hal yang saya yakini, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton yang bingung. Kita harus menjadi bangsa yang cerdas, menjaga jarak yang sehat, dekat dengan semua pihak, dan tidak tergantung kepada siapa pun.
Sebagai penutup, izinkan saya mengulang apa yang pernah saya katakan di lorong Dewan Keamanan PBB kepada seorang kolega dari negara sahabat: “Jangan pernah meremehkan negara yang tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara. Karena biasanya, ketika mereka bicara, mereka sudah punya tiga langkah cadangan.”
Saya biasa mengatakan kepada para perwira muda: “Di geopolitik, tidak ada teman abadi. Yang abadi hanya arah angin dan kompas kita sendiri.” (*)
Geopark Ciletuh-Sukabumi, Juni 2026