Oleh: Mayjen TNI Fulad, S.Sos, M.Si
Pemerhati Sejarah dan Kelahiran Kebumen
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)
Pendahuluan
Petilasan Patih Gajah Mada yang berada di Kompleks Mexolio, di bawah pembinaan Kodim 0709 Kebumen, memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi fisiknya sebagai situs sejarah. Tempat ini merupakan ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini yang, apabila dikelola dengan tepat, dapat memperkuat jati diri bangsa.
Aspek Sejarah: Bukti Peradaban yang Hidup
Kehadiran petilasan ini menguatkan narasi bahwa pengaruh Majapahit menjangkau hingga Kebumen. Gajah Mada bukan hanya tokoh dalam kitab Pararaton dan Negarakertagama, melainkan figur nyata yang jejaknya dapat dirasakan secara lokal.
Merawat petilasan berarti menjaga bukti material bahwa sejarah Indonesia disusun dari berbagai daerah, bukan hanya dari pusat kekuasaan. Tanpa perawatan, sejarah akan menjadi mitos. Dengan perawatan, sejarah menjadi guru.
Aspek Kebangsaan: Menumbuhkan Semangat Bela Negara
Gajah Mada dikenal melalui Sumpah Palapa, yaitu ikrar untuk menyatukan Nusantara. Nilai tersebut tetap relevan dengan tantangan kebangsaan saat ini, yakni menjaga persatuan di tengah keberagaman dan gempuran budaya asing.
Ketika Kodim 0709 menjadikan situs ini sebagai bagian dari pembinaan teritorial, pesan yang disampaikan menjadi jelas. Bela negara tidak hanya soal mengangkat senjata, tetapi juga menjaga warisan, menghormati leluhur, serta melanjutkan cita-cita persatuan. Petilasan ini menjadi simbol bahwa patriotisme berakar pada memori kolektif bangsa.
Aspek Literasi: Menghidupkan Sejarah untuk Generasi Muda
Generasi muda saat ini tidak kekurangan informasi, tetapi sering kali kekurangan makna. Petilasan akan tetap terasa asing apabila hanya dijadikan objek wisata pasif. Di sinilah literasi sejarah memiliki peran penting.
Melalui kegiatan seperti napak tilas, lomba menulis esai sejarah lokal, podcast sejarah Kebumen, hingga digitalisasi cerita petilasan, tempat ini dapat menjadi “kelas terbuka” tanpa dinding. Literasi yang tumbuh dari konteks lokal akan lebih kuat membentuk identitas dan rasa memiliki dibandingkan pelajaran sejarah yang bersifat abstrak.
Penutup
Petilasan Patih Gajah Mada di Kompleks Mexolio Kebumen merupakan warisan yang menuntut aksi, bukan sekadar kekaguman. Jika sejarah dirawat, kebangsaan diperkuat, dan literasi dihidupkan, maka situs ini akan menjadi lebih dari sekadar batu dan tanah.
Ia akan menjadi tempat di mana generasi muda belajar bahwa menjadi Indonesia berarti mengingat, memahami, dan melanjutkan.(*)