*Sampah Plastik Disusun Membentuk Huruf A

BANJARNEGARA, EDUKATOR–Lebih dari 10 kilogram sampah plastik dikumpulkan kader Adiwiyata SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara, untuk merayakan keberhasilan sekolah meraih predikat Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah. Tidak sekadar dipungut dan dipilah, sampah tersebut kemudian digunakan dalam aksi flashmob membentuk huruf A, simbol Adiwiyata, di tengah lapangan upacara sekolah, Jumat (4/9/2026).
Aksi kreatif tersebut menjadi bagian dari kegiatan pungut dan pilah sampah yang digelar para kader Adiwiyata. Kegiatan itu sekaligus menjadi kampanye nyata untuk membangun kepedulian warga sekolah terhadap kebersihan dan pengelolaan sampah.
SMAN 1 Sigaluh merupakan satu dari 52 sekolah yang ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026. Penetapan tersebut dilakukan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Lutfi melalui Keputusan Nomor 100.3.3.1./293 Tahun 2026 tertanggal 19 Agustus 2026.
Sekolah-sekolah tersebut sebelumnya harus melalui berbagai tahapan administrasi dan visitasi sebelum ditetapkan sebagai penerima predikat Adiwiyata Provinsi.
Bukan Sekadar Predikat
Koordinator Pengelolaan Sampah Adiwiyata Bumi Lestari, Fatonah, mengatakan kegiatan pungut dan pilah sampah merupakan bagian dari upaya berkelanjutan mengampanyekan pemilahan sampah dan pengembangan bank sampah di sekolah.
“Kami bersyukur menjadi Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah.”
Menurut Fatonah, memperoleh predikat Adiwiyata bukanlah akhir dari perjuangan. Justru, tantangan berikutnya adalah mempertahankan budaya lingkungan yang bersih dan sehat secara konsisten.
Ia menilai keterlibatan seluruh elemen sekolah menjadi kunci keberhasilan program tersebut. Pengelolaan sampah tidak akan berjalan optimal apabila warga sekolah tidak memiliki kesamaan sikap dan tindakan.
“Budaya lingkungan harus diterapkan seluruh warga sekolah.”
Karena itu, predikat Adiwiyata harus dibuktikan melalui kebiasaan sehari-hari, bukan hanya melalui kegiatan seremonial atau pencapaian administratif.
Murid Jadi Penentu Kebersihan Sekolah
Salah satu murid SMAN 1 Sigaluh, Fauzan Albar, mengatakan kegiatan membersihkan sampah perlu dilakukan secara berkelanjutan. Langkah tersebut penting agar lingkungan sekolah terbebas dari sampah plastik.
Menurut Fauzan, murid perlu memiliki kemampuan dasar memilah sampah. Setidaknya, mereka harus mampu membedakan sampah residu dengan sampah yang masih dapat didaur ulang.
“Murid harus bisa memilah sampah residu dan daur ulang.”
Pemilahan sejak dari sumber, menurut dia, akan memudahkan pengelolaan sampah berikutnya. Kebiasaan tersebut juga dapat mengurangi volume sampah yang berakhir sebagai limbah.
Fauzan mencontohkan upaya pengurangan sampah plastik yang telah dilakukan di kelas. Para murid menggunakan air galon isi ulang sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan botol plastik air mineral.
“Kami memakai air galon isi ulang mengurangi botol plastik.”
Ia menilai murid memiliki peran sangat besar dalam menentukan kondisi lingkungan sekolah. Jumlah murid yang banyak membuat kebiasaan mereka sehari-hari sangat berpengaruh terhadap kebersihan lingkungan sekolah.
“Yang menentukan bersih tidaknya sekolah adalah kita bersama.”
Karena itu, ia mengajak seluruh murid mulai mengurangi penggunaan plastik dalam aktivitas sehari-hari.
Adiwiyata Harus Menjadi Budaya
Aksi flashmob menggunakan sampah menjadi simbol bahwa pengelolaan lingkungan dapat dikemas secara kreatif dan melibatkan murid secara langsung. Sampah yang biasanya dianggap sebagai limbah justru dimanfaatkan sebagai bagian dari pesan edukatif tentang lingkungan.
Kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa predikat Sekolah Adiwiyata tidak berhenti pada penghargaan. Predikat itu harus diwujudkan melalui perilaku nyata seluruh warga sekolah dalam menjaga kebersihan, memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, serta mengembangkan budaya lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan tersebut, SMAN 1 Sigaluh berupaya menjadikan semangat Adiwiyata sebagai kebiasaan bersama. Bukan hanya untuk merayakan sebuah predikat, tetapi untuk memastikan budaya peduli lingkungan benar-benar tumbuh dan bertahan di sekolah. (Heni Purwono/Prs)