Selamatkan Ikan Asli di DAS Serayu, FPIK Unsoed Gelar FGD

Bagikan :

*50 Persen DAS Serayu di Ambang Krisis, Populasi Ikan Asli Kian Menyusut

PURWOKERTO, EDUKATOR–Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Dr. Ir. Endang Hilmi  membuka Focus Group Discussion (FGD) untuk menyelamatkan ikan asli di Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu, di Purwokerto, Rabu (29/4/2026). Hal ini  menjadi langkah awal penyusunan blue print konservasi perikanan berbasis masyarakat di DAS Serayu.

Blue print dimaknai sebagai rencana induk atau peta jalan strategis yang bersifat menyeluruh, terstruktur, dan jangka panjang yang menjadi acuan dalam pengelolaan serta pemulihan ekosistem perairan DAS Serayu secara berkelanjutan. Rencana tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman bersama seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan program konservasi perikanan.

Kegiatan tersebut menjadi titik awal perumusan rencana besar pemulihan ekosistem perairan Serayu yang dinilai semakin terancam akibat tekanan lingkungan dan aktivitas manusia.

DAS Serayu yang menopang kehidupan masyarakat di lima kabupaten, yakni Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap, kini lebih dari 50 persen wilayahnya berada dalam kondisi kritis akibat pencemaran, degradasi habitat, dan praktik penangkapan ikan yang merusak. Kondisi ini berdampak pada menurunnya populasi ikan asli seperti nilem, baceman, senggaringan, tor/kancra, sidat, dan udang galah.

FGD Dorong Peta Jalan Konservasi
Dalam sambutannya, Prof. Endang Hilmi menegaskan pentingnya forum tersebut untuk menghasilkan dokumen perencanaan yang jelas, terukur, dan berkelanjutan bagi pengelolaan DAS Serayu.

“FGD ini harus mampu melahirkan blue print pengelolaan DAS Serayu yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor, termasuk dunia usaha dan media, agar upaya konservasi dapat berjalan lebih komprehensif dan berkesinambungan.

Senada, Direktur UT Purwokerto, Dr. Prasertyarti Utami, menyatakan kesiapan institusinya dalam mendukung pelestarian habitat dan keanekaragaman hayati perairan.

“Kami siap berkontribusi dalam penguatan riset dan edukasi konservasi,” katanya.

Libatkan Pemerintah hingga Komunitas Sungai
FGD ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan, penyuluh perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Fakultas Sains dan Teknik UT, UT Purwokerto, serta kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) seperti Jaga Kali Ajibarang, Lestari Kaliku Rawalo, dan Arus Lestari Gumelar.

Keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan program konservasi di tingkat lapangan.

Dr. Taufik dan Tim Paparkan “Mengembalikan Nadi Serayu”
Dalam forum tersebut, Dr. Taufik Budhi Pramono bersama tim memaparkan konsep “Mengembalikan Nadi Serayu” yang bertumpu pada tiga pilar utama.

Pilar pertama adalah konservasi partisipatif melalui pembentukan Lubuk Larangan atau Area Perlindungan Perikanan (APP) sebagai kawasan pemijahan alami.

Kedua, restorasi ikan asli melalui pembangunan Village Hatchery Unit dan pelepasliaran benih berbasis ilmiah. Ketiga, pengembangan ekonomi hijau dengan menjadikan desa sebagai desa konservasi berbasis ekowisata dan budidaya ikan lokal berkelanjutan.

Arah Baru Ekologi Serayu

Program ini tidak hanya menargetkan pemulihan keanekaragaman hayati sesuai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs/Sustainable Development Goals) 14 dan 15, tetapi juga diharapkan memperkuat kinerja lingkungan sektor ekonomi di wilayah Serayu.

Melalui sinergi lintas sektor, DAS Serayu diharapkan kembali menjadi sumber kehidupan yang lestari, produktif, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.(Prasetiyo)

 

 

 

BERITA TERKINI

das3
Selamatkan Ikan Asli di DAS Serayu, FPIK Unsoed Gelar FGD
kwarran14
Rakhmat Terpilih Pimpin Kwarran Purbalingga Masa Bakti 2026-2028
kendal2
41 Kepala SMP se-Kabupaten Kendal Ikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia
LOMBA PEL
Semarakkan Hardiknas, ITC Gelar Lomba IPA-Matematika SD se-Banyumas Raya
FULAD6
Dari Kursi Pengamat PBB ke Meja Perang Dunia