Strategi Iran Lebih Terukur daripada AS, Sekutu Baru Sadar

Bagikan :

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (2017–2019)

AKHIR-akhir ini ramai pernyataan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, yang menyebut Iran “lebih pintar” dalam strategi dibanding Amerika Serikat, bahkan menilai rakyat Amerika sedang “dipermalukan” oleh kepemimpinan Iran.

Saya membaca berita itu dan hanya tersenyum. Bukan karena senang, tetapi karena pernyataan itu sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Tujuh tahun lalu, saat masih bertugas sebagai Penasihat Militer Indonesia untuk PBB di New York, saya sudah mendengar nada serupa dari para diplomat Eropa, meski hanya disampaikan di balik pintu tertutup.

Saya tidak terkejut dengan pernyataan Merz. Yang agak mengejutkan adalah keberaniannya mengucapkannya secara terbuka. Selama ini, kritik terhadap Amerika Serikat di kalangan sekutu Eropa hanya terdengar sebagai bisikan di koridor PBB.

Namun perlu ditegaskan, tulisan ini bukan untuk membela Iran atau menyerang Amerika Serikat. Ini adalah upaya untuk membaca realitas geopolitik secara jernih, termasuk melihat di mana letak kekuatan dan kelemahan masing-masing pihak, serta apa pelajaran bagi Indonesia.

Apa yang Saya Saksikan di PBB
Pada Mei 2018, Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian nuklir JCPOA. Padahal, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berulang kali menyatakan bahwa Iran masih mematuhi kesepakatan dan tidak melanggar ketentuan.

Di ruang Dewan Keamanan PBB, saya melihat langsung kegelisahan delegasi Eropa, termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris. Mereka kecewa, tetapi tidak bisa berbuat banyak karena posisi Amerika Serikat dalam NATO sangat dominan.

Saat itu saya mencatat dalam catatan pribadi bahwa Amerika Serikat keluar dari kesepakatan tanpa strategi lanjutan yang jelas. Mereka hanya mengandalkan tekanan maksimum tanpa tujuan akhir yang terukur.

Sementara itu, respons Iran justru menarik. Iran tidak keluar dari JCPOA dan tidak memilih konfrontasi terbuka. Mereka mengambil langkah bertahap dengan menaikkan kadar uranium, meningkatkan stok, serta mengaktifkan sentrifugal canggih secara terukur.

Strategi ini dikenal sebagai pendekatan bertahap atau “strategi tangga”, yaitu meningkatkan tekanan secara perlahan tanpa memberikan alasan langsung bagi eskalasi militer.

Dalam sebuah diskusi informal, seorang diplomat Iran pernah mengatakan, “Kami tidak keluar dari kesepakatan. Amerika yang keluar. Kami hanya merespons.” Pernyataan itu sederhana, tetapi sangat strategis dalam diplomasi.

Iran Tidak Tanpa Kelemahan
Namun, menilai Iran hanya dari sisi strategi tentu tidak adil. Negara ini memiliki kelemahan serius.

Pertama, kondisi ekonomi yang berat akibat sanksi Amerika Serikat. Inflasi tinggi membuat masyarakat kesulitan mengakses kebutuhan dasar seperti obat-obatan dan bahan pangan.

Kedua, ketergantungan pada jaringan kelompok proksi di kawasan seperti Hizbullah, milisi di Irak, dan Houthi di Yaman. Aset ini memang memperluas pengaruh, tetapi juga berpotensi menjadi beban strategis jika tidak terkendali.

Karena itu, ketika disebut “pintar”, Iran hanya dapat dilihat dalam konteks strategi geopolitik dan perang asimetris, bukan dalam konteks kesejahteraan rakyat atau kebebasan politik.

Kecerdasan dalam strategi militer tidak selalu sejalan dengan keberhasilan dalam pembangunan negara.

Kesalahan Strategis Amerika Serikat
Sebagai mantan penasihat militer PBB, saya juga perlu melihat secara kritis kebijakan Amerika Serikat, terutama pada masa Presiden Donald Trump.

Kesalahan pertama adalah keluar dari JCPOA tanpa rencana pengganti. Langkah ini membuat posisi Amerika di mata sekutu menjadi tidak konsisten.

Kesalahan kedua adalah cara memperlakukan sekutu Eropa secara sepihak, seolah mereka tidak memiliki posisi tawar. Pendekatan ini melemahkan solidaritas aliansi.

Kesalahan ketiga adalah tidak adanya strategi akhir yang jelas. Sanksi diberlakukan secara maksimal, tetapi tujuan akhirnya tidak pernah dijelaskan secara konkret.

Dalam perspektif militer, setiap operasi harus memiliki exit strategy. Tanpa itu, tekanan hanya akan menjadi kebijakan tanpa arah.

Hasilnya, Iran tidak runtuh, program nuklirnya tidak berhenti, dan pengaruhnya di kawasan tetap bertahan. Sementara itu, sekutu Amerika justru menunjukkan kekecewaan yang semakin terbuka.

Respons Politik yang Menegaskan Realitas
Ketika pernyataan Friedrich Merz menjadi sorotan publik, Donald Trump bereaksi keras melalui media sosial. Ia menyerang pribadi Merz dan menuduhnya tidak memahami situasi.

Namun yang menarik, Trump tidak secara langsung membantah inti kritik Merz terkait ketiadaan strategi yang jelas dari Amerika Serikat.

Dalam ilmu debat, hal ini dikenal sebagai ad hominem, yaitu menyerang pribadi lawan karena tidak mampu membantah substansi argumen.

Bagi saya, ini menunjukkan bahwa kritik Merz memiliki dasar yang tidak sepenuhnya bisa diabaikan.

Pelajaran untuk Indonesia
Dari dinamika ini, ada beberapa pelajaran penting bagi Indonesia.

Pertama, kesabaran strategis lebih penting daripada kekuatan semata. Dalam posisi negara berkembang, konsistensi sering lebih menentukan daripada kekuatan militer.

Kedua, hubungan internasional harus dibangun atas dasar kepercayaan, bukan tekanan. Sekutu yang diperlakukan sebagai alat pada akhirnya akan kehilangan loyalitas.

Ketiga, dunia saat ini lebih menghargai negara yang konsisten, dapat diprediksi, dan menghormati hukum internasional dibanding negara yang bertindak impulsif.

Penutup
Saya tidak menulis ini untuk memihak Iran atau Amerika Serikat. Saya menulis sebagai saksi dari dinamika diplomasi internasional di PBB.

Saya melihat langsung bagaimana keputusan besar diambil, bagaimana sekutu bereaksi, dan bagaimana strategi diuji di panggung global.

Pelajaran terpenting bagi Indonesia adalah sederhana: dalam geopolitik, bukan hanya kekuatan yang menentukan hasil, tetapi ketepatan strategi dan konsistensi sikap.

Negara yang ceroboh dalam mengambil keputusan sering kali bukan negara kecil, tetapi negara yang salah membaca arah zaman.(*)

Tenjo–Bogor, 30 April 2026

 

BERITA TERKINI

FULAD6
Strategi Iran Lebih Terukur daripada AS, Sekutu Baru Sadar
das3
Selamatkan Ikan Asli di DAS Serayu, FPIK Unsoed Gelar FGD
kwarran14
Rakhmat Terpilih Pimpin Kwarran Purbalingga Masa Bakti 2026-2028
kendal2
41 Kepala SMP se-Kabupaten Kendal Ikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia
LOMBA PEL
Semarakkan Hardiknas, ITC Gelar Lomba IPA-Matematika SD se-Banyumas Raya