Suluh Sumurup Art Festival 2026, Menyalakan Kesetaraan Seniman Difabel

Bagikan :

*Pameran di TBY, 24 September-2 Oktober 2026

Dari kiri ke kanan , Purwiati (Kepala Taman Budaya Yogyakarta), Dian Laksmi Pratiwi (Kepala Dinas Kebudayaan DIY), Budi Urwanto, Nano Warsono dan  seorang kurator Sukri Budi Dharma (pakai tongkat). 

YOGYAKARTA, EDUKATOR–Suluh Sumurup Art Festival 2026 bertema “Maneges” menghadirkan 193 karya dari 131 seniman difabel. Kegiatan seni berupa pameran tersebut berlangsung 24 September–2 Oktober 2026 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), melibatkan 13 komunitas, sanggar, dan sekolah dari 14 provinsi serta enam Taman Budaya se-Indonesia.

Salah satu kurator Suluh Sumurup, Budi Irawan, mengatakan, festival tersebut diharapkan mengubah cara publik memandang penyandang disabilitas. Mereka tidak semestinya hanya dilihat berdasarkan identitas disabilitas, tetapi sebagai subjek kreatif yang memiliki gagasan, kegelisahan, kepedulian, dan karya yang layak diapresiasi.

“Kami berharap publik melihat disabilitas sebagai subjek kreatif,” ujar Budi Irawan di Yogyakarta, Senin (21/9/2026)..

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV Tahun 2026. Melalui festival ini, seni tidak hanya ditempatkan sebagai ruang ekspresi, tetapi juga sebagai sarana membangun kepercayaan diri, memperluas kesempatan, dan mendorong perubahan cara pandang terhadap seniman difabel.

Dari Ekspresi Menuju Ruang Inklusif
Budi menjelaskan, penyelenggaraan Suluh Sumurup terus berkembang dari tahun ke tahun. Pada awalnya, jejaring seniman difabel yang terlibat masih terbatas di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jejaring tersebut kemudian meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Perluasan dilakukan karena masih terbatasnya ruang yang dapat mewadahi karya seniman difabel di sejumlah daerah.

Tema “Gegandengan” pada tahun pertama menjadi bagian dari proses membangun jejaring. Pada tahun berikutnya, keterlibatan seniman dari luar DIY semakin diperkuat. Tahun ini, tema “Maneges” menjadi penajaman arah festival.

“Maneges menjadikan seni sebagai ruang yang inklusif,” kata Budi.

Menurut dia, inklusivitas tidak cukup diwujudkan dengan menyediakan tempat bagi seniman difabel untuk memamerkan karya. Lebih dari itu, diperlukan ekosistem yang memungkinkan mereka berkembang sebagai pekerja seni.

Budi berharap Suluh Sumurup pada masa mendatang terus menemukan cara kreatif untuk memperluas ruang berkarya bagi seniman difabel.

Menjadi Jembatan Menuju Kesempatan
Kurator lainnya, Sukri Budi Dharma, memandang Suluh Sumurup sebagai jembatan yang menghubungkan seniman difabel dengan berbagai kesempatan. Sejumlah seniman yang pernah mengikuti festival tersebut kemudian memperoleh peluang berpameran di daerah masing-masing.

“Suluh Sumurup menjadi jembatan agar difabel tampil setara,” ujar Sukri.

Pada 2026, salah seorang seniman yang pernah mengikuti Suluh Sumurup bahkan memperoleh penghargaan dari Taiwan. Menurut Sukri, capaian tersebut menunjukkan bahwa ruang pamer dapat membuka peluang lebih luas bagi seniman difabel.

Namun, ia mengakui masih terdapat persoalan teknis yang dihadapi sebagian seniman difabel. Tidak semua seniman memahami aspek teknis dalam dunia seni, termasuk ketentuan kerja sama dan Memorandum of Understanding (MoU).

Karena itu, ruang pameran juga dapat menjadi tempat belajar. Seniman difabel dapat mengenal berbagai aspek dunia seni sekaligus membangun pengalaman dan kepercayaan diri.

“Ruang ini menjadi tempat belajar dan menumbuhkan kepercayaan diri,” katanya.

Dengan fungsi tersebut, Suluh Sumurup tidak hanya menjadi agenda pameran tahunan. Festival ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan seniman difabel dengan pengetahuan, jejaring, pengalaman, serta peluang baru.

Publik Juga Perlu Mengubah Cara Pandang
Perubahan cara pandang tidak hanya menjadi tanggung jawab seniman difabel. Nano Warsono menekankan pentingnya keterlibatan publik dalam membangun ekosistem seni yang lebih setara.

Menurut Nano, seniman difabel membutuhkan ruang untuk berkarya dan berkembang. Pada saat yang sama, karya mereka membutuhkan apresiasi masyarakat melalui berbagai bentuk, baik pemberitaan media, koleksi, kajian akademis maupun ruang apresiasi lainnya.

“Teman-teman yang berkarya membutuhkan apresiasi audiens,” ujar Nano.

Ia menilai apresiasi tersebut penting agar karya seniman difabel tidak hanya ditempatkan dalam kerangka belas kasihan atau sekadar diberi label sebagai karya difabel. Seniman perlu dilihat secara lebih utuh berdasarkan karya yang dihasilkan.

“Seniman difabel perlu dilihat secara komprehensif,” katanya.

Menurutnya, kesetaraan terletak pada kesempatan bagi seniman difabel untuk dinilai melalui kualitas karya, gagasan, proses kreatif, dan perkembangan mereka.

TBY Memperkuat Aksesibilitas
Semangat membangun ruang kebudayaan inklusif juga diperkuat Taman Budaya Yogyakarta. Kepala TBY, Purwiati, mengatakan sejumlah fasilitas aksesibilitas telah disiapkan, antara lain ramp, kursi roda, dan toilet akses.

“Kebutuhan setiap penyandang difabel sangat beragam,” ujarnya.

Karena kebutuhan penyandang disabilitas beragam, Purwiati mengatakan TBY tidak ingin berhenti pada anggapan bahwa seluruh persoalan aksesibilitas telah selesai. Pihaknya berkomitmen terus memperbaiki akses agar TBY dapat digunakan semua kalangan.

“Kami berkomitmen menjadikan TBY ruang inklusif,” kata Purwiati.

Menurut dia, penyelenggaraan Suluh Sumurup menjadi bagian dari upaya tersebut. Ruang kebudayaan bagi seniman difabel bukan hanya berkaitan dengan tempat memajang karya, tetapi juga kesempatan untuk tumbuh dalam ekosistem seni.

Kebudayaan Harus Tetap Menyala
Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV Tahun 2026 dijadwalkan berlangsung 28 September–1 Oktober 2026 di Taman Budaya Yogyakarta. Sebanyak 17 Taman Budaya dari berbagai daerah akan hadir untuk berbagi pengalaman, gagasan, dan karya seni pertunjukan.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Laksmi Pratiwi, berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, kegiatan kebudayaan harus menghasilkan dampak yang dapat dirasakan setelah acara berakhir.

“Dampak setelah kegiatan selesai menjadi hal utama,” ujar Dian.

Ia juga menyoroti tantangan keberlanjutan kegiatan kebudayaan di tengah keterbatasan anggaran. Menurut Dian, diperlukan kreativitas dan jejaring agar kebudayaan tetap hidup dalam berbagai situasi.

“Bagaimana kebudayaan tetap hidup tanpa dukungan uang,” katanya.

Dian menggambarkan Taman Budaya sebagai “kompor” yang menjaga api kebudayaan tetap menyala. Peran tersebut tidak semata-mata bergantung pada anggaran, tetapi juga pada jejaring, gagasan, kreativitas, dan kemauan untuk terus bergerak.

Dalam konteks tersebut, Suluh Sumurup memiliki makna lebih luas daripada sekadar pameran seni. Festival ini menjadi ruang yang mempertemukan karya, keberagaman, jejaring, dan kesempatan bagi seniman difabel.

Melalui Suluh Sumurup, ruang seni diharapkan semakin terbuka bagi seniman difabel untuk tampil, mendapatkan apresiasi, mengembangkan kemampuan, dan memperoleh kesempatan yang setara dalam ekosistem kebudayaan Indonesia.(Herjuno Haryo/Prs)

 

]

BERITA TERKINI

ChatGPT Image Sep 22, 2026, 09_45_11 PM
Kepala SMPN 1 Kalibawang Raih Peringkat Pertama Kepala Sekolah Transformatif se-Kulon Progo
WhatsApp Image 2026-09-22 at 08.12
Suluh Sumurup Art Festival 2026, Menyalakan Kesetaraan Seniman Difabel
WhatsApp Image 2026-09-22 at 19.42
Mahasiswa S-3 Usahid Jakarta Teliti Komunikasi Bupati Perempuan
WhatsApp Image 2026-09-21 at 15.52
Empat Wakil Rektor Unsoed Dilantik
WhatsApp Image 2026-09-21 at 22.19
Dari Mustahik, Nuhwanto Kini Jadi Pengusaha Mebel Sukses