Oleh: Mayjen TNI (Purn.) Dr. (C) Fulad, S.Sos., M.Si.
Danrem 061/SK Periode 2014–2016
Pendahuluan
Setiap ulang tahun satuan militer seharusnya bukan sekadar perayaan bertambahnya usia. Ia adalah saat untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan, membaca perubahan zaman, dan bertanya dengan jujur: apa yang telah kita wariskan, dan apa yang masih harus kita perjuangkan?
Pertanyaan itu menjadi penting bagi Korem 061/Suryakancana.
Sebab, satuan teritorial tidak hidup di ruang yang steril. Ia tumbuh bersama masyarakat, mengenal denyut kehidupan rakyat, dan menjadi bagian dari dinamika wilayah yang dijaganya.
Sejarah Korem 061/Suryakancana sendiri tidak lahir dari ruang kosong. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang pembentukan kekuatan pertahanan di wilayah Bogor dan sekitarnya setelah Indonesia merdeka.
Dalam perjalanan sejarahnya, nama Korem Bogor kemudian berubah menjadi Komando Resor Militer 061/Suryakancana pada 4 Juli 1960. Sementara itu, 1 September diperingati sebagai hari jadi Korem.
Di balik perubahan nama dan struktur organisasi itu, terdapat satu hal yang tidak berubah: pengabdian kepada bangsa dan rakyat.
Karena itu, HUT Korem 061/Suryakancana semestinya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi momentum untuk memperbarui komitmen bahwa kekuatan teritorial harus selalu relevan dengan kebutuhan zaman.
Sejarah Bukan untuk Dikenang, tetapi Diteruskan
Setiap generasi prajurit menerima warisan dari generasi sebelumnya.
Ada keberanian yang diwariskan. Ada pengorbanan yang diwariskan. Ada disiplin, loyalitas, dan kehormatan yang diwariskan.
Tetapi sejarah tidak boleh hanya menjadi album kenangan.
Sejarah adalah tanggung jawab.
Mereka yang pernah bertugas di bawah panji Suryakancana telah memberikan bagian terbaik dari hidupnya kepada negara. Sebagian telah kembali kepada Sang Pencipta, sebagian telah menyelesaikan pengabdiannya, dan sebagian lainnya masih berdiri tegak meneruskan tugas.
Maka, setiap pergantian generasi sesungguhnya merupakan estafet moral.
Generasi terdahulu bertanya kepada generasi sekarang: apakah kehormatan yang kami bangun masih kalian jaga?
Dan generasi sekarang pada waktunya akan menyerahkan pertanyaan yang sama kepada generasi berikutnya.
Itulah mengapa usia satuan tidak semata-mata dihitung dengan angka.
Usia yang sesungguhnya adalah panjangnya jejak pengabdian.
“Wawanen Jeung Wiwaha, Caringcing Bari Waspada”
Ada kebijaksanaan yang sangat dalam di balik motto Korem 061/Suryakancana:
“Wawanen Jeung Wiwaha, Caringcing Bari Waspada.”
Keberanian dengan perhitungan. Siap sedia sambil tidak lengah.
Motto tersebut terasa semakin relevan justru ketika ancaman terhadap negara mengalami perubahan bentuk.
Dulu, ancaman lebih mudah dikenali. Ada batas wilayah, ada musuh yang terlihat, dan ada medan tempur yang relatif jelas.
Hari ini tidak selalu demikian.
Ancaman dapat datang melalui perang informasi, disinformasi, konflik sosial, kejahatan lintas wilayah, bencana, krisis pangan, gangguan ekonomi, hingga penetrasi teknologi yang mengubah cara manusia berinteraksi.
Karena itu, keberanian tanpa perhitungan dapat berubah menjadi kecerobohan.
Sebaliknya, kewaspadaan tanpa keberanian dapat berubah menjadi keraguan.
Motto Suryakancana justru mengajarkan keseimbangan: berani mengambil keputusan, tetapi tidak gegabah; waspada menghadapi ancaman, tetapi tidak hidup dalam ketakutan.
Itulah karakter prajurit teritorial yang dibutuhkan zaman.
Dari Pertahanan Wilayah Menuju Ketahanan Masyarakat
Korem tidak hanya menjaga sebuah wilayah di atas peta.
Korem menjaga kehidupan yang berada di dalamnya.
Wilayah kerja Korem 061/Suryakancana mencakup kawasan yang sangat beragam, perkotaan Bogor, Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, hingga wilayah yang memiliki karakter sosial, ekonomi, budaya, dan geografis yang berbeda-beda.
Keragaman itu sekaligus merupakan kekuatan dan tantangan.
Karena itu, pertahanan wilayah tidak cukup hanya diukur dari kesiapan personel dan alutsista. Ia juga harus dilihat dari seberapa kuat masyarakat menghadapi guncangan.
Petani yang mampu menjaga produksi pangan adalah bagian dari ketahanan nasional.
Pesantren yang mampu membentuk generasi berkarakter adalah bagian dari ketahanan sosial.
Pemuda yang memiliki pendidikan dan masa depan adalah bagian dari pertahanan bangsa.
Masyarakat yang rukun adalah benteng yang tidak kalah penting dari benteng fisik.
Dengan demikian, prajurit teritorial harus mampu membaca bukan hanya peta wilayah, tetapi juga peta sosial masyarakatnya.
Ia harus mengetahui di mana terdapat potensi konflik, di mana masyarakat membutuhkan negara, di mana ketahanan ekonomi sedang rapuh, dan di mana benih persoalan mulai tumbuh.
Sebab, tugas pertahanan yang paling baik bukan hanya memenangkan konflik setelah terjadi.
Tugas yang lebih mulia adalah mencegah konflik sebelum ia menjadi api.
Kemanunggalan TNI–Rakyat Harus Menjadi Kehidupan
Kemanunggalan TNI dan rakyat tidak boleh berhenti sebagai jargon.
Ia harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika bencana terjadi, prajurit hadir.
Ketika masyarakat membutuhkan bantuan, prajurit hadir.
Ketika terjadi gesekan sosial, prajurit membantu menjaga agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik.
Ketika ketahanan pangan membutuhkan dukungan, prajurit ikut bergerak.
Ketika negara membutuhkan ketahanan wilayah, prajurit menjadi bagian dari solusi.
Dari sinilah kepercayaan tumbuh.
Dan bagi institusi pertahanan, kepercayaan rakyat adalah kekuatan strategis.
Senjata dapat memberikan daya tangkal. Teknologi dapat meningkatkan kemampuan. Organisasi dapat memperkuat struktur.
Tetapi kepercayaan rakyat memberikan sesuatu yang jauh lebih dalam: legitimasi moral.
Karena itu, setiap prajurit harus memahami bahwa perilakunya di tengah masyarakat merupakan wajah negara.
Satu tindakan yang baik dapat memperkuat kepercayaan.
Satu tindakan yang keliru dapat merusaknya.
Maka, profesionalisme prajurit tidak berhenti di dalam barak. Ia diuji justru ketika berhadapan dengan rakyat.
Korem Yang Mengerti Zaman
Korem masa depan tidak cukup hanya kuat secara fisik.
Ia harus kuat secara intelektual.
Prajurit harus mampu memahami perubahan geopolitik, teknologi, perang informasi, perubahan sosial, ketahanan pangan, bencana, lingkungan, serta berbagai bentuk ancaman nonmiliter yang semakin kompleks.
Terlebih, wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur merupakan ruang yang mempertemukan berbagai kepentingan: perkotaan, pertanian, industri, pendidikan, pesantren, pariwisata, hingga kawasan konservasi dan geopark.
Karena itu, prajurit teritorial harus menjadi prajurit yang hadir dengan kemampuan membaca zaman.
Ia tidak boleh hanya bertanya: “Di mana ancaman berada?”
Tetapi juga: “Mengapa ancaman itu bisa tumbuh?”
Pertanyaan kedua jauh lebih penting.
Sebab, pertahanan modern bukan semata-mata kemampuan menghancurkan ancaman.
Pertahanan modern adalah kemampuan mencegah ancaman tumbuh menjadi krisis.
Kepemimpinan Bukan Takhta
Di balik setiap satuan yang kuat selalu ada kepemimpinan yang kuat.
Tetapi kepemimpinan militer bukanlah soal siapa yang paling berkuasa.
Komandan bukan pemilik satuan.
Ia adalah pemegang amanah untuk suatu masa.
Pangkat memberikan kewenangan, tetapi tidak otomatis memberikan kewibawaan.
Kewibawaan lahir dari keteladanan.
Karena itu, semakin tinggi pangkat seorang prajurit, semakin besar pula tanggung jawab moral yang melekat pada dirinya.
Kepemimpinan bukan takhta. Ia adalah amanah.
Seorang pemimpin harus mampu berdiri paling depan ketika menghadapi risiko, tetapi bersedia berada paling belakang ketika anak buah menerima penghargaan.
Ia harus mampu mengambil keputusan sulit, tetapi tetap mendengar suara bawahannya.
Ia harus tegas tanpa kehilangan kebijaksanaan.
Dan yang paling penting, ia harus mampu menjaga agar organisasi tidak hanya kuat di atas kertas, tetapi juga kuat dalam karakter.
Penutup
Pada akhirnya, HUT Korem 061/Suryakancana bukan hanya tentang berapa tahun sebuah satuan telah berdiri.
Ia adalah pertanyaan tentang berapa banyak pengabdian yang telah diberikan.
Berapa banyak rakyat yang telah dibantu.
Berapa banyak persoalan yang telah dicegah.
Berapa banyak generasi muda yang telah dibina.
Dan seberapa kuat kepercayaan masyarakat kepada TNI yang telah dibangun.
Itulah ukuran sesungguhnya.
Panji Suryakancana harus terus dijaga.
Bukan semata dengan keberanian. Tetapi juga dengan integritas.
Bukan hanya dengan disiplin. Tetapi juga dengan ketulusan.
Bukan hanya dengan kemampuan tempur. Tetapi juga dengan kemampuan memahami dan melayani rakyat.
Sebab, pada akhirnya, pertahanan negara bukan hanya tentang menjaga tanah.
Pertahanan adalah menjaga kehidupan.
Dan menjaga kehidupan berarti menjaga rakyat, menjaga persatuan, menjaga ketahanan wilayah, serta menjaga kepercayaan kepada negara.
Maka, pada momentum HUT Korem 061/Suryakancana, pesan yang paling penting mungkin justru sederhana: jangan pernah kehilangan akar.
Sebab, prajurit yang kehilangan hubungan dengan rakyat akan kehilangan sebagian dari kekuatan moralnya.
Dan satuan yang kehilangan ruh pengabdiannya akan kehilangan makna dari sejarah yang diwarisinya.
Karena itu, teruslah berdiri tegak di bawah panji Suryakancana.
Berani, tetapi tidak gegabah.
Waspada, tetapi tidak takut.
Tegas, tetapi tetap manusiawi.
Kuat, tetapi tetap rendah hati.
Sebab, kekuatan terbesar TNI bukan hanya pada persenjataan yang dimilikinya.
Kekuatan terbesar TNI adalah ketika rakyat percaya bahwa prajurit hadir bukan untuk ditakuti, melainkan untuk melindungi.
Selamat HUT Korem 061/Suryakancana.
Teruslah menjaga panji.
Teruslah menjaga kehormatan.
Dan yang paling penting, teruslah menjaga kepercayaan rakyat.
Karena pada akhirnya, seorang prajurit tidak membutuhkan takhta.
Ia hanya membutuhkan kehormatan untuk mengabdi.(*)
Bandung, Agustus 2026