*Seminar Nasional “How To Be A Great Teacher”

Penampilan Syafii Efendi mampu membakar semangat para guru di Banyumas.
PURWOKERTO, EDUKATOR–Sebanyak 1.500 guru PAUD, TK, SD, dan SMP di Kabupaten Banyumas mengikuti Seminar Nasional “How To Be A Great Teacher” atau Bagaimana menjadi guru hebat yang diselenggarakan Teacher Preneur Nusantara (TPN) Jawa Tengah bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas di Gedung IPHI Banyumas, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan bertema “Menjadi Pendidik yang Mampu Menginspirasi dan Menggerakkan Generasi Bangsa” tersebut menghadirkan motivator nasional Syafii Efendi, M.Si sebagai pembicara utama.
Seminar yang berlangsung meriah itu menjadi wadah bagi para pendidik untuk memperkuat kapasitas diri, membangun pola pikir positif, serta meningkatkan kemampuan dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.
Peserta seminar antusias mengikuti paparan Syafii Efendi yang tampil dengan gaya interaktif.
Pembicara utama dalam seminar tersebut, Syafii Efendi, dikenal sebagai salah satu motivator dan pengusaha muda terkemuka di Indonesia. Pria kelahiran Medan tahun 1991 itu aktif sebagai pelatih pengembangan diri, penulis buku, dan tokoh yang konsisten menginspirasi generasi muda melalui berbagai forum pendidikan, kepemimpinan, dan kewirausahaan.
Syafii tercatat sebagai salah satu motivator termuda di Indonesia yang pernah meraih dua Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), salah satunya untuk penyelenggaraan seminar dengan frekuensi terbanyak, yakni 120 kali dalam kurun waktu tiga bulan. Perjalanan hidupnya juga tidak instan. Sebelum sukses sebagai pengusaha dan trainer nasional, ia pernah berjualan es dan keripik. Dari bisnis properti dan pelatihan, Syafii berhasil meraih pendapatan miliaran rupiah pada usia 23 tahun.
Selain aktif memberikan pelatihan di berbagai daerah, ia menjabat sebagai Presiden Indonesian BRICS Youth Forum dan Islamic Young Economic Forum, serta pendiri Indonesian Entrepreneur Club. Berbagai materi yang disampaikannya berfokus pada pembangunan karakter, kepemimpinan, kemandirian finansial, dan pola pikir sukses bagi generasi muda.
Pada sesi utama, Syafii mengajak para guru untuk meninggalkan pola pikir yang terjebak pada masa lalu dan mulai berorientasi pada masa depan. Menurutnya, perubahan besar dalam pendidikan harus diawali dari perubahan cara berpikir para guru.
“Kalau gurunya stuck, anak didiknya juga ikut macet. Tapi kalau gurunya tumbuh, muridnya akan melesat,” tegas Syafii yang disambut tepuk tangan ribuan peserta.
Syafii Efendi foto bersama sebagian peserta seminar
Syafii menjelaskan bahwa stuck merupakan kondisi ketika seseorang terjebak dalam pola pikir lama, enggan berubah, dan tidak berupaya mengembangkan diri. Karena itu, guru harus terus belajar, meningkatkan kompetensi, serta berani beradaptasi dengan perubahan agar mampu menjadi inspirasi bagi peserta didik.
Guru Harus Menjadi Agen Perubahan
Dalam pemaparannya, Syafii menekankan pentingnya membangun growth mindset atau pola pikir bertumbuh. Ia menilai guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi penggerak perubahan yang mampu membangkitkan potensi murid.
Menurutnya, banyak orang gagal berkembang bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena terjebak dalam cara berpikir yang membatasi diri. Faktor lingkungan juga memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan seseorang.
Ia menyebut lingkungan berkontribusi besar terhadap pembentukan karakter dan kesuksesan seseorang. Oleh karena itu, guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendorong murid untuk terus berkembang.
Syafii juga mengingatkan pentingnya membangun mental pemenang dan menghilangkan pola pikir yang menghambat kemajuan. Salah satu pesan yang sering ia sampaikan dalam berbagai seminar adalah pentingnya mengubah cara pandang terhadap kesuksesan.
“Tidak punya uang adalah kondisi sementara, tetapi mental miskin akan membuat seseorang miskin selamanya,” ujarnya.
Menurut dia, pola pikir positif, kemauan belajar, dan keberanian keluar dari zona nyaman merupakan modal penting untuk mencapai kesuksesan, termasuk dalam profesi guru.
Syafii menjelaskan bahwa guru yang sukses harus memiliki karakter kuat, pengetahuan yang memadai, keterampilan berkomunikasi yang baik, serta kemampuan mentransfer energi positif kepada peserta didik.
Dengan gaya penyampaian yang interaktif, ia mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap profesi guru. Menurutnya, setiap ucapan guru memiliki dampak besar terhadap masa depan anak.
“Jangan hanya menyapa murid dengan “selamat pagi anak-anak”. Sapa mereka dengan ucapan “Selamat pagi calon pemimpin bangsa”. Kalimat seperti itu bisa membentuk masa depan murid kita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Guru yang hebat, kata dia, adalah guru yang mampu menumbuhkan kepercayaan diri, semangat belajar, dan cita-cita besar dalam diri murid.
Bupati Banyumas Tekankan Keteladanan Guru
Seminar dibuka oleh Bupati Banyumas yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri, ST. Hadir pula Pembina TPN Jawa Tengah Slamet Muridan, MM dan Ketua TPN Kabupaten Banyumas Kamsono, SE.
Dalam sambutannya, Widodo Sugiri menegaskan bahwa guru dituntut menjadi pribadi yang adaptif terhadap berbagai perubahan yang terjadi di dunia pendidikan. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan karakter generasi muda, peran guru tetap tidak tergantikan.
“Guru harus mengajar dengan hati, penuh ketulusan dan kasih sayang. Keteladanan guru sangat penting untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna,” katanya.
Menurut Widodo, seorang guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru juga harus mampu menjadi figur yang menginspirasi serta menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dan berkesan bagi murid.
Ia menambahkan bahwa ketulusan, kasih sayang, dan keteladanan merupakan fondasi penting dalam membangun pendidikan yang berkualitas. Melalui pendekatan tersebut, proses belajar tidak hanya menghasilkan murid yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik.
Widodo berharap seminar tersebut menjadi momentum refleksi bagi para pendidik untuk terus meningkatkan kualitas diri dan menghadirkan pembelajaran yang berdampak positif bagi perkembangan peserta didik.
TPN Jateng Soroti Tantangan Dunia Pendidikan
Pembina TPN Jawa Tengah, Slamet Muridan, MM kepada EDUKATOR secaara terpisah, mengatakan, berbagai persoalan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini semakin kompleks. Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan sistem pembelajaran, tetapi juga menyangkut kualitas, moralitas, dan posisi guru di tengah masyarakat.
Pembina TPN Jateng Slamet Muridan SE MM (kanan) bersama Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas Widodo Sugiri ST.
Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir muncul berbagai kasus yang melibatkan guru, baik yang berkaitan dengan hubungan guru dan murid maupun persoalan antarsesama guru. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dunia pendidikan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
“Persoalan guru saat ini sangat kompleks. Ada masalah moralitas, penurunan kualitas guru, hingga berbagai kasus yang melibatkan guru. Kekuatan guru juga masih relatif lemah dalam menghadapi berbagai persoalan,” katanya.
Slamet menegaskan bahwa TPN hadir untuk memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat peran guru sebagai salah satu pilar pembangunan bangsa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong perubahan pola pikir atau mindset guru agar lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Menurutnya, masih ada sebagian pendidik yang menjalankan tugas mengajar sebatas formalitas. Padahal, guru dituntut terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri agar mampu menjawab kebutuhan peserta didik di era modern.
Ia juga menyinggung persoalan ketidaksesuaian antara pendidikan yang ditempuh dengan profesi yang dijalani. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, termasuk di sektor pendidikan.
“Kalau ingin mewujudkan Generasi Emas Indonesia, maka kualitas gurunya harus terus diperkuat. Guru harus memiliki pola pikir yang benar, karakter yang kuat, dan semangat belajar sepanjang hayat,” ujarnya.
Slamet menilai penghormatan terhadap profesi guru juga perlu dibangun kembali sebagaimana yang terjadi pada masa lalu. Saat itu, guru memiliki posisi yang sangat dihormati dan menjadi teladan di lingkungan masyarakat.
“Dulu guru sangat dihormati. Murid memiliki sikap tawaduk dan menghargai gurunya. Nilai-nilai seperti itu perlu kita hidupkan kembali,” katanya.
Menyalakan Semangat Pendidikan
Seminar Nasional How To Be A Great Teacher menjadi lebih dari sekadar forum berbagi ilmu. Kegiatan ini menghadirkan energi dan semangat baru bagi para guru untuk terus belajar, beradaptasi, dan memperkuat perannya sebagai penggerak perubahan.
Melalui penguatan karakter, pola pikir, dan kompetensi pendidik, para peserta diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna serta melahirkan generasi bangsa yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
Seminar tersebut sekaligus menegaskan bahwa guru bukan sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan agen perubahan yang berperan penting dalam membentuk masa depan bangsa. Guru yang terus bertumbuh akan mampu menginspirasi murid untuk tumbuh lebih jauh dan mencapai potensi terbaiknya. (Prasetiyo)