The Onoda Effect: Mengubah Budaya Terlambat Menjadi Integritas Waktu di Sekolah

Bagikan :

Oleh: Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga

SEBUAH video singkat belakangan ini menyita perhatian publik. Kimi Onoda, seorang menteri di Jepang, tampak berlari menuju ruang rapat kabinet karena terlambat lima menit. Bukan keterlambatannya yang menjadi sorotan, melainkan sikapnya setelah itu: ia meminta maaf secara terbuka kepada publik.

Peristiwa ini menegaskan bahwa waktu bukan sekadar angka, melainkan cerminan integritas dan penghormatan terhadap orang lain. Lalu, bagaimana dengan realitas di sekolah kita?

Di banyak sekolah Indonesia, keterlambatan sering dianggap hal lumrah. Pemandangan murid datang setelah bel berbunyi, bahkan guru yang masuk kelas tidak tepat waktu, masih sering dijumpai. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari sistem poin pelanggaran, hukuman fisik ringan, hingga pemanggilan orang tua. Namun, hasilnya sering kali tidak berkelanjutan. Keterlambatan tetap berulang, seolah menjadi budaya yang sulit diubah.

Ketika Hukuman Tidak Menyentuh Kesadaran

Seorang guru di sebuah SMP swasta di Jawa Tengah pernah menerapkan aturan tegas: murid yang terlambat harus berlari mengelilingi lapangan sekolah sebanyak tiga putaran.

Pada awalnya, kebijakan ini tampak efektif. Jumlah murid terlambat menurun drastis dalam satu minggu. Namun, efek tersebut tidak bertahan lama. Dalam beberapa minggu berikutnya, murid kembali terlambat. Bahkan, muncul perilaku baru: beberapa murid memilih bersembunyi di luar sekolah hingga jam pelajaran kedua dimulai untuk menghindari hukuman.

Fenomena ini menunjukkan bahwa hukuman hanya menekan perilaku di permukaan tanpa menyentuh kesadaran internal murid.

Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, sebuah SMP di Yogyakarta mencoba strategi lain. Ketika murid terlambat, guru tidak langsung menghukum, melainkan mengajak dialog singkat: “Mengapa kamu terlambat?”, “Siapa yang terdampak dari keterlambatanmu?”, dan “Apa rencanamu agar besok bisa datang tepat waktu?”

Hasilnya cukup mengejutkan. Dalam waktu satu bulan, jumlah keterlambatan menurun secara signifikan. Murid mulai menunjukkan kesadaran untuk datang lebih awal, bukan karena takut hukuman, tetapi karena merasa bertanggung jawab. Pendekatan ini membuktikan bahwa restitusi mampu membangun disiplin yang bersifat jangka panjang.

Membangun Budaya Tepat Waktu Melalui Keteladanan

Lain lagi di sebuah sekolah swasta di Semarang. Seorang guru Bahasa Inggris menerapkan strategi sederhana namun berdampak besar. Ia mengisi lima menit pertama pelajaran dengan aktivitas menarik, seperti kuis cepat berbasis permainan dan storytelling ringan.

Tanpa disadari, murid mulai berlomba datang lebih awal. Bahkan, beberapa murid yang sebelumnya sering terlambat berubah menjadi murid yang hadir sebelum bel berbunyi.

Ketika ditanya alasannya, jawaban mereka sederhana: “Takut ketinggalan bagian seru di awal.” Inilah bukti bahwa motivasi intrinsik dapat menjadi kunci perubahan perilaku.

Ada pula pengalaman menarik dari sebuah sekolah di Banyumas. Kepala sekolah membuat kebijakan sederhana: setiap guru yang terlambat wajib meminta maaf langsung kepada murid di kelas.

Kebijakan ini awalnya terasa tidak nyaman bagi sebagian guru. Namun, justru dari situlah perubahan dimulai. Guru menjadi lebih disiplin, dan murid melihat contoh nyata tentang tanggung jawab.

Keteladanan ini perlahan menciptakan budaya baru: keterlambatan bukan lagi hal biasa, melainkan sesuatu yang perlu disadari dan diperbaiki. Refleksi ini sejalan dengan apa yang ditunjukkan Kimi Onoda bahwa integritas waktu dimulai dari pemimpin, termasuk guru di ruang kelas.

Berbagai studi kasus di atas menunjukkan satu benang merah: perubahan tidak terjadi karena hukuman, tetapi karena kesadaran dan budaya. Sekolah perlu bertransformasi dari sekadar penegak aturan menjadi pembentuk karakter.

Budaya tepat waktu harus dibangun melalui pendekatan reflektif (restitusi), strategi pembelajaran yang menarik (The Golden Start), serta keteladanan guru dan pimpinan sekolah.

Menghadirkan The Onoda Effect di sekolah berarti menanamkan nilai bahwa setiap detik adalah bentuk penghormatan terhadap orang lain. Jika ini berhasil, maka sekolah tidak hanya melahirkan murid yang disiplin, tetapi juga manusia yang berintegritas, fondasi utama bagi peradaban bangsa yang bermartabat.(*)

BERITA TERKINI

fauzi27
The Onoda Effect: Mengubah Budaya Terlambat Menjadi Integritas Waktu di Sekolah
WhatsApp Image 2026-05-27 at 14.29
FT Unsoed Bagikan Lebih dari 200 Paket Daging Kurban
FULAD6
Diplomasi di Bawah Bayangan Rudal, Ujian Perdamaian di Timur Tengah dan Risiko Perang yang Lebih Luas
unsoed gerbang
Unsoed Terima 4.030 Mahasiswa Baru Jalur SNBT 2026
1
Yuk..Simak Panduan Lengkap SPMB PAUD, SD dan SMP Ini