“Ngopeni Nglakoni Jateng” Jadi Gerakan Nyata Melawan TBC

Bagikan :

*Dinkes Purbalingga Gelar Skrining Kesehatan Gratis

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga dr. Jusi Febrianto M.P.H gencar mengampanyekan TOSS TBC  kepada masyarakat. (Foto: Dedi Anton Nugroho/EDUKATOR) 

PURBALINGGA, EDUKATOR — Dingin masih terasa menusuk kulit . Tapi pagi itu, Waryati (40), pembantu rumah tangga  warga Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga ini tak menyurutkan niatnya untuk datang ke halaman parkir GOR Goentoer Darjono, Purbalingga.

Menaiki sepeda onthel, Waryati  menempuh perjalanan sejauh kurang lebih empat kilometer

Mengenakan pakaian dan sepatu olah raga, Minggu (9/11/2025) pagi jam 05.30 WIB, Waryati  sudah tiba di lokasi yang dituju. Ia berniat mengikuti senam pagi, dan mengikuti skrining kesehatan gratis yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purbalingga. Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 61 tingkat Kabupaten Purbalingga.

“Sudah saya niati sejak seminggu lalu, mumpung ada skrining kesehatan gratis, harus ikut,”  tutur Waryati  kepada EDUKATOR.

Kegiatan skrining kesehatan gratis yang diikuti Waryati, sekaligus  menjadi bagian dari kampanye nasional “TOSS TBC (Temukan, Obati, Sampai Sembuh)”. Kegiatan ini sejalan dengan program Ngopeni Nglakoni Jateng—program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.

Di bidang kesehatan, program ini menekankan kepedulian dan aksi nyata dalam menjaga kesehatan masyarakat. Ratusan orang mengikuti senam pagi bersama di halaman GOR Goentoer Darjono Purbalingga, Minggu (9/11/2025). (Foto: Dedi Anton Nugroho/EDUKATOR) 

Pagi itu, acara diawali dengan senam pagi yang diikuti warga lintas usia, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan gratis serta sosialisasi tentang bahaya dan pencegahan TBC.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga dr. Jusi Febrianto M.P.H mengemukakan,  skrining kesehatan gratis ini dilaksanakan serentak di seluruh Jawa Tengah dan dipantau secara daring.

“Semakin dini terdeteksi, akan semakin mudah dalam pengobatannya,” ujar Jusi Febrianto.Skrining kesehatan gratis yang diselenggarakan oleh Dinkes Purbalingga di GOR Goentoer Darjono, Purbalingga, Minggu (9/11/2025). (Foto: Dedi Anton Nugroho/EDUKATOR) 

Jusi juga mengajak warga yang mengalami batuk berkepanjangan agar tidak ragu datang ke puskesmas untuk pemeriksaan dahak. Pemeriksaan dan pengobatan TBC tidak dikenai biaya alias gratis.

Penanganan TBC di Purbalingga bukan hanya soal pemeriksaan, tetapi juga pembangunan kesadaran masyarakat. Melalui edukasi yang menyentuh, Dinkes Purbalingga mengajarkan bahwa TBC bisa dicegah, diobati, dan disembuhkan bila masyarakat berani melakukan deteksi dini dan mengubah gaya hidup.

Tanda Awal TBC
Menurut Kementerian Kesehatan RI, batuk lebih dari dua minggu—terutama yang berdahak atau berdarah—merupakan tanda awal TBC paru. Batuk ini sering disertai nyeri dada saat bernapas dan sesak napas akibat infeksi pada jaringan paru.

Gejala lain yang perlu diwaspadai antara lain demam ringan yang tak kunjung reda, keringat malam tanpa aktivitas berat, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, nafsu makan berkurang, serta rasa lelah berkepanjangan. Gejala-gejala ini sering kali diabaikan karena tampak ringan, padahal bisa menjadi tanda infeksi serius.

Dalam beberapa kasus, TBC juga menyerang organ di luar paru. Infeksi tulang dapat menyebabkan nyeri punggung atau pembengkakan sendi, infeksi ginjal dapat menimbulkan kencing berdarah, dan infeksi kelenjar getah bening menimbulkan benjolan di leher tanpa rasa nyeri.

Menular Lewat Udara
TBC menular melalui udara ketika penderita aktif batuk, bersin, atau berbicara tanpa masker. Butiran air liur mikroskopis (droplet) membawa kuman yang dapat terhirup oleh orang lain di sekitarnya. Karena itu, menjaga ventilasi rumah dan etika batuk menjadi langkah sederhana namun penting untuk mencegah penyebaran.

“Jangan takut periksa dahak. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula sembuhnya,” tegas Jusi Febrianto.

Gerakan Nyata
Semangat Ngopeni Nglakoni Jateng yang digagas oleh Luthfi–Yasin terasa hidup dalam kegiatan di Purbalingga. “Ngopeni” berarti merawat, sedangkan “nglakoni” berarti menjalankan. Filosofi ini menegaskan bahwa kepedulian tidak berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata—seperti melindungi sesama dari penyakit yang bisa dicegah.

Program ini menekankan sinergi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. TBC bukan lagi urusan individu, melainkan persoalan sosial yang harus ditangani bersama.

Warga tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga penggerak. Dengan mengenali gejala, melakukan pemeriksaan rutin, dan menjaga kebersihan lingkungan, mereka ikut membangun benteng kesehatan bagi keluarga.

Dinkes Purbalingga juga menekankan pentingnya gaya hidup sehat untuk mencegah TBC. Warga dihimbau memperbanyak konsumsi makanan bergizi, berhenti merokok, rajin berolahraga, serta memastikan rumah memiliki ventilasi cukup agar udara segar mengalir setiap hari.

Tips mencegah TBC
Untuk mencegah penyakit TBC, Dinkes Purbalinga belakangan gencar memberikan tips dan informasi kepada masyarakat. Berikut tipsnya::
1.Gunakan masker saat batuk.
2.Jangan meludah sembarangan.
3.Jemur kasur secara berkala.
4.Jaga kebersihan tangan.
5.Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika batuk lebih dari dua minggu.

Bagi pasien positif, dokter mengingatkan untuk menjalani pengobatan hingga tuntas. Menghentikan obat sebelum waktunya dapat membuat bakteri kebal dan penyakit kambuh lebih berat.

Terkait program skrining kesehatan gratis ini, lanjut Jusi Febrianto, akan diperluas hingga tingkat desa. Dinkes bekerja sama dengan relawan dan kader kesehatan memastikan setiap warga, terutama yang bergejala, mendapat akses pemeriksaan.

Data Nasional & Status TBC di Indonesia
Secara nasional, kondisi TBC di Indonesia masih sangat serius. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) dan data resmi Kementerian Kesehatan RI tahun 2025, diketahui ada sekitar 1.090.000 kasus baru TBC per tahun di Indonesia, dengan 125.000 kematian akibat penyakit ini.

Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dalam beban TBC setelah India.

Tahun 2022 tercatat lebih dari 724.000 kasus baru. Hingga 2023, estimasi kasus mencapai 1.060.000 dengan 134.000 kematian.

Tantangan Menekan Kasus TBC
Meski berbagai program telah berjalan, tantangan menekan kasus TBC masih besar. Kesadaran masyarakat di pedesaan yang rendah, stigma terhadap pasien, serta kendala pengawasan pengobatan menjadi hambatan nyata. Banyak pasien menghentikan obat di tengah jalan karena merasa sudah sehat, padahal bakteri belum sepenuhnya mati.

Di Kabupaten Purbalingga sendiri, data terbaru Dinas Kesehatan hingga 9 November 2025 mencatat, terdapat  2.305 kasus TBC, atau 79,5 persen dari total estimasi kasus tahunan.

“Jumlah kasus TBC di Purbalingga sampai awal November 2025 mencapai 2.305 kasus atau 79,5 persen. Ini cukup memprihatinkan juga,” ujar Kepala Bidang Pengobatan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Purbalingga, Tri Adi Handoyo, SKM M.Kes  yang dihubungi EDUKATOR secara terpisah di kantornya, Senin (10/11/2025).

Menurutnya, Pemkab Purbalingga telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan angka tersebut. Salah satunya melalui Peraturan Bupati Nomor 65 Tahun 2024 tentang Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Tuberkulosis 2024–2029, serta pembentukan Tim Percepatan Eliminasi Tuberkulosis berdasarkan SK Bupati Nomor 443/341 Tahun 2022.

Langkah lainnya adalah penggalangan komitmen lintas sektor, penyebarluasan informasi tentang TBC, penemuan kasus aktif oleh petugas puskesmas, serta pengobatan tuntas bagi pasien.

“Kami juga terus melaksanakan skrining kesehatan dan kampanye TOSS  TBC yang dilakukan serentak di seluruh Jawa Tengah,” tambahnya.

Tri Adi Handoyo mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap gejala TBC, terutama bila batuk berlangsung lebih dari dua minggu. Pemeriksaan TBC di puskesmas dapat dilakukan secara gratis.

Saat ini, lanjut Tri Adi,  keterbatasan petugas di lapangan dan jarak fasilitas kesehatan masih menjadi tantangan. Karena itu, pendekatan sosial dan edukatif seperti Ngopeni Nglakoni Jateng menjadi kunci membangun kepedulian berkelanjutan.

Lewat kolaborasi nyata antara Dinkes Purbalingga dan program Ngopeni Nglakoni Jateng, penanganan TBC kini menjadi gerakan kolektif. Bukan hanya deteksi dan pengobatan, tetapi juga perubahan perilaku dan peningkatan empati terhadap sesama.

Berdasarkan Panduan Kemenkes RI tentang TBC 2025, setiap daerah diharapkan mampu menekan angka insiden melalui deteksi dini, pengobatan tuntas, serta partisipasi aktif masyarakat.

Purbalingga kini menunjukkan bahwa melawan TBC bukan sekadar urusan medis, tetapi keberanian untuk saling peduli. Melalui langkah nyata dan semangat gotong royong, program Ngopeni Nglakoni Jateng menyalakan harapan bahwa kesehatan masyarakat bisa tercapai ketika semua pihak berjalan bersama. (Prasetiyo)

BERITA TERKINI

bupati sadewo2
Bupati Sadewo Ajak Masyarakat "Brayan Mbangun Banyumas PAS"
jalan berlubang1
Waspada ! Jalur Mudik Purbalingga Banyak Lubang dan Lampu Mati
beasiswa australia
Beasiswa S2 bagi Kepala Sekolah dan Guru Sekolah Garuda, Ini Syaratnya...
ut purwokerto
UT Purwokerto, Belajar di Mana Saja dan Kapan Saja
ukdw1
UKDW Gelar Leadership Academy Bertaraf Internasional