Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga
PAGI hari di sekolah biasanya dimulai dengan rutinitas yang nyaris seragam: siswa datang, bercengkerama, sebagian masih mengantuk, sebagian lain sibuk dengan gawainya. Guru masuk kelas, pelajaran dimulai, dan hari berjalan seperti biasa.
Namun siapa sangka, dari ruang yang tampak biasa itu, sebuah tragedi bisa lahir—cepat, senyap, dan mematikan.
Peristiwa di Sumberlawang, Sragen, Jawa-Tengah menjadi tamparan keras bagi kita semua. Seorang siswa SMP harus kehilangan nyawa setelah perkelahian dengan temannya sendiri—yang bermula dari ejekan ringan.
Ejekan yang selama ini dianggap “bumbu pergaulan” remaja, ternyata bisa berubah menjadi pemicu kematian.
Kita sering menyebutnya kenakalan remaja, lalu buru-buru mencari siapa yang salah. Namun jika kita jujur, peristiwa ini bukan sekadar kelalaian. Ini adalah cermin—yang memantulkan wajah pendidikan kita sendiri.
Sekolah Ramai Program, Sepi Kesadaran
Sekolah hari ini tidak kekurangan program. Ada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), kegiatan kokurikuler, hingga berbagai slogan moral di dinding kelas.
Namun di balik itu, ada satu hal yang diam-diam hilang: kesadaran diri.
Siswa tahu mana yang benar dan salah. Mereka hafal nilai empati, toleransi, dan gotong royong. Tetapi ketika emosi datang—marah, tersinggung, atau terhina—semua itu seolah menguap. Yang tersisa hanyalah reaksi.
Di banyak sekolah, ejekan dianggap hal biasa. Dibungkus dengan alasan “cuma bercanda”, padahal tidak semua anak memiliki daya tahan emosi yang sama.
Bagi sebagian siswa, ejekan adalah luka yang menumpuk. Dan ketika tidak ada ruang aman untuk menyalurkannya, luka itu berubah menjadi amarah—yang pada akhirnya bisa meledak menjadi kekerasan.
Masalahnya, selama ini siswa lebih sering diberi tahu daripada dilatih. Mereka diajarkan kesabaran, tetapi tidak dilatih mengelola marah. Mereka diajarkan empati, tetapi tidak diajak benar-benar merasakan.
Padahal, kemampuan mengelola emosi adalah keterampilan yang harus dilatih secara nyata, bukan sekadar diajarkan.
Saatnya Mengembalikan Makna Pendidikan
Setiap kali terjadi kasus, guru sering menjadi pihak yang disorot. Padahal, beban mereka sudah sangat besar: mengajar, mengurus administrasi, hingga menjadi pembimbing siswa.
Di sisi lain, ada kesenjangan antara sekolah dan keluarga. Nilai yang diajarkan di sekolah tidak selalu diperkuat di rumah. Akibatnya, siswa hidup dalam dua dunia yang tidak selaras.
Karena itu, pendidikan karakter tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan kolaborasi nyata antara sekolah dan keluarga.
Peristiwa di Sragen adalah alarm keras. Kita tidak kekurangan kurikulum atau program. Yang kurang adalah kedalaman—dalam memahami siswa sebagai manusia, dalam membangun relasi, dan dalam menanamkan nilai.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu, tetapi ruang untuk memanusiakan manusia.
Pada akhirnya, nilai tertinggi pendidikan bukanlah angka di rapor, melainkan kemampuan seseorang mengendalikan dirinya.
Jika tidak ada perubahan, kita hanya akan terus mengulang siklus yang sama: terkejut, berduka, menyalahkan, lalu melupakan. Dan tragedi berikutnya—hanya tinggal menunggu waktu.(*)