Blokade Selat Hormuz, Perang Terselubung AS vs China

Bagikan :

                           Oleh: Mayjen TNI Purn Fulad, S.Sos, M.Si                     
Penasehat Militer RI untuk PBB, New York  (2017–2019)

KETIKA saya masih bertugas di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  di New York pada 2017 hingga 2019, saya kerap menyaksikan bagaimana Iran selalu hadir sebagai “agenda tersembunyi” di balik setiap resolusi yang membahas Timur Tengah. Saat itu saya sudah merasa khawatir. Saya melihat Amerika Serikat dan China berhadapan secara diplomatik, dengan Iran menjadi papan catur yang senyap.

Kini, kekhawatiran itu seolah menjadi nyata melalui blokade de facto di Selat Hormuz. Namun situasi ini bukan sekadar konflik regional antara Amerika Serikat dan Iran. Ini adalah babak baru dari perang terselubung antara Amerika Serikat dan China, dengan jalur perdagangan global sebagai panggung utama dan dominasi ekonomi sebagai tujuan akhirnya.

Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20 persen minyak mentah dunia. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran telah mengganggu jalur ini secara signifikan. China, yang sebelumnya mengimpor lebih dari satu juta barel minyak Iran per hari atau sekitar 80–90 persen ekspor Iran, kehilangan pasokan vitalnya.

Akibatnya, harga energi melonjak, tekanan inflasi meningkat, dan cadangan strategis China mulai tergerus. Dampak ini bukan sekadar gangguan biasa, melainkan pukulan langsung terhadap jantung mesin ekonomi Negeri Tirai Bambu.

Perang Terselubung

Saya menyebutnya sebagai “perang terselubung” karena Amerika Serikat tidak pernah secara resmi menyatakan perang terhadap China. Secara formal, konflik ini memang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Namun fakta di lapangan menunjukkan arah yang berbeda.

Infrastruktur strategis China di Iran, seperti jalur kereta api yang diresmikan pada Mei 2025 untuk mengangkut minyak tanpa melalui jalur laut yang dikuasai Amerika Serikat, menjadi sasaran serangan. Pelabuhan Bandar Abbas sebagai simpul logistik utama juga terdampak. Investasi China dalam kerja sama jangka panjang dengan Iran pun terancam.

Semua ini terjadi tanpa adanya resolusi Dewan Keamanan PBB yang secara tegas mengutuk tindakan tersebut. Sebagai mantan penasihat militer Indonesia di PBB, saya melihat ini sebagai cerminan lemahnya sistem multilateral internasional.

China Dalam Posisi Sulit

China kini berada dalam posisi sulit. Pasalnya, jalur Sutra darat menuju Eropa melalui Iran terhambat. Jalur laut melalui Selat Malaka berada dalam bayang-bayang kekuatan militer Amerika Serikat. Rute alternatif melalui Rusia pun terganggu oleh perang Ukraina.

Dalam kondisi ini, China tidak memiliki banyak pilihan. Kekuatan ekonominya memang besar, tetapi pengaruh militer dan politiknya di Timur Tengah tidak sebanding dengan Amerika Serikat yang memiliki jaringan pangkalan dan sekutu kuat.

Akibatnya, Beijing hanya mampu menyampaikan protes diplomatik, sementara aset strategisnya terus tertekan. Ini menunjukkan dilema klasik: kekuatan ekonomi yang besar tidak selalu diikuti kemampuan militer yang memadai di wilayah yang jauh dari pusat kekuatan.

Pada titik inilah kekhawatiran yang lebih besar muncul. Blokade Hormuz bukan hanya persoalan kawasan, tetapi juga menjadi pelajaran strategis bagi China.
Pengalaman Iran menunjukkan bahwa tekanan terhadap jalur vital global dapat memengaruhi keputusan besar. Hal ini membuka kemungkinan skenario serupa di kawasan lain, terutama terkait Taiwan.

Para analis internasional telah mengingatkan bahwa perubahan keseimbangan global sedang berlangsung. Fokus Amerika Serikat di Asia Pasifik melemah karena terpecah oleh konflik di Timur Tengah dan Ukraina. Dalam situasi ini, ruang gerak China berpotensi meningkat.

Namun, bukan berarti China akan langsung melakukan invasi besar-besaran ke Taiwan. Risiko langkah tersebut terlalu tinggi. Yang lebih mungkin adalah perubahan bertahap di lapangan melalui tekanan ekonomi, blokade parsial, atau pengaruh politik yang semakin kuat.

Posisi Strategis Taiwan

Taiwan sendiri memiliki posisi yang sangat strategis karena memasok lebih dari sepertiga kebutuhan mikrochip dunia. Gangguan kecil saja terhadap rantai pasok ini dapat berdampak besar terhadap ekonomi global.

Dunia mungkin masih bisa bertahan tanpa minyak Iran dalam jangka waktu tertentu. Namun ketergantungan terhadap mikrochip Taiwan jauh lebih tinggi dan berdampak langsung pada berbagai sektor industri.

Bagi Indonesia, situasi ini bukanlah sesuatu yang jauh. Dampaknya akan terasa secara nyata.

Pertama, gangguan pasokan mikrochip global dapat memengaruhi industri elektronik dan otomotif di dalam negeri. Kedua, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya hidup masyarakat. Ketiga, investasi asing, terutama dari China, bisa melambat karena fokus negara tersebut bergeser ke stabilitas internalnya.

Dalam dunia yang saling terhubung, tidak ada konflik yang benar-benar jauh. Semua memiliki dampak langsung maupun tidak langsung terhadap negara lain, termasuk Indonesia.

Saya menulis ini bukan untuk menimbulkan ketakutan, tetapi sebagai pengingat. Berdasarkan pengalaman saya di Dewan Keamanan PBB, konflik besar jarang dimulai secara terbuka. Ia muncul melalui langkah-langkah kecil, ketegangan yang dibiarkan, dan kegagalan diplomasi.

Blokade Selat Hormuz adalah peringatan dini. Potensi konflik yang lebih luas harus diantisipasi sejak sekarang.

Indonesia Tidak Boleh Jadi Penonton

Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita perlu memperkuat diplomasi, menjaga stabilitas ekonomi, serta mempersiapkan langkah strategis menghadapi ketidakpastian global.

Pada akhirnya, dalam dinamika geopolitik global, negara yang tidak siap akan menjadi pihak yang paling terdampak. Indonesia harus memastikan tidak berada dalam posisi tersebut.

Cisaranten Kulon – Bandung, 1 Mei 2026

BERITA TERKINI

FULAD6
Blokade Selat Hormuz, Perang Terselubung AS vs China
maos01
SMPN 1 Maos Gelar Literasi "Gangsa Cendekia"
FULAD6
Strategi Iran Lebih Terukur daripada AS, Sekutu Baru Sadar
das3
Selamatkan Ikan Asli di DAS Serayu, FPIK Unsoed Gelar FGD
kwarran14
Rakhmat Terpilih Pimpin Kwarran Purbalingga Masa Bakti 2026-2028