
Ilustrasi AI
SEMARANG, EDUKATOR–Refleksi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menegaskan pentingnya sentuhan manusiawi dalam pendidikan digital. Perkembangan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan—teknologi yang memungkinkan mesin meniru kemampuan berpikir manusia—terus mengubah wajah pendidikan.
Di tengah perubahan tersebut, muncul beragam pandangan tentang apakah peran guru masih relevan. Dalam refleksi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, para tokoh pendidikan menegaskan bahwa kehadiran guru tetap tidak tergantikan oleh kecanggihan teknologi.
Berikut pandangan dari tiga nara sumber yang dihubungi secara terpisah terkait makna kehadiran guru di tengah arus digitalisasi.
Guru Tak Bisa Digantikan Teknologi
Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti peran guru. Menurutnya, teknologi tidak memiliki empati dan nilai kemanusiaan yang menjadi inti pendidikan.
Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd.
“Teknologi adalah alat, bukan pengganti. Kehadiran guru bukan sekadar mengajar ilmu, tetapi mendidik dan membentuk karakter siswa,” tegas Unifah saat Konferensi Kerja PGRI Jawa Tengah di Balairung Upgris, Sabtu (25/4/2026).
Ia menambahkan, guru berperan sebagai inspirator dan motivator yang menanamkan nilai-nilai karakter. Karena itu, guru dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. “Guru yang tidak memanfaatkan teknologi akan tergantikan oleh yang menggunakannya,” ujarnya.
Menurutnya, interaksi langsung atau human connection tetap menjadi kunci dalam membangun kepercayaan diri siswa di era digital.
Filosofi Ki Hajar Dewantara Tetap Relevan
Kepala SD Negeri Losari Kidul 02 Brebes, Untung Sutikno, S.Pd., menilai bahwa filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara masih sangat relevan di tengah kemajuan teknologi.
Kepala SD Negeri Losari Kidul 02 Brebes, Untung Sutikno, S.Pd
Ia menjelaskan, prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha” menuntut guru menjadi teladan, terutama dalam literasi digital dan etika. “Guru harus melek teknologi dan menjadi contoh dalam berperilaku, baik di dunia nyata maupun media sosial,” katanya.
Menurutnya, keteladanan lebih efektif dibanding ceramah. “Guru datang tepat waktu dan tidak bermain ponsel saat mengajar sudah menjadi contoh kuat bagi siswa,” ujarnya.
Pada prinsip “Ing Madya Mangun Karsa”, guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong kreativitas siswa melalui pembelajaran berbasis proyek dan diskusi interaktif. “Murid sekarang tidak suka didikte, mereka perlu diajak berpikir dan mencari solusi bersama,” jelasnya.
Sementara itu, “Tut Wuri Handayani” menekankan pentingnya memberi ruang bagi siswa untuk mandiri. “Mendorong kepercayaan diri jauh lebih penting daripada sekadar mengejar hafalan,” tambahnya.
Dukungan dan Catatan Program MBG
Di sisi lain, Ketua PGRI Kabupaten Temanggung, Nur Akhlis, M.Pd., menyampaikan dukungan terhadap program pendidikan pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan kualifikasi guru, serta penguatan pendidikan bahasa Inggris di sekolah dasar.
Ketua PGRI Kabupaten Temanggung, Nur Akhlis, M.Pd
“Program-program tersebut sangat positif untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan agar pelaksanaan program tidak mengganggu anggaran pendidikan yang sudah ada. “Pemenuhan gizi siswa penting, tetapi jangan sampai mengorbankan pilar pendidikan lainnya,” tegasnya.
Kolaborasi Tri Pusat Pendidikan
Nur Akhlis juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan.
“Orang tua harus aktif mendampingi anak, dan masyarakat perlu mendukung sekolah dengan ide serta gagasan,” katanya.
Ia menilai kebijakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) berbasis jumlah siswa sudah tepat, namun belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pendidikan.
“Diperlukan regulasi baru agar sekolah negeri dapat berkembang dan bersaing secara sehat dengan sekolah swasta,” ujarnya. (Purwanto/Prs)