
Anak-anak TK Pertiwi Karangsrai, Kecamatan Karangmoncol Purbalingga sedangpraktik membuat gerabah dari tanah liat di sentra pembuatan gerabah Dusun Sambirata, Kecamatan Wanogara Wetan, Kecamatan Rembang, Purbalingga. (Foto: Asih Setyaningsih/EDUKATOR)
PURBALINGGA, EDUKATOR–Anak-anak zaman sekarang banyak yang tidak mengenal gerabah, termasuk fungsi dan proses pembuatannya. Untuk mengenalkan kerajinan tradisional tersebut sejak dini, sebanyak 31 anak-anak TK Pertiwi Karangsari, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga diajak mengikuti kegiatan outing class ke sentra pembuatan gerabah di Dusun Sambirata, Desa Wanogara Wetan, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Sabtu (16/5/2026).
Anak-anak TK Pertiwi Karangsari menunjukkan layah produksi perajin di sentra gerabah di Dusun Sambirata Desa Wanogara Wetan, Kecamatan Rembang, Purbalingga. (Foto: Asih Setyaningsih/EDUKATOR)
Dalam kegiatan itu, mereka dikenalkan secara langsung proses pembuatan gerabah mulai dari pemilihan tanah liat, pembentukan, penjemuran, pembakaran hingga tahap finishing. Anak-anak juga diberi kesempatan praktik membuat gerabah di atas meja putar.
Kepala TK Pertiwi Karangsari, Haryati, S.Pd.AUD., mengatakan, kegiatan outing class menjadi sarana belajar langsung bagi anak-anak untuk mengenal kerajinan tradisional sekaligus melatih kreativitas mereka.
“Kegiatan ini sangat baik karena anak belajar langsung proses pembuatan gerabah dari awal sampai akhir,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga melatih kesabaran, kreativitas, kerja sama, serta tanggung jawab anak-anak ketika praktik membuat gerabah.
Belajar Kearifan Lokal
Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan menggunakan kendaraan odong-odong menuju lokasi pembuatan gerabah. Suasana ceria terlihat sejak perjalanan menuju Desa Wanogara Wetan sejauh kurang lebih 6 km, yang ditempuh sekitar 30 menit.
Sesampainya di lokasi, anak-anak langsung berbaris membentuk lingkaran dan mengikuti penjelasan proses pembuatan gerabah yang dipandu perajin setempat, Ibu Misben.
Anak-anak tampak antusias menyaksikan tahapan pembuatan gerabah, mulai dari pengolahan tanah liat hingga proses pembakaran dan finishing.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mengenalkan kearifan lokal dan budaya daerah kepada para murid sejak usia dini.
Anak-anak Antusias Praktik Membuat Gerabah
Setelah melihat proses pembuatan gerabah, anak-anak diberi kesempatan untuk praktik langsung membentuk tanah liat sesuai kreativitas masing-masing. Mereka membuat berbagai bentuk seperti layah, asbak, sanggan, hingga pot bunga.
Ibu Misben mengajari anak-anak membuat gerabah.(Foto: Asih Setyaningsih/EDUKATOR)
Salah satu anak yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Ghulam Akmal El Ramadhan.
Ia tampak antusias saat mencoba membuat gerabah bersama teman-temannya.
Guru pendamping yang turut mendampingi kegiatan yakni Asih Setyaningsih, S.Pd., dan Wakhidah, S.Pd.AUD.
Sebelum pulang, foto bersama dengan perajin gerabah di Dusun Sambirata .(Foto: Asih Setyaningsih/EDUKATOR)
Selain melatih koordinasi tangan dan mata, kegiatan praktik tersebut juga menanamkan sikap menghargai kerja keras para perajin gerabah.
Membeli oleh-oleh gerabah untuk dibawa pulang ke rumah.
Beli Oleh-oleh Layah
Usai praktik, murid diajak melihat hasil gerabah yang sudah jadi. Sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih, anak-anak juga membeli layah untuk dijadikan oleh-oleh dari lokasi pembuatan gerabah. Layah ini befungsi sebagai alat untuk tempat mengulek cabai menjadi sambal atau mengulek bumbu-bumbu dapur.(Asih Setyaningsih/Prs)