
Penampilan anak-anak TK Purba Adhi Suta Plus Purbalingga
PURBALINGGA, EDUKATOR — Gemuruh tepuk tangan, tawa riang, dan sorak bangga memenuhi ruangan Tien Katering, Rabu (17/6/2026). Dengan balutan seragam merah khas sekolah, puluhan murid TK Purba Adhi Suta Plus tampil percaya diri membawakan drama musikal A Thousand Miles of Memories. Mereka menari, bernyanyi, dan berdialog di atas panggung dengan penuh ekspresi, sementara para orang tua tak henti mengabadikan setiap momen yang mengundang haru dan kebanggaan.
Kemeriahan pelepasan dan pentas seni tersebut semakin istimewa dengan kehadiran Wakil Bupati Purbalingga Dimas Prasetyahani bersama istri, Denita Dimas Prasetyahani. Kehadiran keduanya menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Purbalingga terhadap penguatan pendidikan anak usia dini sebagai fondasi mencetak generasi unggul.
Wakil Bupati Purbalingga Dimas Prasetyahani yang anaknya juga sekolah di TK Purba Adhi Suta Plus, hadir bersama istri.
Golden Age Jadi Fondasi Generasi Unggul
Di hadapan guru dan wali murid, Dimas menegaskan bahwa usia dini merupakan golden age atau masa emas perkembangan anak. Pada periode ini, perkembangan otak berlangsung sangat pesat, mencapai sekitar 80 persen pada usia dua tahun dan sekitar 95 persen saat anak berusia enam tahun.
Menurutnya, fase tersebut menjadi waktu terbaik untuk membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai positif, membangun kepercayaan diri, serta mengembangkan kemampuan sosial dan emosional anak. Karena itu, pendidikan anak usia dini tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.
“Anak usia kurang dari lima tahun adalah masa golden age,” ujarnya.
Dimas, yang putrinya Aruni Masita Valentina juga menempuh pendidikan di TK Purba Adhi Suta Plus, mengapresiasi penampilan seluruh murid. Ia menilai keberanian mereka tampil di atas panggung merupakan hasil proses panjang yang melibatkan kesabaran guru dan pendampingan orang tua.
“Setiap anak memiliki potensi yang berbeda,” katanya.
Ia berharap seluruh anak tumbuh di lingkungan yang aman, bahagia, dan mampu mengembangkan potensinya secara optimal.
Pendidikan Inklusif Latih Kemandirian Murid
Kepala TK Purba Adhi Suta Plus, Andari Reastini, mengatakan sekolah yang dipimpinnya menerapkan pendidikan inklusif dengan jumlah 88 murid.
Pendidikan inklusif merupakan sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan belajar yang sama kepada seluruh anak, termasuk murid berkebutuhan khusus, dalam satu lingkungan sekolah tanpa diskriminasi. Melalui pendekatan tersebut, setiap murid memperoleh pendampingan sesuai kemampuan dan kebutuhannya sehingga dapat berkembang bersama secara optimal.
Menurut Andari, sekolah tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter dan kemandirian sejak usia dini. Murid dibiasakan bertanggung jawab terhadap barang-barang miliknya sendiri serta menyelesaikan tugas sesuai kemampuannya.
“Perkembangan anak jangan hanya dilihat dari nilai,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pendidikan juga terlihat dari kemampuan anak bersosialisasi, percaya diri, dan mandiri dalam kehidupan sehari-hari.
Pentas seni yang berlangsung meriah menjadi bukti hasil pembelajaran tersebut. Tarian, lagu, dan drama musikal yang ditampilkan murid berhasil memukau tamu undangan sekaligus menghadirkan suasana hangat penuh kebanggaan.
Pelepasan itu bukan sekadar penutup masa belajar di taman kanak-kanak, melainkan penegasan bahwa pendidikan pada masa golden age yang dipadukan dengan pendekatan inklusif akan menjadi investasi penting dalam membentuk generasi yang berkarakter, mandiri, berprestasi, dan siap menghadapi masa depan. (Prasetiyo)