
Salah satu ruang kelas di SDN 1 Kecepit, Kecamatan Punggelan, Banjarnegara. (Foto: Heni Purwono/EDUKATOR).
BANJARNEGARA, EDUKATOR–SDN 1 Kecepit, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara, diharapkan menjadi museum mini pendidikan dasar sebagai upaya melestarikan sejarah pendidikan di Indonesia. Harapan itu mengemuka setelah bangunan kelas sekolah tersebut bersama sejumlah benda bersejarah ditetapkan sebagai cagar budaya pada 2025.
Selain menjadi warisan sejarah, sekolah ini dinilai menyimpan jejak penting perkembangan pendidikan dasar modern yang layak dijaga dan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi generasi mendatang.
Guru Besar Sejarah Universitas Airlangga Surabaya, Prof. Purnawan Basundoro, mengatakan SDN 1 Kecepit memiliki nilai sejarah yang tidak dimiliki sekolah lain di Banjarnegara.
“Sekolah ini berdiri pada masa pelaksanaan Politik Etis di awal abad ke-20. Buku induknya masih relatif utuh. Ini aset sejarah yang harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah karena merekam sejarah pendidikan dasar modern di Indonesia,” ujar Prof. Purnawan.
Simpan Jejak Pendidikan Sejak Awal Abad ke-20
Menurut Prof. Purnawan yang merupakan putra asli Desa Karangsari, Kecamatan Punggelan, keberadaan bangunan sekolah dan dokumen-dokumen lama menjadi bukti perkembangan sistem pendidikan pada masa kolonial.
Ia menilai peninggalan tersebut memiliki nilai historis tinggi sehingga perlu dijaga, didokumentasikan, dan dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah bagi masyarakat maupun dunia pendidikan.
Pemkab Siapkan Miniatur Kelas Tempo Dulu
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Banjarnegara, Kuat Herry Istanto, saat meninjau SDN 1 Kecepit, Kamis (10/7/2026), menegaskan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara memberikan perhatian serius terhadap pelestarian cagar budaya, termasuk yang berada di lingkungan sekolah.
Menurutnya, Bupati Banjarnegara memiliki perhatian besar terhadap keberadaan SDN 1 Kecepit sebagai salah satu bangunan bersejarah di daerah tersebut.
“Ibu Bupati sangat peduli dengan sejarah sekolah ini. Kami ingin menata salah satu ruang menjadi miniatur kelas zaman dahulu agar menjadi sarana edukasi bagi generasi mendatang. Upaya ini membutuhkan sinergi antara Dindikpora dan Dinbudpar,” kata Kuat.
Ia berharap mini museum tersebut mampu memperkenalkan sejarah pendidikan dasar kepada masyarakat sekaligus menjadi destinasi edukasi yang memperkaya pengetahuan tentang perjalanan pendidikan di Banjarnegara.
Sekolah Berharap Dukungan Anggaran
Kepala SDN 1 Kecepit, Arif Subekti, berharap penetapan sekolahnya sebagai cagar budaya diikuti dengan dukungan nyata dari pemerintah, terutama dalam pemeliharaan bangunan.
Menurutnya, beberapa bagian gedung sudah mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan khusus karena statusnya sebagai bangunan cagar budaya.
“Beberapa bagian gedung sudah rusak dan perlu diperbaiki. Kami sangat membutuhkan anggaran karena bangunan cagar budaya tidak boleh diperbaiki secara sembarangan,” ujar Arif.
Buku Induk Diusulkan Jadi Memori Kolektif Bangsa
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara yang juga Ketua Umum Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI), Heni Purwono, menyatakan pihaknya siap mendukung penuh terwujudnya museum mini pendidikan di SDN 1 Kecepit.
Saat ini, YSMI memperoleh dukungan dari Kementerian Kebudayaan bersama LPDP melalui program Dana Indonesia Raya untuk mendorong pelestarian warisan budaya.
“Kami ingin SDN 1 Kecepit tidak berhenti hanya sebagai cagar budaya. Kami akan berkolaborasi dengan Disarpus dan Perpusnas agar Buku Induk Siswa dapat ditetapkan sebagai memori kolektif bangsa. Sejumlah sekolah lain yang kami teliti, seperti SDN Pekauman, juga memiliki dokumen kuno yang dapat memperkaya sejarah pendidikan dasar di Banjarnegara,” tutur Heni.
Ia berharap kolaborasi berbagai pihak dapat mewujudkan SDN 1 Kecepit sebagai pusat edukasi sejarah pendidikan, sekaligus menjaga warisan penting yang merekam perjalanan pendidikan dasar di Banjarnegara untuk generasi mendatang.(Heni Purwono/Prs)