Oleh: Mayjen TNI (Purn.) Dr. (C.) Fulad
Pemerhati Geopolitik, Pertahanan, dan Ketahanan Pangan
Pendahuluan
JANGAN keliru, bahwa jalan tol yang membentang megah dan gedung pencakar langit tidak pernah menyelamatkan bangsa dari kehancuran. Sejarah mencatat bahwa peradaban besar runtuh bukan karena miskin beton, melainkan karena miskin akal dan keroposnya karakter manusia.
Kita saat ini terjebak dalam euforia pembangunan fisik yang menggila, seolah-olah panjang proyek menjadi satu-satunya indikator kemajuan. Padahal, kekeliruan cara pandang seperti ini dapat mengancam eksistensi bangsa di abad ke-21.
Jepang bangkit dari abu Perang Dunia II karena etos kerja dan disiplin warganya, bukan semata-mata karena pabrik-pabriknya. Tiongkok menjadi kekuatan ekonomi dunia karena berani mengorbankan pertumbuhan instan demi melahirkan puluhan juta lulusan sains dan teknik setiap tahun.
Iran, di tengah belenggu sanksi internasional, justru berkembang sebagai kekuatan teknologi regional karena bertumpu pada kecerdasan para ilmuwannya, bukan pada belanja senjata impor.
Ketiga negara tersebut memberikan pelajaran yang sama: kekuatan nasional ditentukan oleh kualitas manusia dan daya pikir, bukan oleh kubikasi beton.
Indonesia telah mendeklarasikan visi Indonesia Emas 2045. Namun, jargon itu akan terasa hampa apabila setiap tahun bangsa ini kehilangan ratusan ribu bibit unggul hanya karena keterbatasan ekonomi.
Ancaman terbesar terhadap kedaulatan bangsa bukan datang dari kapal asing ataupun rudal, melainkan dari ruang kelas yang semakin sepi dan laboratorium yang semakin usang. Sudah saatnya kebijakan yang terlalu berorientasi pada proyek fisik diubah dengan menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai poros utama pertahanan nasional.
Antara Beton dan Darah Muda: Kritik atas Prioritas Keliru
Anggaran belanja modal untuk pembangunan infrastruktur terus meningkat, sementara alokasi untuk riset dan beasiswa justru tidak berkembang sebanding. Dampaknya terlihat nyata. Lebih dari 113.000 calon mahasiswa mengundurkan diri dari SNPMB 2026, sebagian besar karena tidak mampu membayar biaya pendidikan.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap nama terdapat potensi masa depan bangsa: calon dokter yang gagal menyembuhkan, calon insinyur yang gagal merancang, serta calon peneliti yang gagal menemukan solusi bagi ketahanan pangan. Tanpa disadari, negara sedang mengorbankan generasinya sendiri, sementara perhatian publik lebih banyak tersita oleh peresmian proyek-proyek baru.
Yang lebih memprihatinkan, ruang publik semakin dirusak oleh menurunnya kepercayaan terhadap sistem merit. Ketika anak petani yang cerdas harus menghentikan kuliah karena alasan ekonomi, sementara mereka yang memiliki akses kekuasaan lebih mudah memperoleh kesempatan, maka yang sedang dibangun bukanlah negara maju, melainkan sistem feodal modern yang mengutamakan koneksi dibandingkan kompetensi.
Apabila masyarakat mulai meyakini bahwa kerja keras dan kecerdasan tidak lagi menjadi jalan menuju keberhasilan, maka yang runtuh bukan hanya rasa keadilan, tetapi juga fondasi moral bangsa. Persoalan ini merupakan kegagalan sistemik yang hanya dapat diselesaikan melalui keberanian politik, bukan sekadar seremoni.
Memahami Ulang Ancaman: Perang Hari Ini adalah Perang Riset
Dunia telah berubah secara mendasar. Perang modern tidak lagi dimenangkan oleh banyaknya tank atau jet tempur. Medan tempur kini berada pada algoritma, spektrum frekuensi, laboratorium semikonduktor, kecerdasan buatan, teknologi siber, hingga komputasi kuantum.
Seluruh teknologi tersebut lahir dari aktivitas akademik dan riset ilmiah, bukan dari proyek-proyek mercusuar yang diresmikan dengan pita dan seremoni.
Pertanyaannya sederhana tetapi mendasar. Siapa yang akan merancang sistem pertahanan siber Indonesia jika lulusan teknologi informasi terbaik tersingkir karena kemiskinan? Siapa yang akan menemukan varietas unggul tanaman apabila calon agronom harus meninggalkan cita-citanya demi bertahan hidup?
Indonesia mengalami brain drain dalam arti yang lebih luas. Kita tidak hanya kehilangan talenta yang memilih bekerja di luar negeri, tetapi juga kehilangan mereka yang bahkan tidak pernah memperoleh kesempatan mengembangkan potensinya di negeri sendiri.
Pengalaman Tiongkok dan Iran menunjukkan bahwa kemandirian teknologi merupakan bentuk pertahanan nasional tertinggi. Ketika negara lain memblokade pasokan, mereka tetap bertahan melalui inovasi yang lahir dari dalam negeri.
Sebaliknya, Indonesia yang kaya sumber daya alam masih bergantung pada impor gandum, kedelai, dan berbagai teknologi strategis. Ketergantungan tersebut merupakan bentuk kerentanan strategis yang tidak boleh dibiarkan.
Membangun Ekosistem Ilmu Pengetahuan sebagai Benteng Kedaulatan
Karena itu, pembangunan sumber daya manusia tidak boleh lagi dilakukan setengah hati. Pendidikan, riset, dan inovasi harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari doktrin pertahanan nasional. Ketiganya bukan sekadar biaya pembangunan, melainkan investasi kedaulatan yang menentukan apakah Indonesia benar-benar merdeka atau hanya menjadi pasar bagi bangsa lain.
Indonesia membutuhkan grand design yang mampu menghubungkan perguruan tinggi, lembaga riset, dunia industri, dan pemerintah dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Alokasi anggaran pendidikan dan riset perlu ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai sedikitnya 20 persen dari APBN. Di saat yang sama, negara harus menjamin beasiswa penuh bagi sekitar 500.000 putra-putri terbaik bangsa setiap tahun.
Target tersebut bukan kemewahan, melainkan kebutuhan strategis bagi kelangsungan hidup bangsa. Tanpa komitmen yang jelas dan terukur, seluruh narasi pembangunan manusia hanya akan menjadi slogan yang menenangkan, tetapi tidak menghasilkan perubahan nyata.
Setiap anak bangsa yang memiliki kapasitas intelektual dan integritas harus memperoleh kesempatan untuk terus belajar. Apabila negara gagal memberikan kesempatan itu, sesungguhnya negara sedang mengkhianati masa depannya sendiri.
Sistem meritokrasi juga harus diperkuat melalui mekanisme pengawasan yang transparan dan pemberian sanksi tegas terhadap praktik nepotisme di dunia pendidikan. Sudah saatnya istilah “orang dalam” digantikan oleh penghargaan terhadap “orang hebat”.
Menuju Indonesia Emas: Bukan Proyek Fisik, melainkan Peradaban
Menatap Indonesia Emas 2045, sebuah momentum yang hanya datang sekali dalam satu abad, bangsa ini harus berani mengambil keputusan besar. Visi tersebut tidak akan tercapai apabila pembangunan hanya diukur dari kemajuan fisik semata.
Indonesia membutuhkan generasi yang berpikir kritis, menguasai teknologi disruptif, memiliki karakter yang kuat, serta bersedia mengabdi dengan tulus kepada bangsa.
Infrastruktur pada akhirnya akan menua. Jalan akan rusak, jembatan akan berkarat, dan gedung suatu saat akan roboh. Sebaliknya, manusia yang cerdas dan berintegritas akan mewariskan ilmu pengetahuan, inovasi, dan peradaban yang bertahan lintas generasi.
Merekalah prajurit tanpa seragam yang menjaga kedaulatan bangsa di bidang pangan, energi, siber, diplomasi, dan teknologi.
Karena itu, pertanyaan mendasar yang harus dijawab hari ini adalah: apakah kita rela mengorbankan masa depan anak-anak Indonesia hanya demi euforia pembangunan proyek fisik?
Penutup
Pada akhirnya, negara besar tidak diukur dari banyaknya proyek yang diresmikan, melainkan dari jumlah manusia unggul yang berhasil dibentuk oleh sistem pendidikannya. Beton dan baja hanyalah alat, sedangkan manusialah pelaku utama sejarah.
Jika Indonesia ingin benar-benar menjadi bangsa yang kuat, maka fondasi pertahanan paling kokoh tidak dibangun dari pasir dan semen, melainkan dari nalar, karakter, serta semangat pantang menyerah yang hidup dalam diri setiap anak bangsa.
Sudah saatnya mengakhiri orientasi pembangunan yang terlalu berpusat pada proyek fisik dan menggantinya dengan mobilisasi nasional untuk membangun generasi emas Indonesia. Sebab, benteng terakhir kedaulatan bangsa sesungguhnya berada di dalam otak dan hati generasi mudanya.(*)
Bandung, Juli 2026