Wayang Kayon Ki Lutfi Dikaji Jadi Media Dakwah

Bagikan :

*Disertasi Dosen UMPWR Zuly Qurniawati di Program Doktor UNY

Prof.Dr.Suwarno (kanan) menerima gunungan wayang Kayon mengawali kegiatan FGD. ( Foto : dokumen pribadi/DUKATOR)

BANTUL, EDUKATOR–Wayang Kayon Model Ki Lutfi Caritagama asal Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta dikaji sebagai media dakwah kultural Jawa. Pasalnya, pertunjukkan wayang tersebut  mampu mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan tradisi dan budaya masyarakat.

Kajian tersebut menjadi fokus penelitian disertasi Zuly Qurniawati, S.Pd., M.Hum., mahasiswa Program Doktor (S3) Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), melalui pendekatan etnopragmatik.

Penelitian itu diperdalam melalui Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan akademisi, pakar budaya, seniman pedalangan, pendakwah, dan generasi muda di Waroe Doyong Omah Bakmi & Pocinan, Sewon, Bantul, Kamis (27/8/2026). Forum berlangsung sekitar tiga setengah jam, mulai pukul 15.00 hingga 18.30 WIB, dengan peserta sekitar 20 orang.

Ki Lutfi Caritagama, dalang asal Tamantirto, Kasihan , Bantul yang juga guru Bahasa Jawa di SMAN 1 Pajangan, Bantul. ( foto: dokumen pribadi/EDUKATOR)

Mengkaji Bahasa dalam Konteks Budaya
Pendekatan etnopragmatik dalam penelitian tersebut digunakan untuk melihat penggunaan bahasa berdasarkan konteks budaya dan kehidupan sosial masyarakat.

Suasana FGD. ( foto: dokumen pribadi/EDUKATOR)

Pendekatan ini memadukan perhatian terhadap budaya dengan kajian pragmatik, sehingga makna sebuah pesan tidak hanya dilihat dari kata-kata yang diucapkan, tetapi juga dari situasi, simbol, nilai, kebiasaan, dan cara pandang masyarakat yang melatarinya.

Dalam konteks pewayangan, pendekatan tersebut memungkinkan peneliti mengkaji bagaimana bahasa, simbol, cerita, karakter tokoh, serta cara dalang berkomunikasi dengan penonton digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu.

Dengan demikian, Wayang Kayon tidak hanya dipandang sebagai bagian dari seni pertunjukan. Simbol-simbol yang muncul dalam pertunjukan juga dapat ditelaah berdasarkan makna budaya dan konteks penggunaannya dalam menyampaikan nilai-nilai keagamaan.

Zuly mengatakan, FGD menjadi bagian penting untuk memperkaya data penelitian. Informasi yang dikumpulkan tidak hanya bersumber dari literatur akademik, tetapi juga dari pengalaman dan pandangan para pelaku budaya serta masyarakat yang memahami dunia pewayangan.

“Kehadiran dan masukan bapak ibu angat berarti bagi penyempurnaan penelitian ini,” kata Zuly yang juga mahasiswa Univesitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) ini.

Zuly Qurniawati S.Pd, M.Hum . (Foto: dokumen pribadi/EDUKATOR).

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan etnopragmatik untuk mengkaji hubungan antara bahasa, budaya, konteks sosial, dan praktik komunikasi yang muncul ketika wayang digunakan sebagai sarana dakwah. 

Narasumber FGD Wayang Kayon. (Foto:dokumen pribadi/EDUKATOR).

Dipandu Prof Suwarno dan Prof Kasidi
Diskusi dipandu dua akademisi yang memiliki perhatian pada bahasa dan seni pedalangan, yakni Prof. Suwarno, M.Pd., Guru Besar Pendidikan Bahasa Jawa UNY, dan Prof. Dr. Kasidi, M.Hum., Guru Besar ISI Yogyakarta bidang seni pedalangan.

Ki Lutfi Peragakan Lakon Ja’far

Pembahasan yang semula berlangsung secara teoritis kemudian beralih ke praktik pertunjukan. Ki Lutfi Caritagama, yang menjadi objek utama penelitian, memperagakan wayang selama sekitar 20 menit.

Ia membawakan lakon “Ja’far bin Abi Thalib: Sang Duta Islam nan Bijaksana”. Cerita tersebut mengangkat sosok Ja’far bin Abi Thalib sebagai figur yang merepresentasikan diplomasi, kebijaksanaan, dan keteguhan dalam mempertahankan nilai-nilai keimanan.

Peragaan itu memberikan gambaran langsung kepada peserta mengenai penggunaan simbol, karakter, bahasa, dan alur cerita sebagai sarana menyampaikan pesan kepada penonton.

Dari pertunjukan tersebut, peserta kemudian mendiskusikan bagaimana unsur-unsur dalam pewayangan dapat digunakan untuk menyampaikan nilai keagamaan tanpa kehilangan karakter budaya Jawa.

Kayon Dimaknai Simbol Harapan
Salah satu pembahasan penting dalam FGD adalah keberadaan kayon yang selama ini dikenal sebagai salah satu unsur penting dalam pertunjukan wayang. Dalam penelitian tersebut, Kayon Model Ki Lutfi dipandang memiliki ruang pemaknaan yang lebih luas daripada sekadar elemen pembuka atau penutup pertunjukan.

Prof. Kasidi menjelaskan kayon dapat dimaknai sebagai simbol harapan baru. Bentuk dan keberadaannya merepresentasikan sesuatu yang terus tumbuh, bergerak, serta mengalami proses dalam ruang estetika dan kebudayaan.

Pemaknaan tersebut kemudian berkembang dalam diskusi mengenai simbolisme kayon, penggunaan bahasa, konstruksi cerita, serta fungsi sosial dan budaya pertunjukan.

Prof. Suwarno memberikan perspektif mengenai aspek kebahasaan dan konteks budaya yang menyertai penggunaan wayang sebagai sarana komunikasi. Sementara Prof. Kasidi menyoroti dimensi seni pedalangan dan pemaknaan berbagai simbol dalam pertunjukan.

Tradisi Jawa Bertemu Nilai Keislaman
Diskusi menunjukkan bahwa wayang masih memiliki ruang aktual untuk menjembatani tradisi dengan persoalan kehidupan masyarakat masa kini. Dalam konteks penelitian Zuly, dakwah kultural tidak hanya dipahami sebagai penyampaian pesan agama secara verbal.

Pesan keagamaan dapat disampaikan melalui cerita, simbol, karakter, bahasa, estetika, maupun cara dalang membangun komunikasi dengan penonton.

Melalui pendekatan etnopragmatik, berbagai unsur tersebut dapat dilihat secara utuh dengan mempertimbangkan konteks budaya Jawa. Sebuah dialog, misalnya, tidak hanya dianalisis berdasarkan arti kalimat, tetapi juga berdasarkan siapa yang mengucapkan, kepada siapa pesan ditujukan, situasi pertunjukan, tujuan komunikasi, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Dengan cara tersebut, penelitian dapat melihat bagaimana pesan keislaman diterjemahkan ke dalam bentuk komunikasi yang dekat dengan kehidupan dan kebudayaan masyarakat Jawa.

Penelitian disertasi tersebut berada di bawah bimbingan Promotor Prof. Dr. Endang Nurhayati, M.Hum. Melalui pendekatan etnopragmatik, penelitian diharapkan memberikan gambaran mendalam mengenai hubungan antara kebudayaan Jawa, bahasa, seni pedalangan, dan nilai-nilai keislaman.

Wayang Kayon Model Ki Lutfi diharapkan tidak berhenti dipahami sebagai karya seni pertunjukan. Lebih dari itu, kesenian tersebut dapat menjadi ruang dialog antara tradisi Jawa dan nilai keislaman, sekaligus menunjukkan kemampuan kebudayaan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar identitasnya.(Sulistyawan/Prs)

 

 

 

BERITA TERKINI

FULAD6
Surya Kancana: Ketika Pengabdian Menjadi Jalan Sejarah
ChatGPT Image Aug 29, 2026, 08_36_02 AM
Aneka Kegiatan Semarakkan Dies Natalis Ke-64 Faperta Unsoed
ChatGPT Image Aug 29, 2026, 07_50_33 AM
PGRI Dorong PPPK Penuh Waktu Jadi PNS Tanpa Melalui Tes
WhatsApp Image 2026-08-28 at 15.04
Tonton Sejarah Nabi, PID Jadi Bioskop Mini di TK-KB IT Permata Hati
WhatsApp Image 2026-08-27 at 16.57
Genza Education Gelar G-Olympiad bagi Murid SD/MI Kelas 4,5 dan 6