Panen Saat Musim Kemarau, Padi Gogo Inpago Protani Unsoed Tembus 7,54 Ton/Hektare

Bagikan :

*Dikembangkan Dosen Unsoed Prof Totok Agung DH, Memiliki Banyak Keunggulan

PURWOKERTO, EDUKATOR–Padi gogo Inpago Unsoed Protani atau Protani mencatat produktivitas tertinggi, mencapai 7.542,75 kilogram atau sekitar 7,54 ton per hektare. Hal ini terunglap  dalam panen sejumlah varietas padi di lahan swakelola PT Sang Hyang Seri (SHS), di areal persawahan Desa Sukamandi, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (26/8/2026).

Dari lahan seluas 10,48 hektare, total hasil panen padi Protani mencapai 79.048 kilogram atau sekitar 79 ton, sekaligus menunjukkan kemampuan padi gogo berproduksi ketika sebagian wilayah menghadapi puncak musim kemarau dan kekeringan.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D., mengatakan, hasil panen tersebut menunjukkan produktivitas Protani cukup tinggi dibandingkan varietas lain yang diuji di lokasi yang sama.

“Produktivitas Protani lebih tinggi dibanding varietas lainnya,” ujar Prof Totok Agung dalam perbicangan dengan EDUKATOR di Fakultas Pertanian Unsoed, Senin (31/8/2026).

Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D (belakang paling kanan) bersama tim peneliti .(Foto: Dok pribadi Prof Totok Agung DH/EDUKATOR).

Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D. lahir di Magelang pada September 1963. Alumnus Kyushu University, Fukuoka, Jepang pada bidang ilmu Pemuliaan Tanaman (Plant Breeding) ini, merupakan dosen senior Fakultas Pertanian Unsoed, sekaligus guru besar dan peneliti yang aktif dalam pemuliaan tanaman padi, khususnya padi gogo untuk lahan kering.

Padi Gogo Inpago Protani Unsoed.(Foto: Dok pribadi Prof Totok Agung DH/EDUKATOR).

Banyak Keunggulan, Tangguh Menghadapi Puncak Musim Kemarau
Menurut Totok Agung, capaian Protani menjadi menarik karena panen berlangsung saat puncak musim kemarau 2026. Kondisi tersebut ditandai kekeringan di berbagai daerah yang berpotensi mengganggu produktivitas tanaman pangan.

Protani memiliki karakter sebagai padi gogo yang toleran terhadap kekeringan. Tanaman tersebut masih mampu tumbuh dan menghasilkan panen dengan memanfaatkan sisa irigasi yang tersedia di lokasi.

“Protani tetap berproduksi meski air sangat terbatas,” katanya.

Selain toleran terhadap kekeringan, Protani memiliki keunggulan dari sisi kandungan gizi. Varietas padi gogo tersebut memiliki kandungan protein hingga 9,5 persen.

Totok menyebut Protani sebagai padi gogo protein tinggi pertama di Indonesia, bahkan berpotensi menjadi yang pertama di dunia.

Panen padi Protani di lahan persawahan Desa Sukamandi, Kecamatan Subang, Jabar. (Foto: Dok pribadi Prof Totok Agung DH/EDUKATOR).

Alternatif Menghadapi Ancaman El Nino
Keunggulan tersebut membuat padi gogo seperti Protani dinilai dapat menjadi salah satu alternatif dalam menghadapi periode El Nino dan ancaman kekeringan.

Salah satu strateginya adalah menanam padi gogo di lahan sawah yang mengalami keterbatasan air. Namun, langkah tersebut perlu didukung strategi lain agar ketersediaan air tetap terjaga.

Totok menyebut pompanisasi dan pembuatan sumur pantek sebagai bagian dari strategi penyediaan air untuk pertanian.

“Pompanisasi dan sumur pantek perlu terus diperkuat,” ujarnya.

Selain itu, penggunaan bahan yang mampu membantu menyimpan air juga dapat diterapkan. Salah satunya adalah biochar atau bahan sejenis yang dapat membantu mempertahankan kelembapan tanah.

Pengelolaan air dan tanah tersebut menjadi penting, terutama pada periode ketika curah hujan tidak menentu dan tanaman berisiko mengalami kekeringan setelah hanya memperoleh hujan satu kali.

Data Curah Hujan Jadi Kunci Petani
Totok juga menekankan pentingnya ketersediaan data curah hujan yang valid untuk setiap wilayah. Informasi tersebut perlu disampaikan kepada petani sebagai dasar menentukan waktu tanam.

Dengan informasi cuaca dan curah hujan yang akurat, petani dapat memperkirakan kondisi lahan dan menghindari risiko tanaman mengalami kekeringan setelah hujan berhenti dalam waktu lama.

“Data curah hujan akurat membantu menentukan waktu tanam,” tutur Totok.

Menurut dia, petani jangan sampai terjebak kondisi hujan kiriman. Hujan yang turun hanya sekali kemudian berhenti lama dapat menyebabkan tanaman kekurangan air dan akhirnya mengalami kekeringan.

Protein Tinggi Berpotensi Dukung MBG
Selain produktivitas dan toleransi terhadap kekeringan, Protani memiliki keunggulan pada kandungan protein. Kandungan protein sekitar 9,5 persen dinilai dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas konsumsi pangan.

Totok menilai padi Protani juga berpotensi membantu pencegahan stunting melalui pemenuhan kebutuhan protein masyarakat.

“Protani berpotensi mendukung pencegahan stunting,” katanya.

Ia bahkan menilai Protani sangat sesuai apabila digunakan untuk memasok kebutuhan nasi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dengan kandungan protein yang lebih tinggi, beras Protani dinilai dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat aspek gizi dalam penyediaan pangan bagi masyarakat, khususnya penerima manfaat program tersebut.

Protani Ungguli Lima Varietas Lain
Data produktivitas varietas yang dipanen di lahan swakelola PT Sang Hyang Seri (SHS) hingga 26 Agustus 2026 mencatat enam varietas atau galur.

Inpago Unsoed Protani menjadi yang tertinggi dengan produktivitas 7.542,75 kilogram per hektare. Varietas tersebut ditanam di lahan 10,48 hektare dan menghasilkan 79.048 kilogram. Panen dilakukan pada 26 Agustus 2026.

Posisi kedua ditempati Inpari 32 yang dipanen pada 21 Agustus 2026. Dari lahan 10,78 hektare, varietas tersebut menghasilkan 79.960 kilogram dengan produktivitas 7.417,44 kilogram per hektare atau sekitar 7,42 ton per hektare.

Selanjutnya, Inpari 49 Jembar dipanen pada 7 Agustus 2026 dari lahan seluas 15,72 hektare. Hasil panennya mencapai 92.145 kilogram dengan produktivitas 5.861,64 kilogram per hektare.

Inpari 32 juga tercatat dipanen pada 12 Agustus 2026 dari lahan 15 hektare. Hasil panennya mencapai 86.391 kilogram dengan produktivitas 5.759,40 kilogram per hektare.

Sementara itu, Inpago 13 Fortis dipanen pada 10 Agustus 2026 dari lahan 16,10 hektare. Hasil panennya mencapai 86.338 kilogram dengan produktivitas 5.362,61 kilogram per hektare.

Adapun Gamagora 7 menjadi varietas dengan produktivitas terendah dalam data tersebut. Varietas ini dipanen pada 31 Juli 2026 dari lahan 15,33 hektare dengan hasil 81.715 kilogram dan produktivitas 5.330,40 kilogram per hektare.

Dorong Inovasi Padi Gogo Indonesia
Protani merupakan salah satu hasil pengembangan pemuliaan tanaman padi yang dilakukan Prof. Totok bersama tim peneliti. Varietas tersebut merupakan varietas unggul baru padi gogo bernutrisi tinggi yang telah dilepas oleh Kementerian Pertanian.

Pengembangan padi gogo menjadi penting karena tanaman tersebut memiliki kemampuan beradaptasi pada kondisi lahan dengan ketersediaan air terbatas.

Hasil panen di Sukamandi memperlihatkan bahwa Protani tidak hanya memiliki potensi dari sisi ketahanan terhadap kekeringan, tetapi juga produktivitas dan kandungan protein.

Dengan produktivitas mencapai 7,54 ton per hektare, Protani menunjukkan prospek sebagai salah satu inovasi pertanian yang dapat mendukung ketahanan pangan, terutama menghadapi tantangan perubahan iklim, kekeringan, sekaligus kebutuhan pangan bergizi. (Prasetiyo)

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-01 at 05.42
FPIK Unsoed Dorong KWT Tunas Mulia  Kembangkan Budidaya Lele
WhatsApp Image 2026-09-01 at 01.26
Panen Saat Musim Kemarau, Padi Gogo Inpago Protani Unsoed Tembus 7,54 Ton/Hektare
FAUZI PAKAIAN JAWA
Ketika Lampu Merah Menguji Keteladanan Guru
DSC_1122 (1)
Citra Nada Juara Pertama, Festival Kentongan Purbalingga Tampil Beda
perbasi
Tiga Tim SIT Permata Hati Menang Telak di Liga Perbasi