FPIK Unsoed Dorong KWT Tunas Mulia  Kembangkan Budidaya Lele

Bagikan :

*Melalui Teknologi Bioflok dan Microbubble Oksigen

BANYUMAS, EDUKATOR–Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunas Mulia, Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, Banyumas, mengembangkan usaha perikanan melalui budidaya ikan lele berbasis teknologi bioflok dan microbubble oksigen.

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tersebut dilaksanakan Senin, (31/8/2026), di Sekretariat KWT Tunas Mulia, Desa Tambaksogra RT 06/RW 04, Kecamatan Sumbang, Banyumas. Kegiatan mengusung tema “Diversifikasi Usaha KWT Tunas Mulia Tambaksogra melalui Budidaya Ikan Lele Teknologi Bioflok dan Microbubble Oksigen sebagai Upaya Ketahanan Pangan Berkelanjutan.”

Kegiatan PkM dipimpin Ketua Tim Pelaksana, Ahmad Naufal Attaqi, S.Pd., M.Sc. Ia didampingi empat anggota tim, yakni Fajar Adiyanto, S.Pi., M.Pi., Dr. Lilik Kartika Sari, S.Pi., M.Si., I Gede Suweda Anggana Putera, S.Pi., M.Si., dan Ainun Fatimatuz Zahro.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya FPIK Unsoed meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya anggota KWT, dalam mengembangkan usaha produktif di bidang perikanan sekaligus memanfaatkan teknologi yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan sumber daya yang tersedia.

Bioflok Olah Limbah, Microbubble Pasok Oksigen
Teknologi bioflok merupakan metode budidaya yang memanfaatkan mikroorganisme untuk membantu mengolah limbah organik di dalam air, seperti sisa pakan dan kotoran ikan.

Mikroorganisme tersebut membentuk gumpalan atau flok yang dapat menjadi bagian dari sumber nutrisi dalam sistem budidaya. Dengan pengelolaan yang tepat, sistem bioflok membantu menjaga kualitas air sehingga kebutuhan pergantian air dapat ditekan.

Teknologi ini juga memungkinkan kegiatan budidaya dilakukan pada lahan yang relatif terbatas sehingga berpotensi diterapkan sebagai usaha produktif berbasis rumah tangga atau kelompok.

Sedangkan  teknologi microbubble oksigen digunakan untuk membantu memasok oksigen ke dalam air melalui gelembung berukuran sangat kecil. Oksigen terlarut dibutuhkan ikan lele untuk mendukung kehidupannya sekaligus menunjang aktivitas mikroorganisme dalam sistem bioflok.

Kedua teknologi tersebut saling mendukung. Bioflok membantu mengolah limbah budidaya, sedangkan microbubble membantu menyediakan oksigen yang dibutuhkan ikan dan mikroorganisme.

Sementara itu tim memberikan pendampingan kepada anggota KWT Tunas Mulia melalui penyampaian materi dan praktik langsung di demplot.

Dr. Lilik Kartika Sari, S.Pi., M.Si., menjadi narasumber dalam penyampaian materi budidaya.

Langkah Budidaya Lele Berbasis Bioflok
Dalam praktiknya, anggota KWT diperkenalkan pada tahapan budidaya lele yang memadukan sistem bioflok dengan microbubble oksigen. Tahapan dimulai dengan menyiapkan wadah atau kolam budidaya, kemudian memastikan kolam bersih dan dapat menampung air dengan baik.

Air selanjutnya disiapkan sebagai media budidaya. Sistem aerasi microbubble dipasang untuk membantu meningkatkan dan menjaga kadar oksigen terlarut di dalam air.

Tahap berikutnya adalah pembentukan flok dengan menambahkan sumber karbon dan mengondisikan mikroorganisme agar berkembang di dalam media air. Proses ini perlu dipantau agar pembentukan flok berlangsung secara terkendali dan kualitas air tetap sesuai untuk pemeliharaan lele.

Setelah kondisi air dan sistem bioflok siap, benih lele yang sehat dan berukuran relatif seragam ditebar ke dalam kolam. Kepadatan tebar perlu disesuaikan dengan kapasitas kolam dan kemampuan sistem dalam mempertahankan kualitas air.

Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan secara teratur dan sesuai kebutuhan. Pemberian pakan perlu dikendalikan agar tidak berlebihan karena sisa pakan dapat meningkatkan beban organik di dalam air.

Microbubble oksigen dioperasikan untuk membantu mempertahankan oksigen terlarut, terutama ketika kepadatan ikan meningkat. Kondisi air, perilaku ikan, pertumbuhan flok, serta fungsi peralatan aerasi juga perlu dipantau secara berkala.

Pengelolaan air dilakukan secara terukur. Pada sistem bioflok yang berjalan baik, pergantian air dapat ditekan, tetapi kondisi air tetap harus dipantau dan tindakan korektif dilakukan apabila kualitas air mulai menurun.

Tahap terakhir adalah pemeliharaan hingga ikan mencapai ukuran panen. Ikan kemudian dipanen secara bertahap atau sekaligus sesuai kebutuhan pasar dan kesiapan hasil budidaya.

Melalui tahapan tersebut, anggota KWT tidak hanya diperkenalkan pada konsep bioflok dan microbubble, tetapi juga memahami pentingnya keteraturan dalam menyiapkan media, menebar benih, mengelola pakan, menjaga oksigen, memantau kualitas air, dan menentukan waktu panen.

Lilik Kartika mengatakan, budidaya lele diharapkan membuka peluang usaha baru bagi KWT Tunas Mulia–berdiri 23 Februari 2024– yang kini beranggotakan 17 wanita.

Penyerahan Alat
Dalam kesempatan tersebut, Tim Pkm FPIK Unsoed menyerahkan alat dan media budidaya kepada KWT Tunas Mulia.

Selain itu, anggota KWT juga diperkenalkan pada analisis kelayakan usaha pertanian dan perikanan. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu anggota melihat potensi budidaya lele sebagai kegiatan produktif yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan tersebut, KWT Tunas Mulia diharapkan mampu memanfaatkan potensi lingkungan sekitar secara lebih optimal.

“Pengembangan budidaya lele juga diharapkan membuka peluang usaha baru sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan pangan,” harap Lilik Kartika.

Dalam jangka panjang, program tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian ekonomi anggota KWT Tunas Mulia.

Melalui penerapan teknologi bioflok dan microbubble oksigen, FPIK Unsoed mendorong KWT Tunas Mulia mengembangkan usaha perikanan yang memadukan inovasi teknologi, pemanfaatan potensi lokal, diversifikasi usaha, dan ketahanan pangan berkelanjutan. (Prasetiyo)

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-01 at 05.42
FPIK Unsoed Dorong KWT Tunas Mulia  Kembangkan Budidaya Lele
WhatsApp Image 2026-09-01 at 01.26
Panen Saat Musim Kemarau, Padi Gogo Inpago Protani Unsoed Tembus 7,54 Ton/Hektare
FAUZI PAKAIAN JAWA
Ketika Lampu Merah Menguji Keteladanan Guru
DSC_1122 (1)
Citra Nada Juara Pertama, Festival Kentongan Purbalingga Tampil Beda
perbasi
Tiga Tim SIT Permata Hati Menang Telak di Liga Perbasi