*Mengenal Kadindikbud Purbalingga yang Baru

Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif ketika menyalami Heru Sri Wibowo, S.Sos, M.Si, usai dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga. (Foto: Humpro Pemkab Purbalingga/EDUKATOR).
PURBALINGGA, EDUKATOR–Mengawali tahun baru 2026, Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif melantik enam pejabat pimpinan tinggi pratama (Eselon II) di lingkungan Pemkab Purbalingga, termasuk Heru Sri Wibowo, S.Sos, M.Si sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud). Acara pelantikan berlangsung di Pendopo Dipokusumo, Jumat (2/1/2026) sore.
Berikut sosok Heru Sri Wibowo, lokomotif baru Dindikbud Purbalingga, yang diwawancarai EDUKATOR di ruang kerjanya, Rabu (21/1/2026).
Heru Sri Wibowo beserta istri dan ketiga putranya..(Dokumen pribadi/EDUKATOR).
Berangkat dari keluarga pendidik, Heru Sri Wibowo, S.Sos., M.Si.,tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan harus melahirkan generasi yang mampu bersaing.
Pengalaman sebagai profesional di perusahaan swasta, perjalanan panjang di birokrasi, serta keterlibatannya dalam perencanaan pembangunan membuatnya memahami bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan administrasi saja. Dalam hal ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) harus menjadi lokomotif yang menggerakkan seluruh unsur pendidikan untuk bekerja bersama.
Pria kelahiran Banjarnegara, 24 Februari 1976, ini merupakan putra seorang guru SMP yang dikenal berdedikasi. Bahkan ayahnya pernah menjabat Ketua MKKS SMP Kabupaten Banjarnegara.
Nilai kedisiplinan, kerja keras, dan semangat berprestasi telah ditanamkan ayahnya sejak kecil. Nilai-nilai itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya dalam bekerja, mengambil keputusan, dan memandang masa depan pendidikan di Kabupaten Purbalingga.
Heru Sri Wibowo bersama kedua orang tuanya, istri dan anak-anak..(Dokumen pribadi/EDUKATOR).
Jejak Ayah Guru Membentuk Karakter
Heru menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 1 Mandiraja Wetan pada 1987, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Purwareja Klampok dan lulus pada 1990. Pendidikan menengah atas ditempuh di SMA Negeri 1 Purwokerto hingga lulus pada 1993.
Ia kemudian mengambil Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Heru meraih gelar sarjana pada 1997. Ia melanjutkan pendidikan magister dan menyelesaikan Magister Administrasi Publik di kampus yang sama pada 2003.
Semangat berprestasi telah tumbuh sejak bangku sekolah. Heru kerap mengikuti berbagai perlombaan, mulai dari lomba mata pelajaran, siswa teladan, dokter kecil, hingga cerdas cermat. Ia pernah meraih prestasi di tingkat kabupaten dan provinsi Jateng. Di balik pencapaian itu, ada peran besar sang ayah yang senantiasa mendidiknya agar berusaha lebih keras daripada orang lain.
“Kalau guru seperti bapak saya, pendidikan pasti maju.” ujar Heru Sri Wibowo .
Bagi Heru, ayahnya bukan sekadar orang tua, melainkan guru kehidupan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana seorang pendidik membimbing anak-anak, menanamkan disiplin, dan mendorong mereka untuk terus berkembang.
Pengalaman itu membentuk keyakinannya bahwa keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas guru, keteladanan, serta kemampuan sekolah membangun budaya berprestasi. Murid tidak cukup hanya mengikuti pembelajaran, tetapi juga harus didorong untuk berpikir, berkompetisi, dan mengembangkan potensinya.

Merayakan ulang tahun salah satu putranya.(Dokumen pribadi/EDUKATOR).
Pernah Menikmati Karier di Perusahaan Swasta
Sebelum menjadi aparatur sipil negara (ASN), Heru meniti karier di dunia kerja swasta. Setelah menyelesaikan pendidikan di Undip, ia sempat menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi Semarang, kemudian bekerja di lingkungan pengelolaan Gelora Jatidiri melalui Yadora (Yayasan Dana Olah Raga)..
Di tempat itu, ia pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Umum dan kemudian Direktur. Tanggung jawabnya berkaitan dengan pengelolaan berbagai fasilitas olahraga, mulai dari stadion dan kolam renang hingga lapangan tembak serta arena sepatu roda. Pengalaman tersebut memberinya pelajaran mengenai pengelolaan organisasi, koordinasi, dan tanggung jawab terhadap target kerja.
Heru kemudian bekerja di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang ekspor hasil perikanan. Perusahaan tersebut memiliki jaringan pabrik di sejumlah daerah, antara lain Lampung, Indramayu, Cirebon, Tanjungpinang dan di berbagai daerah Indonesia .
Ia menangani urusan sumber daya manusia dan umum, sehingga harus sering melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Indonesia.
Karier itu memberinya penghasilan yang relatif mapan dibanding penghasilan seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil).
Heru Sri Wibowo bersama istri dan ketiga putranya. (Dokumentasi kpribadi/EDUATOR).
Menurut Nasihat Orangtua
Menjadi PNS bahkan belum pernah menjadi cita-cita utamanya, karena ia memahami beratnya tanggung jawab pekerjaan pemerintahan.
Namun, nasihat orang tua mengubah arah perjalanan hidupnya.
Sebagai anak sulung dari lima bersaudara, Heru merasakan tanggung jawab moral untuk mendampingi orang tuanya. Sang ayah, yang semakin lanjut usia, berharap anaknya lebih dekat dengan keluarga dan dapat meneruskan pengabdian di daerah asal.
“Her, Bapak sudah mulai tua, butuh pendampingan anak-anak di sini,” ujar ayahnya saat itu yang tinggal di Mandiraja, Banjarnegara
Nasihat itu terus teringat hingga akhirnya Heru memutuskan mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Ia betul-betul mempersiapkan diri jauh-jauh hari, dengan membeli buku-buku yang mendukung seleksi penerimaan CPNS.Buku-buku itu ia beli dari menysihkan gajinya dari perusahaan swasta. Hampir setiap bulan ia mengeluarkan Rp 700 rb untuk membeli buku.
Ia juga berlangganan surat kabar, antara lain Kompas dan Republika, untuk memperkaya wawasan pengetahuan umum. Dan buku-buku pembahasan soal CPNS menjadi teman belajarnya di tengah kesibukan bekerja. Ia berlatih secara rutin meskipun saat itu masih bekerja di luar daerah.
Diterima CPNS di Usia 34 Tahun
Ketika membuka kesempatan seleksi CPNS untuk formasi berpendidikan magister, Heru memilih Kabupaten Purbalingga. Keputusan itu membawanya diterima sebagai CPNS pada 2010, ketika usianya hampir 34 tahun.
Perubahan tersebut bukan perkara mudah. Penghasilan awal sebagai PNS sekitar Rp 1,38 juta per bulan, jauh di bawah penghasilannya ketika bekerja di sektor swasta. Namun, ia tetap menjalani keputusan itu sebagai bentuk penghormatan terhadap orang tua.
Baginya, pengabdian tidak selalu diukur dari besarnya penghasilan, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Dari Perencanaan Pembangunan hingga Kesejahteraan Sosial
Heru memulai pengabdian sebagai PNS di Bappeda Kabupaten Purbalingga pada Januari 2010. Selama bertahun-tahun, ia terlibat dalam perencanaan dan sinkronisasi pembangunan di bidang kesejahteraan rakyat, termasuk pendidikan, kebudayaan, kesehatan, dan sosial.
Ia kemudian dipercaya menduduki sejumlah jabatan, antara lain Kepala Subbidang Kesejahteraan Rakyat dan Kepala Subbidang Pengembangan Sumber Daya Manusia di Bappelitbangda.
Pada Juli 2019, ia bertugas sebagai Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial di Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P2KBP3A) .
Selanjutnya, sejak Desember 2021, Heru menjabat Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Purbalingga. Ia juga pernah menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Kepala Bagian Umum Setda pada 2025.
Berbagai pengalaman itu memperluas pemahamannya mengenai persoalan pembangunan. Ia terbiasa bekerja dengan data, menyelaraskan program lintas organisasi perangkat daerah, dan mencari jalan keluar atas persoalan yang membutuhkan penanganan bersama.
Dalam perjalanan kariernya, Heru juga meraih sejumlah penghargaan. Ia dinobatkan sebagai ASN of The Year Kabupaten Purbalingga pada 2022, meraih juara II tenis meja antarlembaga perangkat daerah pada 2023, serta masuk empat besar Diklat Pelatihan Kepemimpinan Administrator Provinsi Jawa Tengah pada 2024.
Penghargaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya, tetapi baginya pekerjaan belum selesai hanya karena sebuah prestasi telah diraih.
Data Menjadi Dasar Membenahi Pendidikan
Pengalaman panjang di bidang perencanaan membuat Heru memberi perhatian khusus terhadap penggunaan data dalam kebijakan pendidikan. Menurutnya, persoalan pendidikan tidak boleh ditangani hanya berdasarkan perkiraan atau usulan yang datang dari berbagai pihak.
Salah satu pekerjaan yang pernah ia inisiasi ketika menangani perencanaan pembangunan adalah pendataan kondisi sarana dan prasarana sekolah. Pendataan tersebut mencakup sekolah dasar dan menengah, termasuk madrasah ibtidaiyah serta madrasah tsanawiyah.
Kerusakan ruang kelas, kondisi bangunan, hingga kebutuhan rehabilitasi dipetakan secara terperinci. Data dilengkapi dokumentasi dan penandaan lokasi agar kondisi sekolah dapat diketahui dengan lebih jelas.
Dari pendataan tersebut, pemerintah dapat melihat sekolah mana yang membutuhkan penanganan mendesak. Kondisi sejumlah sekolah dan madrasah swasta juga menjadi perhatian karena kebutuhan rehabilitasinya tidak selalu sebanding dengan kemampuan pembiayaan yang tersedia.
Heru memandang bahwa anggaran pendidikan perlu diarahkan berdasarkan tingkat kebutuhan dan tingkat kerusakan. Dengan demikian, sekolah yang kondisinya paling memprihatinkan tidak kehilangan kesempatan memperoleh bantuan hanya karena keterbatasan informasi atau kuatnya usulan dari pihak tertentu.
Selain sarana dan prasarana, ia menaruh perhatian pada anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Dalam catatan pendataan yang pernah menjadi bahan perencanaan, terdapat 8.913 anak usia sekolah yang tidak bersekolah di Purbalingga.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan bukan semata-mata mengenai prestasi akademik atau pembangunan gedung sekolah. “Ada persoalan ekonomi keluarga, akses pendidikan, dan kondisi sosial yang perlu ditangani secara langsung,” jelas Heru Sri Wibowo.
Heru mendorong agar anak-anak tersebut ditelusuri penyebabnya satu per satu. Anak yang terkendala biaya perlu memperoleh bantuan, sedangkan anak yang tidak memiliki seragam harus dibantu agar dapat kembali belajar. Penanganan juga perlu melibatkan berbagai pihak, termasuk unsur kewilayahan dan masyarakat.
Baginya, setiap anak berhak memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Karena itu, data harus menjadi pintu masuk bagi tindakan nyata, bukan berhenti sebagai dokumen perencanaan.
Dindikbud Harus Menjadi Lokomotif
Pengalaman tersebut menjadi bekal Heru dalam memandang tantangan peningkatan kualitas pendidikan. Ia menyadari bahwa persoalan pendidikan tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi perangkat daerah saja.
Kekurangan guru, kebutuhan rehabilitasi sekolah, pemerataan layanan, serta peningkatan kemampuan literasi dan numerasi memerlukan koordinasi yang kuat. Kepala sekolah, guru, pengawas, organisasi profesi, dan pemangku kepentingan lainnya harus bergerak dalam arah yang sama.
“Saya ingin Dindikbud menjadi lokomotif peningkatan kualitas pendidikan,” harapnya.
Bagi Heru, Dindikbud tidak boleh berhenti pada fungsi administratif. Organisasi ini harus mampu menggerakkan satuan pendidikan, mengoordinasikan program, mengidentifikasi persoalan, serta memastikan kebijakan benar-benar berdampak pada proses belajar murid.
Ia memandang kepala sekolah dan guru sebagai unsur penting yang menentukan kualitas pembelajaran. Karena itu, penguatan kepemimpinan sekolah, komunitas belajar guru, serta kerja sama dengan organisasi pendidikan harus menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu.
Heru juga menaruh perhatian pada indikator capaian pendidikan, seperti angka partisipasi sekolah, rata-rata lama sekolah, dan hasil asesmen nasional dalam bidang literasi serta numerasi. Indikator tersebut perlu dibaca secara cermat untuk mengetahui persoalan yang masih harus diselesaikan.
Menurutnya, target peningkatan mutu tidak akan tercapai jika setiap unsur bekerja sendiri-sendiri. Diperlukan orkestrasi yang membuat program, sumber daya, dan tenaga pendidikan bergerak selaras.
Terus Belajar dan Menggerakkan Perubahan
Di luar pekerjaan pemerintahan, Heru memiliki kegemaran bermain tenis meja dan catur. Kedua olahraga itu tidak hanya menjadi sarana menjaga kebugaran, tetapi juga melatih konsentrasi, ketelitian, dan kemampuan menyusun strategi.
Ia juga aktif dalam sejumlah organisasi. Heru tercatat sebagai Ketua Bidang Organisasi dan Hukum Persatuan Catur Indonesia Kabupaten Purbalingga periode 2025–2029. Di bidang keagamaan, ia menjadi Ketua VI Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Purbalingga sejak 2023, sekaligus terlibat dalam Dewan Masjid Indonesia dan Badan Wakaf Indonesia tingkat kabupaten.
Pengalaman organisasi tersebut mempertemukannya dengan beragam karakter dan kepentingan masyarakat. Kemampuan membangun komunikasi dan kemitraan menjadi bekal penting untuk menjalankan tugas pemerintahan.
Banyak PR Bidang Pendidikan
Heru memahami bahwa membenahi pendidikan masih menyisakan banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan. Keterbatasan tenaga pendidik, kebutuhan sarana, pemerataan akses, dan peningkatan kualitas pembelajaran membutuhkan kerja yang konsisten.
Ia tidak ingin pendidikan hanya dinilai dari banyaknya kegiatan atau keberhasilan administratif. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan yang dirasakan murid: memperoleh akses pendidikan, belajar dengan baik, mengembangkan kemampuan, dan memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik.
Perjalanan Heru dari keluarga guru, dunia usaha, hingga birokrasi mengajarkannya bahwa hasil yang baik membutuhkan usaha lebih. Prinsip yang ditanamkan sang ayah itu kini menjadi bekal untuk mendorong pendidikan Purbalingga bergerak maju.
Baginya, tugas besar Dindikbud adalah menyatukan langkah seluruh pemangku kepentingan agar peningkatan mutu pendidikan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi gerakan bersama yang terarah, terukur, dan berkelanjutan.Ibarat paduan suara, jika dirigennya mengatur arkestrasi dengan baik,maka enak didengar dan dlihat.
“Saya ingin, Dindikbud Purbalingga seperti orkestrasi yang tampil menark ,baik dan enak didengar serta dilihat,” harapnya.
Selamat menjadi Kepala Dinas Pendiidkan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga Pak Heru. Selamat bekerja. Semoga pendidkan dan kebudayaan di Purbalingga lebih maju lagi !. (Prasetiyo)
BIODATA HERU SRI WIBOWO S.Sos, M.Si

1. Lulusan Terbaik dan Cumlaude FISIP UNDIP 1998
2. Peringkat 1 Diklat Kepemimpinan IV Tahun 2015
3. Peringkat 1 Diklat Prajabatan Tahun 2011
4. Juara 3 Catur antar OPD 2022
5. Pembina Dewan Masjid Kab. Purbalingga 2023 – sekarang
6. Anggota Dewan Pertimbangan Badan Wakaf Indonesia Kab. Purbalingga 2023 – sekarang
7. Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Dewan Pengurus Korpri Kab. Purbalingga 2022 – 2027
8. Sekretaris Perhimpunan Manager SDM Jawa Tengah 2005 – 2009
9. Sekretaris Pengda PSI (Persatuan Squash Indonesia) Jateng 1999 – 2004
– Anak 1 : Iqtafi Rizki Qurrataputra : Fakultas Hukum UGM
– Anak 2 : Rayhan Hanasta Avicena : Ekonomi Pembangunan UGM
– Anak 3 : Muhammad Rico Narendra – MAN 1 Purbalingga