
Foto bersama usai pelaksanaan In House Training (IHT).
PURBALINGGA, EDUKATOR–Guru SMP Negeri 1 Rembang didorong mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya menekankan penguasaan teori, tetapi juga kemampuan murid memecahkan masalah nyata melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Penguatan tersebut menjadi fokus kegiatan In House Training (IHT) Peningkatan Kompetensi Pendidikan dan Kepegawaian Tahun Ajaran 2026/2027, Sabtu (17/10/2026).
Narasumber IHT Bangun Pracoyo, S.Pd, M.Pd.
Kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Belajar Spensar Jaya itu diikuti guru dan tenaga kependidikan di ruang rapat SMP Negeri 1 Rembang. Kepala sekolah Fitriani Tri Rahayu, S.Pd., memberikan sambutan sebelum Bangun Pracoyo, S.Pd., M.Pd., menyampaikan materi tentang kokurikuler berbasis STEM.
Bangun Pracoyo M.Pd di hadapan peserta IHT SMPN 1 Rembang.
Kokurikuler Dorong Murid Memecahkan Masalah
Bangun menjelaskan, pendidikan perlu membekali murid dengan kemampuan memahami dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, literasi, numerasi, berpikir kritis, dan keterampilan memecahkan masalah perlu terus diperkuat.
“Murid perlu belajar memecahkan masalah nyata di sekitarnya,” menjadi pesan utama dalam pemaparan materi tersebut.
Pendekatan STEM mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika untuk menghasilkan solusi. Murid tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga berlatih mengamati persoalan, mengolah data, merancang solusi, menguji hasil, dan memperbaikinya.
Salah satu contohnya adalah pengelolaan sampah di lingkungan sekolah. Murid dapat mengidentifikasi jenis dan jumlah sampah, mengolah data pengamatan, merancang alat atau sistem pengelolaan sederhana, kemudian menguji efektivitasnya.
Melalui proyek tersebut, murid berlatih bekerja sama, berpikir kreatif, mengambil keputusan berdasarkan data, serta menyampaikan gagasan secara logis dan bertanggung jawab.
Pembelajaran Mendalam Perlu Perencanaan Matang
IHT juga membahas peran kokurikuler dalam mendukung Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), yang menekankan pengalaman belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Kokurikuler bukan sekadar kegiatan tambahan. Jika dirancang secara tepat, kegiatan ini dapat memperdalam pengetahuan, membangun karakter, dan mengembangkan keterampilan murid melalui pengalaman langsung.
Guru dapat merancang kegiatan lintas mata pelajaran, mengintegrasikan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta menyesuaikan kegiatan dengan potensi dan karakteristik sekolah.
Perencanaan perlu mencakup kebutuhan murid, tujuan kegiatan, pembagian tugas guru, alokasi waktu, asesmen, dan evaluasi. Keterlibatan keluarga serta masyarakat juga dapat memperkaya pengalaman belajar.
Keberhasilan kokurikuler, menurut materi yang disampaikan, tidak cukup diukur dari terlaksananya kegiatan atau terciptanya produk. Proses belajar, perkembangan karakter, dan kemampuan murid menerapkan pengetahuan juga menjadi ukuran penting.

Guru Antusias, Kolaborasi Diperkuat
Kegiatan berlangsung interaktif melalui pemaparan materi dan diskusi. Para peserta berkesempatan memperluas wawasan serta bertukar gagasan mengenai penerapan kokurikuler berbasis STEM di sekolah.
Melalui IHT tersebut, guru dan tenaga kependidikan diharapkan semakin siap membangun budaya kerja kolaboratif dan menghadirkan pembelajaran yang inovatif serta sesuai kebutuhan murid. Guru juga didorong berperan sebagai fasilitator yang mendampingi murid menemukan dan menerapkan pengetahuan.
Rangkaian IHT Komunitas Belajar Spensar Jaya berlanjut pada Senin (19/10/2026), dengan agenda pengelolaan kepegawaian.
Melalui penguatan kompetensi ini, SMP Negeri 1 Rembang berupaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan sekaligus menyiapkan murid agar mampu berpikir kritis, berkarya, bekerja sama, dan menghadirkan solusi bagi kehidupan. (Iko/Prs)