
Mayjen TNI (Purn) Fulad, S.Sos. M.Si
Mahasiswa S3 Ilmu Pertanian Unsoed
Pemerhati Pertanian, Aktivis Pertanian, dan Anggota Kelompok Tani
di Geopark Ciletuh, Sukabumi, Provinsi Jawa-Barat *)
Pendahuluan
SELAMA bertahun-tahun kita diajarkan bahwa kekuatan negara ditentukan oleh jumlah tentara, kecanggihan persenjataan, dan kemampuan mempertahankan setiap jengkal wilayah kedaulatannya. Pandangan itu tidak keliru. Namun, dunia yang berubah cepat memberi pelajaran baru: sebuah negara dapat memiliki militer yang kuat, tetapi tetap rapuh apabila tidak mampu menjamin pangan bagi rakyatnya.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak negara tidak jatuh karena serangan dari luar. Mereka melemah dari dalam ketika kebutuhan dasar masyarakat tidak lagi terpenuhi. Ketika harga pangan melonjak, distribusi terganggu, dan rakyat kehilangan kepastian terhadap kebutuhan hidupnya, stabilitas nasional pun ikut terancam.
Karena itu, di tengah berbagai isu geopolitik yang menyita perhatian dunia, saya memandang Pesta Petani yang digelar Presiden di Gorontalo bukan sekadar seremoni. Di balik panggung dan perayaan itu tersimpan pesan yang jauh lebih besar, yakni bahwa masa depan Indonesia sesungguhnya sedang dipertaruhkan di sektor yang sering dianggap biasa: pertanian.
Pertanyaan mendasarnya sederhana. Apakah kita sungguh-sungguh memandang petani sebagai pilar strategis bangsa, atau masih menempatkan mereka sekadar sebagai pelengkap narasi pembangunan?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah Indonesia beberapa dekade ke depan.
Ketika Pangan Menjadi Instrumen Kekuatan
Jika abad ke-20 ditandai oleh perebutan wilayah, ideologi, dan sumber energi, maka abad ke-21 semakin memperlihatkan persaingan atas tiga hal yang jauh lebih mendasar: pangan, air, dan energi.
Perang di berbagai kawasan dunia telah mengganggu rantai pasok pangan global. Perubahan iklim mengubah pola musim yang selama ini menjadi pegangan para petani. Pertumbuhan penduduk meningkatkan kebutuhan pangan pada saat lahan pertanian justru terus menyusut.
Dalam situasi seperti itu, pangan tidak lagi dapat dipandang sebagai urusan sektor pertanian semata. Pangan telah menjadi bagian dari strategi negara.
Negara-negara besar memahami kenyataan ini. Mereka menginvestasikan dana yang sangat besar untuk penelitian benih unggul, teknologi irigasi, pertanian presisi, hingga cadangan pangan nasional. Mereka sadar bahwa kemampuan memberi makan rakyat sendiri merupakan salah satu ukuran nyata kedaulatan.
Tidak ada negara yang benar-benar merdeka apabila kebutuhan pangannya sepenuhnya bergantung kepada bangsa lain.
Indonesia memiliki anugerah yang luar biasa: tanah yang subur, iklim tropis, keanekaragaman hayati yang kaya, serta tradisi agraris yang mengakar kuat dalam sejarah bangsa. Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa keunggulan alam tidak otomatis melahirkan keunggulan nasional.
Kekuatan hanya lahir apabila potensi dikelola dengan visi, disiplin, dan keberlanjutan.
Dari Cangkul ke Algoritma
Dunia pertanian sedang mengalami perubahan yang mungkin sama besarnya dengan revolusi industri pada masa lalu.
Jika dahulu petani mengandalkan pengalaman membaca langit dan arah angin, kini mereka mulai memanfaatkan data satelit, sensor digital, kecerdasan buatan, dan sistem prediksi cuaca yang semakin akurat. Teknologi membantu menentukan kapan menanam, kapan memupuk, dan kapan memanen dengan tingkat presisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Inilah perubahan besar yang sedang berlangsung. Pertanian modern tidak lagi hanya berbicara tentang tanah dan air. Pertanian modern juga berbicara tentang data.
Karena itu, masa depan pertanian Indonesia tidak cukup hanya ditopang oleh cangkul. Ia juga membutuhkan algoritma.
Namun, kita perlu berhati-hati memahami transformasi ini. Tujuannya bukan menggantikan petani dengan teknologi. Sebaliknya, teknologi harus memperkuat kemampuan petani untuk menghadapi tantangan zaman.
Masalah terbesar kita sesungguhnya bukan kekurangan teknologi. Masalah terbesar kita adalah bagaimana memastikan teknologi tersebut benar-benar sampai ke sawah, kebun, dan ladang tempat petani bekerja.
Digitalisasi pertanian tidak boleh berhenti menjadi slogan yang indah dalam dokumen kebijakan. Ia harus hadir dalam bentuk yang nyata: penyuluhan yang berkualitas, akses informasi yang mudah, pembiayaan yang terjangkau, dan pasar yang memberikan kepastian.
Teknologi yang tidak menyentuh kehidupan petani hanya akan menjadi statistik pembangunan. Teknologi baru memiliki makna ketika mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan.
Petani di Garis Depan Kedaulatan
Ada satu kekeliruan cara pandang yang perlu segera diperbaiki.
Selama ini petani sering diposisikan sebagai kelompok yang membutuhkan bantuan. Padahal, dalam perspektif yang lebih luas, petani adalah bagian dari infrastruktur strategis negara.
Mereka tidak mengenakan seragam militer. Mereka tidak mengoperasikan sistem persenjataan canggih. Namun, hasil kerja merekalah yang menjaga stabilitas sosial, ekonomi, bahkan politik bangsa.
Ketika pangan tersedia, masyarakat tenang. Ketika harga terkendali, daya beli terjaga. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, stabilitas nasional memiliki fondasi yang kuat.
Sebaliknya, ketika pangan terganggu, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor sekaligus.
Karena itu, memperkuat petani bukanlah tindakan karitatif. Ia adalah keputusan strategis.
Prof. Yuwono Sudarsono pernah mengingatkan bahwa kekuatan nasional pada akhirnya bertumpu pada kualitas manusia. Dalam konteks pertanian, manusia itu adalah petani Indonesia. Mereka harus memperoleh akses terhadap pendidikan, teknologi, pasar, dan perlindungan usaha yang memadai.
Tanpa itu, pembicaraan mengenai ketahanan pangan hanya akan menjadi retorika.
Indonesia 2045 dan Tantangan Generasi Baru
Indonesia memiliki cita-cita besar menjadi negara maju pada tahun 2045.
Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang akan menjadi petani Indonesia pada saat itu?
Usia petani terus bertambah. Sementara itu, banyak generasi muda memilih meninggalkan sektor pertanian karena dianggap tidak menjanjikan.
Jika keadaan ini tidak berubah, tantangan terbesar Indonesia di masa depan bukanlah kekurangan lahan, melainkan kekurangan petani.
Karena itu, regenerasi petani harus menjadi agenda strategis nasional.
Generasi muda harus melihat pertanian sebagai sektor modern yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan kewirausahaan. Mereka harus diyakinkan bahwa bertani bukanlah pilihan terakhir, melainkan profesi terhormat yang menentukan masa depan bangsa.
Pekerjaan ini memang tidak mudah. Namun, sejarah selalu menunjukkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berpikir jauh melampaui satu periode pemerintahan.
Penutup
Pesta Petani di Gorontalo layak diapresiasi sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang selama ini bekerja dalam sunyi untuk memastikan pangan tetap tersedia bagi seluruh rakyat Indonesia.
Namun, penghormatan yang sesungguhnya tidak berhenti pada panggung, seremoni, atau tepuk tangan.
Penghormatan yang sesungguhnya adalah menghadirkan kebijakan yang membuat petani semakin produktif, semakin sejahtera, dan semakin dihormati.
Di tengah dunia yang berubah cepat, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar swasembada pangan. Indonesia membutuhkan visi besar tentang kedaulatan pangan.
Karena pada akhirnya, negara tidak hanya berdiri di atas konstitusi, institusi, dan kekuatan militer. Negara juga berdiri di atas sawah yang tetap menghasilkan, ladang yang tetap produktif, dan petani yang tetap memiliki harapan.
Bangsa yang menghormati petaninya sedang menjaga masa depannya.
Bangsa yang mengabaikan petaninya sedang mempertaruhkan kedaulatannya.
Dan di tengah berbagai perubahan zaman yang kita saksikan hari ini, mungkin sudah saatnya kita menyadari bahwa petani tidak berada di pinggir sejarah bangsa.
Mereka berada tepat di jantungnya. (***)
Jakarta, Juni 2026
*)Tulisan ini sebagai bentuk kecintaan penulis dan penghormatan kepada Pragram Doktor Ilmu Pertanian Unsoed – Purwokerto.