Oleh: Mayor Jenderal TNI (Purn.) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019
Pendahuluan
TULISAN ini lahir bukan dari ruang Dewan Keamanan PBB yang dulu saya kenal, melainkan dari Bandung, ribuan kilometer dari dentuman perang. Namun, getaran rudalnya tetap terasa. Sirene di Bahrain, Kuwait, dan Oman seolah masih terdengar hingga ke sini. Satu hal yang saya yakini, dunia sedang berjalan di tepi jurang.
Tiga kata di media sosial ternyata cukup untuk memulai kembali neraka. “Cease Fire is OVER!” tulis Donald Trump. Sejak saat itu, darah kembali mengalir di Teluk Persia.
Dari Gencatan Senjata ke Neraka yang Terbuka
Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 dengan serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang diklaim menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, sempat mereda.
Gencatan senjata pada April lalu memberi secercah harapan. Pakistan menjadi mediator, sementara nota kesepahaman ditandatangani di Islamabad pada Juni sebagai sebuah confidence-building measure, istilah yang sangat akrab di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Namun, harapan itu ternyata hanya ilusi. Dalam hitungan hari, kesepakatan tersebut runtuh.
Pada 7 Juli, pemerintah Amerika Serikat memberi tahu Kongres bahwa operasi militer akan dilanjutkan. Enam hari kemudian, Donald Trump mengumumkan blokade laut terhadap Iran. Sejak itulah Selat Hormuz, urat nadi energi dunia, berubah menjadi kawasan peperangan.
Hormuz: Nadi yang Dicekik
Saya pernah menulis bahwa Hormuz adalah nadi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global melewati selat sempit ini. Kini, nadi itu sedang dicekik.
Iran menutup Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Amerika Serikat membalas dengan kebijakan “blokade Iran” disertai usulan pungutan 20 persen terhadap setiap kapal yang melintas. Donald Trump bahkan menyebut dirinya sebagai “Penjaga Selat Hormuz”. Bagi saya, kondisi ini lebih tepat disebut sebagai penyanderaan ekonomi abad ke-21.
Dampaknya langsung terasa. Harga minyak Brent melonjak 4,3 persen menjadi 79,31 dolar AS per barel. Rupiah melemah hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS, sementara inflasi global diperkirakan meningkat. Dalam hitungan minggu, masyarakat Indonesia akan merasakan dampaknya melalui kenaikan harga bahan bakar maupun kebutuhan pokok.
Ini bukan semata strategi militer. Ini adalah teror ekonomi, dan yang menjadi sandera bukan hanya negara-negara yang bertikai, melainkan sekitar delapan miliar penduduk dunia yang tidak pernah menekan tombol peluncur rudal.
Api yang Menjalar ke Seluruh Kawasan
Yang paling mengkhawatirkan, perang ini tidak lagi mengenal batas wilayah.
Iran membalas serangan Amerika Serikat dengan menghantam sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk. Pangkalan Udara Pangeran Hassan di Yordania dilaporkan terbakar.
Instalasi militer Amerika di Bahrain, Kuwait, dan Qatar menjadi sasaran, sementara sistem radar di Oman rusak. Kapal-kapal tanker milik Uni Emirat Arab dan Bahrain juga dilaporkan terkena rudal jelajah Iran.
Situasi semakin memburuk ketika Yaman ikut terseret.
Kelompok Houthi yang didukung Iran menuduh Arab Saudi menyerang Bandara Internasional Sanaa. Sebagai balasan, mereka meluncurkan rudal dan drone ke Bandara Abha di Arab Saudi. Gencatan senjata yang telah bertahan selama empat tahun antara Arab Saudi dan Houthi pun runtuh hanya dalam sehari.
Konflik ini bukan lagi perang antara dua negara. Kawasan Timur Tengah perlahan berubah menjadi medan kebakaran besar yang menyeret Qatar, Bahrain, Kuwait, Yordania, Oman, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan negara-negara lainnya.
Ambang Perang Dunia
Profesor Jiang dalam berbagai kesempatan menyatakan bahwa Perang Dunia III berada di ambang pecah. Saya tidak memandang pernyataan itu sebagai ramalan, melainkan sebagai peringatan dari seseorang yang memahami pola sejarah.
Pandangan serupa juga disampaikan Jeffrey D. Sachs, profesor di Columbia University sekaligus mantan penasihat khusus bagi tiga Sekretaris Jenderal PBB. Ia memperingatkan bahwa perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi berkembang menjadi konflik global.
Menurutnya, perang tersebut merupakan bentuk “imperialisme yang telanjang” dan dapat memicu resesi ekonomi dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Analis dari Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) pun menilai tindakan Amerika Serikat dan Israel berpotensi menyeret dunia ke arah Perang Dunia III.
Sejarah menunjukkan bahwa perang besar abad ke-21 kemungkinan tidak akan diawali dengan deklarasi resmi. Ia berkembang perlahan: satu serangan dibalas serangan berikutnya, disusul blokade, kemudian semakin banyak negara terseret. Sebelum dunia menyadarinya, api telah membakar semua pihak.
PBB: Istana yang Bangkrut
Saya pernah duduk di koridor Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya pernah begadang merumuskan kalimat demi mencegah perang. Saya percaya pada Piagam PBB, terutama Pasal 2 Ayat (4) yang melarang penggunaan kekuatan terhadap kedaulatan negara lain.
Namun hari ini, keyakinan itu diuji.
Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, menurut pandangan saya, merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip tersebut. Sayangnya, Dewan Keamanan PBB kembali lumpuh. Hak veto tidak lagi menjadi alat menjaga perdamaian, melainkan sering dipandang sebagai instrumen melindungi kepentingan negara-negara besar.
Di lobi PBB tertulis kalimat, “To save succeeding generations from the scourge of war.” Hari ini, kalimat itu terasa ironis.
PBB bukan sekadar gagal menjalankan fungsinya. Dalam pandangan saya, organisasi itu sedang dilemahkan oleh para anggotanya sendiri.
Indonesia: Cukup Jadi Penonton?
Masih ada yang berkata, “Ini bukan urusan kita.”
Bagi saya, anggapan itu justru berbahaya.
Ketika harga minyak melonjak, anggaran negara ikut tertekan. Ketika jalur pelayaran terganggu, ekspor Indonesia ikut terdampak. Ketika inflasi global meningkat, masyarakat kecil menjadi pihak pertama yang merasakan beban.
Indonesia telah menawarkan diri sebagai mediator. Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan untuk berkunjung ke Teheran guna memfasilitasi dialog. Kesempatan itu masih terbuka.
Namun, tawaran saja tidak cukup. Indonesia perlu memperkuat langkah diplomasi, mengirim utusan khusus ke Teheran, Washington, dan Tel Aviv, memanfaatkan forum G20 untuk mendorong penghentian perang, serta mengoptimalkan diplomasi maritim demi menjaga kebebasan pelayaran internasional.
Diam pada hari ini dapat berarti membiarkan lebih banyak korban berjatuhan pada hari esok.
Penutup
Saya telah melihat mayat di medan konflik. Saya telah menyaksikan anak-anak kehilangan ayahnya. Saya tahu seperti apa wajah perang yang sesungguhnya.
Menyatakan perang sangat mudah. Hanya perlu beberapa detik untuk menekan tombol peluncur rudal atau menulis beberapa kata di media sosial.
Sebaliknya, membangun perdamaian membutuhkan waktu bertahun-tahun. Ia menuntut pengorbanan, air mata, serta upaya panjang untuk memulihkan kepercayaan yang telah hancur.
Jika dunia terus membiarkan hukum internasional diinjak dan jalur-jalur vital perdagangan dijadikan sandera, maka sepuluh tahun dari sekarang kita mungkin akan menulis kisah yang sama.
Dunia tidak membutuhkan lebih banyak pahlawan perang. Dunia membutuhkan lebih banyak pembangun jembatan perdamaian. Saya telah menyaksikan sendiri apa yang terjadi ketika jembatan itu tidak dibangun, dan saya tidak ingin menyaksikannya lagi.
Jika bukan kita, lalu siapa? (*)
Bandung, Juli 2026