Oleh: Mayor Jenderal TNI (Purn.) Fulad S.Sos, M.Si
Penasehat Militer Republik Indonesia untuk PBB (2017–2019)
Pendahuluan
Dunia sedang melahirkan tatanan baru di depan mata kita. Dan yang membuat saya gerah, sebagian elite kita masih tidur nyenyak.
Pada 1 Mei 2026, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memerintahkan penarikan 5.000 personel tempur dari Jerman. Ini bukan kebijakan teknis, melainkan sinyal bahwa Amerika Serikat di bawah Trump sedang meninggalkan perannya sebagai polisi dunia.
Bersamaan dengan itu, Selat Hormuz yang mengalirkan 20 persen minyak global masih dalam status blokade tidak resmi pasca serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Dua peristiwa ini, di Jerman dan Hormuz, adalah dua ujung pisau yang sama: dunia multipolar sedang dipaksakan lahir, dengan atau tanpa persetujuan kita. Pertanyaan saya: Indonesia mau jadi apa?
Fakta di Jerman – Sekutu Ditinggal
AS saat ini memiliki sekitar 35.000 personel militer di Jerman. Markas Komando Eropa dan Komando Afrika AS bermarkas di Stuttgart. Pangkalan Udara Ramstein adalah jantung logistik NATO. Dan sekarang, 5.000 orang akan ditarik.
Dalam bahasa militer, itu satu brigade penuh. Dalam bahasa geopolitik, itu pesan keras: Eropa, urus dirimu sendiri.
Kanselir Jerman Friedrich Merz baru saja mengkritik AS karena tidak memiliki strategi dalam perang Iran. Trump membalas dengan murka di Truth Social, lalu perintah penarikan keluar. Celakanya, ini terjadi saat Eropa sedang diliputi kekhawatiran. Mereka menggelontorkan 800 miliar euro untuk pertahanan mandiri, tanda bahwa mereka tidak lagi percaya pada payung keamanan AS.
Kalau sekutu sekelas Jerman bisa ditinggalkan, apa jaminan AS akan datang membantu kita jika terjadi konflik di Laut Natuna Utara? Jawabannya: tidak ada.
Fakta di Hormuz – Perang Ditangguhkan, Bukan Selesai
Jangan tertipu dengan kata “gencatan senjata”. Serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 dilancarkan di tengah proses negosiasi. Iran sudah tidak percaya lagi. Trump mengaku tidak puas dengan proposal Iran, sementara para pemimpin Iran menyebut AS sebagai bajak laut.
Harga minyak mentah Brent masih di atas 100 dolar AS per barel. Selat Hormuz belum aman. Pada 2 Mei 2026, Israel melancarkan serangan ke Lebanon selatan yang menewaskan 12 orang.
Artinya, poros perlawanan terhadap Iran masih panas. Gencatan senjata hanyalah ilusi. Perang hanya ditunda.
Sementara itu, pada 29 April 2026, Putin dan Trump berbincang melalui telepon selama 1,5 jam. Putin mendukung gencatan senjata, tetapi menegaskan bahwa jika AS-Israel kembali menggunakan kekuatan, dampaknya akan buruk bagi semua pihak. China tidak banyak bicara, tetapi sibuk memperkuat posisi yuan sebagai mata uang cadangan global. Jepang dan Korea Selatan mulai mendekati China dan Rusia untuk mengamankan energi mereka.
AS di bawah Trump adalah Amerika yang transaksional. Mereka bertahan jika ada keuntungan, dan pergi jika tidak. Itu bukan sekutu, melainkan mitra bisnis bersenjata.
Indonesia mengimpor hampir 500.000 barel minyak per hari. Jika Hormuz benar-benar ditutup, harga BBM di negeri ini akan melonjak. Inflasi akan lebih dulu menghantam rakyat kecil. Semua ini saling terhubung. Tidak ada wasit, tidak ada polisi.
Kritik Konstruktif: Indonesia Harus Bertindak
Saya paham kemampuan militer kita. TNI tidak akan pernah menandingi AS atau China secara konvensional. Namun, kekuatan Indonesia tidak pernah diukur dari jumlah jet tempur.
Kekuatan Indonesia adalah, pertama, posisi geografis di antara dua samudra dan dua benua. Kedua, kekuatan diplomatik sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar sekaligus demokrasi ketiga terbesar di dunia. Ketiga, netralitas bersejarah sejak Konferensi Asia-Afrika 1955.
Itu adalah aset yang tidak dimiliki Brasil, Turki, bahkan India.
Namun, aset tersebut tidak akan berarti jika kita hanya berbicara di PBB. Yang saya maksud konkret adalah:
Pertama, memimpin poros negara-negara kekuatan menengah seperti Indonesia, Brasil, Nigeria, Turki, dan Arab Saudi sebagai penyeimbang yang tidak berpihak kepada AS, China, atau Rusia.
Kedua, mengusulkan mekanisme de-eskalasi permanen untuk Selat Hormuz di bawah payung OKI dan ASEAN.
Ketiga, mempercepat diversifikasi energi agar harga minyak dunia tidak lagi menjadi sandera konflik Timur Tengah.
Itu realistis dan bisa dilakukan. Yang kurang hanya nyali politik.
Penutup
Saya tidak sedang mengancam. Itu bukan tipe seorang pensiunan jenderal. Saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat dan rasakan dari kursi di Dewan Keamanan PBB selama dua tahun.
Dunia sedang melahirkan tatanan multipolar. AS menarik pasukan dari Jerman, Hormuz membara, Eropa diliputi kekhawatiran, Rusia kembali menjadi aktor utama, dan China tersenyum dari kejauhan.
Lalu Indonesia? Kita masih duduk manis di pinggir lapangan, mencatat skor, lalu pulang tanpa berkeringat.
Saya tidak ingin cucu saya kelak bertanya, “Kakek, ketika dunia berubah, apa yang dilakukan Indonesia?”
Dan saya harus menjawab, “Kita hanya menonton, Nak.” Saya tidak rela.
Para pemimpin bangsa, bangun. Dunia tidak lagi ramah bagi mereka yang hanya diam.
Kita punya hak untuk menjadi aktor, bukan penonton.
Selamat tinggal era unipolar. Selamat datang era multipolar. Dan selamat bertindak, Indonesia.
Cisaranten – Arcamanik, Bandung, 2 Mei 2026